<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Bismillah</title>
	<atom:link href="http://muhtono.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muhtono.wordpress.com</link>
	<description>Hidup Penuh Kemanfaatan, Menjadi Sebaik-baiknya Insan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Jan 2012 12:01:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='muhtono.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/6add5950a370ac38f354a66a2e8b9152?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Bismillah</title>
		<link>http://muhtono.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://muhtono.wordpress.com/osd.xml" title="Bismillah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://muhtono.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Lebih Penting Khilafah ataukah Dakwah Tauhid?</title>
		<link>http://muhtono.wordpress.com/2010/08/09/lebih-penting-khilafah-ataukah-dakwah-tauhid/</link>
		<comments>http://muhtono.wordpress.com/2010/08/09/lebih-penting-khilafah-ataukah-dakwah-tauhid/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Aug 2010 09:14:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[akidah]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhtono.wordpress.com/?p=465</guid>
		<description><![CDATA[Boleh jadi, banyak orang beranggapan bahwa masalah tauhid itu penting dan utama, bahkan wajib. Anggapan ini seratus persen benar. Namun, karena dalam kacamata sebagian orang, tauhid itu -meskipun penting dan utama, bahkan wajib- sempit cakupannya atau ‘terlalu’ mudah untuk direalisasikan -dan bahkan menurut mereka praktek dan pemahaman tauhid pada diri masyarakat  sudah beres semuanya- maka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhtono.wordpress.com&amp;blog=12678997&amp;post=465&amp;subd=muhtono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Boleh jadi, banyak orang beranggapan bahwa masalah tauhid itu penting   dan utama, bahkan wajib. Anggapan ini seratus persen benar. Namun,   karena dalam kacamata sebagian orang, tauhid itu -meskipun penting dan   utama, bahkan wajib- sempit cakupannya atau ‘terlalu’ mudah untuk   direalisasikan -dan bahkan menurut mereka praktek dan pemahaman tauhid   pada diri masyarakat  sudah beres semuanya- maka akhirnya banyak di   antara mereka yang meremehkan atau bahkan melecehkan da’i-da’i yang   senantiasa mendengung-dengungkannya.</p>
<p>Terkadang muncul celetukan di antara mereka, <em>“Kalian ini  ketinggalan jaman, hari gini masih bicara tauhid?”</em>. Atau yang lebih  halus lagi berkata, <em>“Agenda  kita sekarang bukan lagi masalah TBC  -takhayul, bid’ah dan churafat-,  sekarang kita harus lebih perhatian  terhadap agenda kemanusiaan.”</em> Atau yang lebih cerdik lagi berkata, <em>“Kalau   kita meributkan masalah aqidah umat itu artinya kita su’udzan kepada   sesama muslim, padahal su’udzan itu dosa! Jangan kalian usik mereka,   yang penting kita bersatu dalam satu barisan demi tegaknya khilafah!”</em>.  <em>Allahul musta’aan</em>…</p>
<p><strong>Sampai Kapan Kita Bicara Tauhid?</strong></p>
<p>Tauhid adalah agenda terbesar umat Islam di sepanjang zaman. Sebab   tauhid adalah hikmah penciptaan, tujuan hidup setiap insan, misi dakwah   para nabi dan rasul, dan muatan kitab-kitab suci yang Allah turunkan.   Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Aku  ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”</em> (<strong>QS. adz-Dzariyat: 56</strong>). Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Yang menciptakan kematian dan kehidupan,  untuk menguji kalian siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya.”</em> (<strong>QS. al-Mulk: 2</strong>). Allah <em>ta’ala</em> berfirman  (yang artinya), <em>“Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat  seorang rasul -yang menyeru-; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 36</strong>). Allah <em>ta’ala</em> berfirman  (yang artinya), <em>“Tidaklah  Kami utus sebelum kamu -hai Muhammad-  seorang rasul pun melainkan Kami  wahyukan kepada mereka, bahwasanya  tidak ada sesembahan -yang benar-  kecuali Aku, maka sembahlah Aku saja.”</em> (<strong>QS. al-Anbiya’: 25</strong>)</p>
<p>Bahkan, tauhid adalah syarat pokok diterimanya amalan. Allah t<em>a’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka  barangsiapa yang mengharapkan  perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia  melakukan amal salih dan  janganlah mempersekutukan dalam beribadah  kepada Rabbnya dengan sesuatu  apapun.”</em> (<strong>QS. al-Kahfi: 110</strong>). Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh,  apabila kamu berbuat syirik  maka benar-benar semua amalanmu akan  terhapus, dan kamu pasti akan  termasuk golongan orang-orang yang  merugi.”</em> (<strong>QS. az-Zumar:  65</strong>). Lebih daripada itu,  kemusyrikan -sebagai lawan dari  tauhid- menjadi sebab seorang hamba  terhalang  masuk surga untuk  selama-lamanya. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya   barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah haramkan   atasnya surga dan tempat kembalinya adalah neraka, dan sama sekali tidak   ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.”</em> (<strong>QS.  al-Maa’idah: 72</strong>). Allah <em>ta’ala</em> juga berfirman (yang  artinya), <em>“Katakanlah;  Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup  dan matiku, seluruhnya  adalah untuk Allah Rabb seluruh alam, tiada  sekutu bagi-Nya, dan dengan  itulah aku diperintahkan, dan aku adalah  orang yang pertama kali  pasrah.”</em> (<strong>QS. al-An’aam: 162-163</strong>).</p>
<p>Oleh sebab itu, berbicara masalah tauhid berarti berbicara mengenai   hidup matinya kaum muslimin dan keselamatan mereka di dunia maupun di   akherat. Berbicara masalah tauhid adalah berbicara tentang tugas mereka   sepanjang hayat masih dikandung badan. Allah <em>ta’ala</em> berfirman  (yang artinya), <em>“Sembahlah Rabbmu sampai datang kematian.”</em> (<strong>QS.  al-Hijr: 99</strong>). Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mempersekutukan  Allah dengan sesuatu apapun, dia pasti masuk neraka.”</em> (<strong>HR.  Bukhari dan Muslim</strong> dari Abdullah bin Mas’ud <em>radhiyallahu’anhu</em>).  Maka dengan alasan apakah agenda yang sangat besar ini dikesampingkan?</p>
<p><span id="more-465"></span><strong>Kami Berjuang Demi Membela Hak-Hak Manusia!</strong></p>
<p>Seruan semacam ini sering kita dengar. Dan banyak sekali kalangan   yang tertipu dan terbius dengannya, sampai-sampai sebagian aktifis   gerakan dakwah pun termakan oleh slogan ini. Padahal, di balik slogan   -yang terdengar merdu ini- tersimpan rencana jahat Iblis dan bala   tentaranya untuk menjauhkan manusia dari jalan Allah <em>ta’ala</em>,  yaitu jalan tauhid. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah;   Inilah jalanku, aku menyeru menuju Allah, di atas landasan   bashirah/ilmu, inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku…”</em> (<strong>QS. Yusuf: 108</strong>).</p>
<p>Hak-hak manusia sedemikian agung dalam pandangan mereka. Mereka benci   dan murka apabila hak-hak manusia dihinakan dan diinjak-injak oleh   sesamanya. Mereka pun bangkit dengan mengatasnamakan pejuang hak azasi   manusia, pembela rakyat kecil, pembela kaum tertindas, dan   gelaran-gelaran ‘keren’ lainnya. Orang-orang pun merasa tertuntut untuk   mendukung mereka, karena mereka khawatir disebut tidak punya kepedulian   terhadap sesama. Dan yang lebih busuk lagi, kalau ada yang  menjadikannya  sebagai sarana untuk meraih ambisi kekuasaan belaka!</p>
<p>Padahal, hak-hak manusia -sebesar apapun jasanya, semulia apapun   kedudukannya- tetap saja masih lebih rendah apabila dibandingkan dengan   hak Allah <em>ta’ala</em>, Rabb yang menciptakan dan mengatur jagad  raya. Oleh sebab itu, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mewasiatkan agar dakwah tauhid didahulukan sebelum ajakan-ajakan yang  lainnya. Beliau  bersabda, <em>“Hendaklah yang pertama kali kamu serukan  kepada mereka yaitu supaya mereka mentauhidkan Allah.”</em> (<strong>HR.  Bukhari dan Muslim</strong> dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu’anhuma</em>).  Demikian pula beliau mengajarkan kepada kita, <em>“Hak Allah atas hamba  adalah hendaknya mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya  dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari Mu’adz bin Jabal <em>radhiyallahu’anhu</em>). Namun, jangan  disalahpahami bahwa ini berarti kita meremehkan hak-hak manusia, sama  sekali tidak!</p>
<p><strong>Jangan Bicara Masalah Bid’ah!</strong></p>
<p>Ungkapan semacam ini pun sering terlontar. Dalam persepsi mereka,   bid’ah itu adalah masalah sensitif yang tidak perlu diungkit-ungkit.   Mengapa demikian? Karena dengan memperingatkan umat dari bahaya bid’ah   dan menjelaskan amalan-amalan serta keyakinan-keyakinan yang bid’ah akan   menyebabkan timbulnya konflik internal di dalam tubuh kaum muslimin,   dan menurut ‘hemat mereka’ hal itu  akan melemahkan kekuatan kaum   muslimin dan memecah belah persatuan mereka. Sepintas, sepertinya ini   adalah alasan yang masuk akal dan bisa diterima… Namun, jangan   terburu-buru! Karena ternyata cara berpikir semacam ini tidak dibenarkan   oleh agama.</p>
<p>Sebelumnya, kita yakini bersama bahwa bid’ah adalah tercela dan   sesat. Allah tidak menerima ibadah yang dilakukan namun tidak ada   tuntunannya alias diada-adakan. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak  ada tuntunannya dari kami maka ia tertolak.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dari Aisyah <em>radhiyallahu’anha</em>). Sebagian ulama salaf juga  berkata, <em>“Bid’ah  lebih disukai Iblis daripada maksiat. Karena  maksiat masih ada  kemungkinan diharapkan taubat darinya. Adapun bid’ah,  maka sulit  diharapkan taubat darinya.”</em> Selain itu, sebagaimana kita  yakini  pula bahwa dalam berdakwah kita harus bersikap bijak, tidak  boleh  serampangan atau asal-asalan. Bahkan, sikap bijak/hikmah merupakan   pilar dalam dakwah. Namun, bersikap bijak bukan dengan cara membiarkan   kemungkaran merajalela tanpa pengingkaran kepadanya.</p>
<p>Tatkala bid’ah menjadi penghalang diterimanya amalan, bahkan ia   termasuk kategori dosa dan kemungkaran, maka sudah sewajarnya seorang   da’i memperingatkan bahayanya dan menjelaskannya kepada umat.   Sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.   Di setiap khutbah Jum’at beliau selalu memperingatkan umat dari bahaya   bid’ah dan mengingatkan mereka bahwa setiap bid’ah adalah kesesatan  yang  berujung kepada kehancuran, sebagaimana yang tertera di dalam <em>khutbatul  hajah</em> di setiap awal ceramah. Oleh sebab itu para ulama menganggap  bahwa  orang yang membantah ahlul bid’ah adalah termasuk golongan  mujahid!</p>
<p>Tidakkah anda ingat bagaimana sahabat Ibnu Umar <em>radhiyallahu’anhuma</em> dengan ilmu sunnah yang dimilikinya dengan tegas membantah dan berlepas   diri dari bid’ah Qadariyah yang muncul di masanya? Demikian pula para   ulama salaf lainnya seperti Imam Ahmad bin Hanbal <em>rahimahullah</em> yang dengan tegar mempertahankan aqidah al-Qur’an <em>kalamullah</em> dan bukan makhluk, dan masih banyak ulama lain yang melakukan  perjuangan  serupa seperti mereka berdua dengan segala resiko yang harus  mereka  tanggung di jalan dakwah ini. Maka apabila kita telah  mengetahui itu  semua, jelaslah bagi kita bahwa seorang da’i yang tidak  menempuh jalan  ini -memperingatkan umat dari bahaya bid’ah- itu  maknanya dia telah  berkhianat terhadap amanah dakwah. Karena  ‘pengkhianatannya’ itulah  statusnya akan berubah dari seorang da’i <em>ilallah</em> -orang yang  mengajak kepada Allah- menjadi da’i <em>ila</em> <em>ghairillah</em> -orang yang mengajak kepada selain Allah-! <em>Nas’alullahas salamah</em></p>
<p><strong>Jangan Merasa Paling Benar!</strong></p>
<p>Sebagian orang ketika ditegur dan diingatkan untuk meninggalkan atau   menjauhi perkara-perkara yang menyimpang dari agama -karena  bertentangan  dengan al-Qur’an ataupun as-Sunnah- dengan ringannya  mengucapkan  perkataan semacam itu. Entah penyimpangan itu terkait  dengan aqidah,  ibadah, ataupun masalah yang lainnya. Entah itu termasuk  dalam kategori  syirik, kekafiran, kebid’ahan ataupun kemaksiatan yang  lainnya. Belum  lagi, jika orang tersebut memiliki sedikit ‘ilmu’ dan  wawasan, maka  dengan sigapnya dia akan ‘memperkosa’ dalil demi  melanggengkan  tindakannya yang keliru. Keras kepala, itulah sifat yang  melekat dalam  dirinya. Kalau dicermati lebih dalam, justru ternyata  sikapnya yang  tidak mau menerima nasehat dan teguran itu merupakan  bentuk kesombongan  dan ekspresi perasaan diri yang paling benar [!], <em>Wal ‘iyadzu billah</em>…</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Kemudian apabila   kalian berselisih tentang suatu perkara maka kembalikanlah kepada  Allah  dan rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari   akhir…”</em> (<strong>QS. an-Nisaa’: 59</strong>). Allah <em>ta’ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Demi  Rabbmu, sekali-kali mereka  tidak beriman sampai mereka mau menjadikan  kamu -Muhammad- sebagai hakim  atas segala perkara yang mereka  perselisihkan, lalu mereka tidak  mendapati rasa sempit dalam hati  mereka terhadap keputusan yang kamu  berikan, dan mereka pun pasrah  sepenuhnya.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa’:  65</strong>). Allah <em>ta’ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah   pantas bagi seorang mukmin lelaki maupun perempuan, apabila Allah dan   rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara lantas masih ada bagi mereka   pilihan yang lain dalam urusan mereka itu. Barangsiapa yang durhaka   kepada Allah dan rasul-Nya sesungguhnya dia telah tersesat dengan   kesesatan yang amat nyata.”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 36</strong>).  Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah dia  -Muhammad- itu berbicara melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.”</em> (<strong>QS. an-Najm: 3-4</strong>). Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi  wa sallam</em> bersabda, <em>“Agama adalah nasehat, untuk Allah,  Kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan untuk rakyatnya.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong> dari Tamim bin Aus ad-Dari <em>radhiyallahu’anhu</em>).</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Tauhid Sudah Ada di Dada-Dada Manusia!</strong></p>
<p>Sebagian orang mengucapkan perkataan semacam ini, sehingga secara   sadar ataupun tidak dia telah menjauhkan manusia dari dakwah tauhid.   Berangkat dari asumsi yang salah itulah maka mereka tidak lagi   memberikan porsi besar bagi dakwah tauhid. Mereka pun beralih ke kancah   perpolitikan ala Yahudi dan menyibukkan diri dengan sesuatu yang   menyeret mereka dalam kehinaan. Apabila dikaji sebabnya, maka hanya ada   dua kesimpulan; mungkin karena ketidaktahuannya sehingga dengan  mudahnya  dia berkata demikian, atau karena dia mengetahui kebenaran  namun  sengaja berpaling darinya. Dan keduanya ini apabila menimpa  seorang yang  digelari sebagai da’i, ustadz ataupun <em>murabbi</em> merupakan  realita yang sangat pahit sekali. Oleh sebab itu, kita perlu  meluruskannya.</p>
<p>Sebagaimana kita ketahui bahwa tauhid bukan sekedar ucapan <em>la  ilaha illallah</em> yang tidak diiringi dengan konsekuensinya.  Orang-orang munafikin di masa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengucapkan <em>la ilaha illallah</em>,  akan tetapi mereka divonis akan  menempati kerak neraka yang paling  bawah. Hal itu tidak lain karena  mereka tidak jujur dalam  mengucapkannya. Tauhid juga bukanlah sekedar  keyakinan bahwa Allah  sebagai satu-satunya pencipta, penguasa dan  pemelihara alam semesta,  yang menghidupkan dan mematikan serta yang  melimpahkan rezki, bukan itu  saja! Sebab apabila memang itu tauhid yang  dimaksud oleh dakwah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> niscaya  beliau tidak perlu mengobarkan peperangan kepada kaum kuffar Quraisy  yang telah mengimani perkara-perkara itu.</p>
<p><strong>Jangan Runtuhkan Persatuan!</strong></p>
<p>Apabila para da’i berbicara tentang tauhid dan membantah berbagai   macam bentuk kemusyrikan yang ada serta menjelaskan sunnah dan   membongkar berbagai macam bentuk bid’ah yang merajalela, maka bangkitlah   sebagian orang dengan semangat bak pahlawan seraya berteriak, <em>“Mengapa  kalian sibukkan umat dengan urusan semacam ini? Umat akan terpecah  belah akibat dakwah kalian.” </em>Inilah  komentar-komentar sinis yang  mereka lontarkan. Padahal, kita telah  mengetahui bersama bahwa persatuan  kaum muslimin yang hakiki -yang  dengannya mereka akan selamat di  hadapan Rabbnya- adalah persatuan di  atas tauhid dan sunnah, bukan  persatuan di atas syirik dan bid’ah!  Orang-orang yang gemar menebar  syirik dan bid’ah -dengan dipoles  berbagai macam hiasan- maka mereka  itulah sesungguhnya gerombolan  pemecah belah dan pengacau persatuan!</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang   menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan dia mengikuti  jalan  selain orang-orang yang beriman maka niscaya Kami akan biarkan  dia  terombang-ambing di atas kesesatan yang dipilihnya, dan Kami akan   memasukkan dia ke dalam neraka Jahannam, dan sungguh Jahannam itu adalah   seburuk-buruk tempat kembali.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa’: 115</strong>).  Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Pada  hari itu  -kiamat- tidak akan bermanfaat harta dan keturunan, melainkan  bagi  orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.”</em> (<strong>QS.  asy-Syu’ara: 88-89</strong>). Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang  artinya), <em>“Pada  hari itu -kiamat- orang-orang yang -dahulu ketika di  dunia- saling  berkasih sayang berubah menjadi saling memusuhi, kecuali  orang-orang  yang bertakwa.”</em> (<strong>QS. az-Zukhruf: 67</strong>).  Allah <em>ta’ala</em> juga berfirman mengenai seruan Nabi ‘Isa <em>‘alaihis  salam</em> kepada kaumnya (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah,  Dialah Rabbku dan Rabb kalian, maka sembahlah Dia -saja-. Inilah jalan  yang lurus.”</em> (<strong>QS. az-Zukhruf: 64</strong>). Allah <em>ta’ala</em> berfirman tentang dakwah Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (yang artinya), <em>“Sesungguhnya  inilah jalanku yang lurus, maka  ikutilah ia dan janganlah kalian  mengikuti jalan-jalan yang lain itu,  karena hal itu akan  mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Itulah yang  Dia perintahkan  kepada kalian mudah-mudahan kalian bertakwa.”</em> (<strong>QS.  al-An’aam: 153</strong>)       <em> </em></p>
<p><strong>Khilafah, Itu Solusinya!</strong></p>
<p>Sebagian gerakan Islam yang telah kehilangan arah dan lalai dari misi   dakwah para rasul sangat getol mendengung-dengungkan slogan ini.   Menurut mereka, tanpa khilafah berarti tiada syari’ah. Tanpa khilafah,   kaum muslimin tidak bisa berbuat apa-apa. Maka jadilah khilafah sebagai   target perjuangan dan misi utama dakwah mereka. Tidak ada satupun   problema di masyarakat atau negara melainkan  mereka sangkut-sangkutkan   dengan khilafah dan politik kekuasaan. Mereka menuding para da’i tauhid   sebagai da’i kampungan yang tidak bisa bicara kecuali masalah-masalah   sepele. Tidak bisa mengatasi masalah bangsa, tidak punya visi ke depan   demi kejayaan umat, dan lain sebagainya.</p>
<p>Padahal, kita semua tahu bahwa bangunan umat ini tidak akan tegak dan   kokoh kecuali di atas aqidah yang kuat dan murni. Seorang muslim  dengan  aqidah yang kokoh akan dengan sukarela menerapkan syari’ah dalam   kehidupannya sekuat kemampuannya, meskipun misalnya ternyata khilafah   belum mampu mereka wujudkan karena kondisi umat yang masih berlumuran   dengan kotoran-kotoran keyakinan dan bid’ah yang sedemikian luas   menjangkiti anak bangsa dan diwariskan secara turun temurun dari   generasi ke generasi dan melindas lembaran sejarah sedemikian lama.</p>
<p>Perubahan ini membutuhkan proses yang bertahap, tidak bisa terjadi   secara tiba-tiba seperti membalikkan telapak tangan begitu saja. Hal ini   dapat kita saksikan dalam individu-individu kaum muslimin. Yang mana   perubahan menjadi baik itu memerlukan proses dan tahap yang tidak   sebentar. Nah, bagaimana lagi dengan sekelompok orang yang memiliki   beragam problema, sebuah negara, apalagi kumpulan negara dengan jutaan   masalah yang menghimpit warga negara mereka masing-masing? Tentu   merubahnya tidak cukup dengan teriakan dan slogan semata. Kembali kepada   syari’ah tidak seratus persen bergantung pada khilafah. Betapa banyak   syari’at yang bisa diterapkan oleh seorang individu umat ini, sebuah   keluarga atau sekumpulan orang tanpa perlu menunggu tegaknya khilafah.   Tidak ada yang salah dalam merindukan khilafah, akan tetapi tatkala   khilafah menjadi tujuan dan cita-cita dakwah maka silahkan anda jawab   sendiri pertanyaan ini; Apakah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> berdakwah dengan tujuan mendirikan khilafah, ataukah  menegakkan tauhid?</p>
<p>Dari situlah perlu kita camkan wahai saudaraku, bahwa tidak akan   berhasil upaya apapun yang ditempuh oleh gerakan mana saja selama mereka   lebih memilih jalannya sendiri dan tidak mau mengikuti jejak para   pendahulu mereka. Imam Malik <em>rahimahullah</em> telah mengingatkan, <em>“Tidak  akan baik urusan akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah  memperbaiki generasi awalnya.”</em><em> </em>Imam Syafi’i <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Kaum  muslimin telah sepakat bahwa barangsiapa yang telah  jelas baginya  sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tidak  halal  baginya meninggalkan hal itu gara-gara mengikuti pendapat  seseorang.”</em> Abdullah bin Mas’ud <em>radhiyallahu’anhu</em> berkata,  <em>“Ikutilah tuntunan dan jangan membuat ajaran-ajaran baru, karena  sesungguhnya kalian telah dicukupkan.”</em> Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya  Allah akan mengangkat  kedudukan sebagian kaum dengan sebab Kitab ini  -al-Qur’an- dan akan  menghinakan sebagian kaum yang lain dengan sebab  Kitab ini pula.”</em> (<strong>HR.  Muslim</strong> dari Umar bin Khattab <em>radhiyallahu’anhu</em>).  Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah  tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada  pada diri mereka sendiri.”</em> (<strong>QS. ar-Ra’d: 11</strong>).</p>
<p>Sungguh benar ucapan Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu’anhu</em>, <em>“Betapa  banyak orang yang menghendaki kebaikan namun tidak berhasil  mendapatkannya.” </em>Betapa  banyak orang yang mengira dirinya pejuang  Islam, mujahid dakwah, da’i  kebenaran, namun ternyata mereka salah jalan  dan justru menjadi musuh  Islam dari dalam. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah;  Maukah kuberitakan kepada  kalian mengenai orang-orang yang paling  merugi amalnya; yaitu  orang-orang yang sia-sia usahanya di dalam  kehidupan dunia akan tetapi  mereka mengira bahwa mereka telah melakukan  kebaikan yang  sebaik-baiknya.”</em> (<strong>QS. al-Kahfi: 103-104</strong>)</p>
<p>Saudaraku, betapa banyak rumah yang roboh bukan karena tiupan angin   kencang ataupun terpaan banjir bandang. Akan tetapi ia roboh karena   pondasinya yang tidak kokoh, karena pilar-pilarnya yang begitu lemah,   tidak kuat menopang dinding dan atap serta barang-barang berat yang ada   di dalamnya, sehingga tatkala getaran kecil gempa menyapa maka luluh   lantaklah seluruh sendi-sendinya dan runtuhlah rumah itu menimpa   pemiliknya! Maka demikianlah perumpamaan orang-orang yang mengimpikan   kekuasaan dan khilafah namun menyingkirkan agenda terbesar umat Islam   yang sesungguhnya. Jadi, sepenting apakah tauhid itu? Kini anda telah   bisa menjawabnya.</p>
<p>Penulis: <a href="http://abumushlih.com/">Abu Mushlih Ari Wahyudi</a></p>
<p>Sumber : <a href="www.muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhtono.wordpress.com/465/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhtono.wordpress.com/465/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhtono.wordpress.com/465/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhtono.wordpress.com/465/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhtono.wordpress.com/465/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhtono.wordpress.com/465/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhtono.wordpress.com/465/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhtono.wordpress.com/465/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhtono.wordpress.com/465/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhtono.wordpress.com/465/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhtono.wordpress.com/465/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhtono.wordpress.com/465/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhtono.wordpress.com/465/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhtono.wordpress.com/465/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhtono.wordpress.com&amp;blog=12678997&amp;post=465&amp;subd=muhtono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhtono.wordpress.com/2010/08/09/lebih-penting-khilafah-ataukah-dakwah-tauhid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/044c28db147f037b6dfee6c0827a9e0a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spiritwastono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menimpa umatnya (Ustadz Abu Yahya Badrusalam)- Bagian 3</title>
		<link>http://muhtono.wordpress.com/2010/08/07/yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-ustadz-abu-yahya-badrusalam-bagian-3/</link>
		<comments>http://muhtono.wordpress.com/2010/08/07/yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-ustadz-abu-yahya-badrusalam-bagian-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Aug 2010 13:35:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[dzalim]]></category>
		<category><![CDATA[khwarij]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhtono.wordpress.com/?p=455</guid>
		<description><![CDATA[Yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam untuk menimpa umatnya (bagian 3) 1. Anak-anak muda yang menjadikan Al Qur&#8217;an sebagai seruling-seruling. Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam mengkhawatirkan adanya pemuda-pemuda yang menjadikan Al Qur&#8217;an sebagai seruling-seruling, namun dalam hadits lain beliau menganjurkan untuk membaguskan suara ketika membaca Al Qur&#8217;an, sabdanya: لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ. &#8220;Bukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhtono.wordpress.com&amp;blog=12678997&amp;post=455&amp;subd=muhtono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>untuk menimpa umatnya </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>(bagian 3)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>1. </strong><strong>Anak-anak muda yang menjadikan Al Qur&#8217;an sebagai seruling-seruling.</strong></p>
<p>Nabi  shallallahu &#8216;alaihi wasallam mengkhawatirkan adanya pemuda-pemuda yang  menjadikan Al Qur&#8217;an sebagai seruling-seruling, namun dalam hadits lain  beliau menganjurkan untuk membaguskan suara ketika membaca Al Qur&#8217;an,  sabdanya:</p>
<p><strong>لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ.</strong></p>
<p>&#8220;Bukan dari golongan kami orang yang tidak taghanni (membaguskan suara) ketika membaca Al Qur&#8217;an&#8221;. (HR Al Bukhari).</p>
<p>Dan para ulama berbeda pendapat mengenai makna &#8220;<em>taghanni</em>&#8220;,  sebagian mereka mengatakan bahwa maknanya adalah mencukupkan diri dengan  Al Qur&#8217;an, sebagian lagi mengatakan bahwa maknanya adalah membacanya  dengan nada sedih, sebagian lagi mengatakan bahwa maknanya adalah  membaguskan suara ketika baca Al Qur&#8217;an dan pendapat-pendapat lainnya.  Namun Al Hafidz berpendapat bahwa makna-makna itu masuk kedalam hadits  tersebut, beliau berkata:</p>
<p><strong>والحاصل  أنه يمكن الجمع بين أكثر التأويلات المذكورة وهو أنه يحسن به صوته جاهرا  به مترنما على طريق التحزن مستغنيا به عن غيره من الأخبار طالبا به غنى  النفس..</strong></p>
<p>&#8220;Walhasil,  semua pendapat-pendapat tersebut dapat dikumpulkan, yaitu membaguskan  dan mengeraskan suaranya dengan nada sedih, mencukupkan diri dengannya  dan tidak membutuhkan yang lainnya, mencari kekayaan jiwa dengannya..<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=64:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-3&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Dan  membaguskan suara dalam membaca Al Qur&#8217;an bukanlah dengan nada-nada  yang diada-adakan sebagaimana yang kita lihat di zaman ini, imam ibnu  Katsir rahimahullah berkata:</p>
<p><strong>المطلوب  شرعا إنما هو التحسين بالصوت الباعث على تدبر القرآن وتفهمه والخشوع  والخضوع والإنقياد للطاعة فأما الأصوات بالنغمات المحدثة المركبة على  الأوزان والأوضاع الملهية والقانون الموسيقائى فالقرآن ينزه عن هذا ويجل  ويعظم أن يسلك فى أدائه هذا المذهب</strong></p>
<p>&#8220;Yang  diminta oleh syari&#8217;at adalah membaguskan suara yang membangkitkan  keinginan untuk mentadabburi Al Qur&#8217;an, memahami, khusyu&#8217;, tunduk dan  taat. Adapun membaca Al Qur&#8217;an dengan nada-nada yang diada-adakan dengan  wazan-wazan yang melalaikan dan aturan musik, maka Al Qur&#8217;an harus  disucikan darinya, dan dibersihkan dari cara-cara seperti itu&#8221;.<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=64:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-3&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Terlebih  bila nada-nada tersebut menyerupai nyanyian, maka ini diharamkan karena  mengandung nilai tasyabbuh (menyerupai) orang-orang fasiq, Syaikh Abdul  &#8216;Aziz bin Baz rahimahullah berkata: &#8220;Seorang mukmin tidak boleh membaca  Al Qur&#8217;an dengan nada menyanyi dan cara-cara para penyanyi. Kewajiban  ia adalah membacanya sebagaimana salafushalih dari para shahabat dahulu  membacanya, yaitu dengan secara tartil, nada sedih dan khusyu&#8217; sehingga  berpengaruh kepada hati orang yang mendengarnya&#8221;.<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=64:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-3&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Dan  inilah yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam dalam  hadits yang telah berlalu, yaitu adanya para pemuda yang menjadikan Al  Qur&#8217;an sebagai seruling-seruling. Karena membaca Al Qur&#8217;an dengan  nada-nada yang diindah-indahkan bagaikan nyanyian, amat mudah  menjerumuskan pelakunya kepada riya&#8217; dan keinginan untuk populer.</p>
<p><strong>2. </strong><strong>Banyaknya algojo (yang zalim).</strong></p>
<p>Para algojo yang zalim yang diisyaratkan oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam dalam hadits lain:</p>
<p><strong>صِنْفَانِ  مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ  الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ  مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ  لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا  لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا</strong><strong>.</strong></p>
<p>&#8220;Dua  kelompok dari ahli Neraka yang belum pernah aku melihatnya: suatu kaum  yang membawa cambuk bagaikan ekor-ekor sapi, ia memukuli manusia  dengannya. Dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, yang  berjalan berlenggak-lenggok, kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk  unta yang miring, mereka tidak masuk surga dan tidak pula mencium  baunya, dan bau surga itu tercium dari jarak sekian dan sekian&#8221;. (HR  Muslim).</p>
<p>Syaikh  Abdur Rauf Al Munawi berkata: &#8220;(Mereka adalah) suatu kaum yang membawa  cambuk yang tidak diperbolehkan untuk memukulnya dalam menegakkan hadd,  namun ia sengaja melakukannya untuk menyiksa manusia, mereka adalah para  algojo yang dikenal dengan nama Al Jallaadiin (yang suka mencambuk).  Apabila mereka diperintahkan untuk memukul, mereka melakukannya melebihi  batasan yang disyari&#8217;atkan, bahkan seringkali menyebabkan orang yang  dipukulnya binasa..&#8221;.<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=64:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-3&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn4">[4]</a></p>
<p><strong>3. </strong><strong>Pemikiran Khawarij.</strong></p>
<p><strong>إِنَّ  أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ رَجُلاً قَرَأَ الْقُرْآنَ حَتَّى إِذَا  رُئِيَتْ بَهْجَتُهُ عَلَيْهِ وَكَانَ رِدْءًا لِلإِِسْلاَمِ  انْسَلَخَ  مِنْهُ وَنَبَذَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ وَسَعَى عَلَى جَارِهِ بِالسَّيْفِ  وَرَمَاهُ بِالشِّرْكِ ، قَالَ : قُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللهِ ، أَيُّهُمَا  أَوْلَى بِالشِّرْكِ الْمَرْمِيُّ أَوِ الرَّامِي ، قَالَ : بَلِ  الرَّامِي.</strong></p>
<p>&#8220;Sesungguhnya  yang paling aku takutkan atas kamu adalah seseorang yang membaca Al  Qur&#8217;an, sehingga apabila telah diperlihatkan kepadanya keindahannya dan  tadinya ia adalah pembela islam, tiba-tiba ia lepas darinya dan  melemparkan (Al Qur&#8217;an) ke belakangnya, dan mendatangi tetangganya  dengan membawa pedang dan menuduhnya dengan kesyirikan&#8221;.</p>
<p>Aku  berkata: &#8220;Wahai Nabi Allah, siapakah yang lebih layak kepada  kesyirikan, yang dituduh atau yang menuduh?&#8221; Beliau menjawab: &#8220;Yang  menuduh (lebih layak)&#8221;. (HR Al Bazzar).<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=64:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-3&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Hadits  ini memberitakan kepada kita tentang adanya orang-orang yang banyak  hafal Al Qur&#8217;an namun menuduh saudaranya dengan kekafiran, bahkan  mengkafirkan saudaranya karena dosa-dosa yang ia anggap mengeluarkan  pelakunya dari islam, dan menghalalkan darahnya.</p>
<p>Dalam  hadits lain, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasalam mengabarkan bahwa mereka  membaca Al Qur&#8217;an namun tidak sampai ke kerongkongannya, beliau  bersabda:</p>
<p><strong>يَخْرُجُ  مِنْهُ قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ  يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنْ الرَّمِيَّةِ</strong><strong>.</strong></p>
<p>&#8220;Akan  keluar darinya (Iraq) suatu kaum yang membaca Al Qur&#8217;an namun tidak  sampai ke tenggorokannya, mereka lepas dari islam seperti melesatnya  panah dari buruannya&#8221;. (HR Bukhari).</p>
<p>Dan  yang dimaksud dengan &#8220;tidak sampai ke tenggorokannya&#8221; adalah  memahaminya dengan pemahaman yang tidak benar, ia mengira bahwa itu  adalah dalil yang menguatkan alasannya, namun sebenarnya tidak demikian  saking dangkalnya pemahaman mereka, sebagaimana yang ditunjukkan dalam  riwayat lain:</p>
<p><strong>يَخْرُجُ  قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِي يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَتْ قِرَاءَتُكُمْ  إِلَى قِرَاءَتِهِمْ شَيْئًا وَلَا صَلَاتُكُمْ إِلَى صَلَاتِهِمْ شَيْئًا  وَلَا صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ شَيْئًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ  يَحْسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ لَا تُجَاوِزُ صَلَاتُهُمْ  تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ  مِنْ الرَّمِيَّةِ</strong>..</p>
<p>&#8220;Akan  keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Al Qur&#8217;an, bacaan kamu  dibandingkan dengan bacaan mereka tidak ada apa-apanya, demikian pula  shalat dan puasa kamu dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka tidak  ada apa-apanya. Mereka mengira bahwa Al Qur&#8217;an itu hujjah yang membela  mereka, padahal ia adalah hujah yang menghancurkan alasan mereka. Shalat  mereka tidak sampai ke tenggorokan, mereka lepas dari islam sebagaimana  melesatnya anak panah dari buruannya&#8221;. (HR Abu Dawud).</p>
<p>Bahkan  merekapun membawakan hadits-hadits Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam,  namun difahami dengan pemahaman yang tidak benar, sabda Nabi:</p>
<p><strong>يَأْتِي  فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ  الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَمْرُقُونَ مِنْ  الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ  إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ..</strong><strong> </strong></p>
<p>&#8220;Akan  ada di akhir zaman suatu kaum yang usianya muda, dan pemahamannya  dangkal, mereka mengucapkan perkataan manusia yang paling baik  (Rasulullah), mereka lepas dari islam sebagaimana lepasnya anak panah  dari busurnya, iman mereka tidak sampai ke tenggorokan..&#8221;. (HR Bukhari).</p>
<p><span id="more-455"></span>Pemikiran  takfiri (mudah mengkafirkan) adalah pemikiran yang ditakutkan oleh Nabi  shallallahu &#8216;alaihi wasallam untuk menimpa umatnya, karena ia berakibat  yang tidak bagus dan merugikan islam dan kaum muslimin bahkan merusak  citra islam dan mengotori keindahannya. Oleh karena itu, Nabi  shallallahu &#8216;alaihi wasallam mengecam keras khawarij dalam  hadits-haditsnya, Abu Ghalib berkata:</p>
<p><strong>رَأَى  أَبُو أُمَامَةَ رُءُوسًا مَنْصُوبَةً عَلَى دَرَجِ مَسْجِدِ دِمَشْقَ  فَقَالَ أَبُو أُمَامَةَ كِلَابُ النَّارِ شَرُّ قَتْلَى تَحْتَ أَدِيمِ  السَّمَاءِ خَيْرُ قَتْلَى مَنْ قَتَلُوهُ ثُمَّ قَرَأَ { يَوْمَ تَبْيَضُّ  وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ } إِلَى آخِرِ الْآيَةِ </strong></p>
<p><strong>قُلْتُ  لِأَبِي أُمَامَةَ أَنْتَ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ لَمْ أَسْمَعْهُ إِلَّا مَرَّةً أَوْ  مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا أَوْ أَرْبَعًا حَتَّى عَدَّ سَبْعًا مَا  حَدَّثْتُكُمُوهُ.</strong><strong> </strong></p>
<p>&#8220;Abu  Umamah melihat kepala-kepala (kaum khawarij) yang dipancangkan di jalan  Masjid Damaskus, Abu Umamah berkata: &#8220;Anjing-anjing Neraka,  seburuk-buruknya orang yang terbunuh dikolong langit, dan sebaik-baiknya  yang dibunuh adalah orang yang dibunuh oleh mereka (khawarij), kemudian  beliau membaca Ayat: &#8220;Pada hari wajah-wajah menjadi putih dan  wajah-wajah lain menjadi hitam..&#8221;. Sampai akhir ayat.</p>
<p>Aku  berkata kepada Abu Umamah: &#8220;Engkau mendengarnya dari Rasulullah  shallalahu &#8216;alaihi wasallam ?&#8221; Beliau menjawab: &#8220;Aku mendengarnya  sekali, dua kali, tiga kali, empat kali sampai tujuh kali. Bila aku  tidak mendengarnya, aku tidak akan menyampaikannya kepada kamu&#8221;. (HR At  Tirmidzi).</p>
<p><strong>Sifat-sifat khawarij.</strong></p>
<p>Nabi  shallallahu &#8216;alaihi wasallam telah mengabarkan sifat-sifat mereka,  sebagiannya telah kita sebutkan di atas, diantara sifat mereka adalah:</p>
<p>1. Dangkal pemahamannya.</p>
<p>Telah  kita sebutkan di atas, bahwa kaum khawarij suka membawa dalil dari Al  Qur&#8217;an dan hadits, namun difahami dengan pemahaman sendiri, tidak sesuai  dengan apa yang difahami oleh para ulama salafusshalih, walaupun mereka  membawakan perkataan ulama, mereka bawakan yang sesuai dengan keinginan  mereka saja, atau mengeditnya sedemikian rupa agar terlihat cocok  dengan selera mereka sehingga mengelabui orang-orang awam. Tujuan mereka  adalah agar pengkafiran mereka kepada kaum muslimin menjadi suatu  perkara yang dianggap pasti dan meyakinkan, padahal ia hanyalah  berdasarkan dugaan dan sangkaan belaka.</p>
<p>Diantara  contoh kedangkalan pemahaman mereka adalah sebuah kisah dialog ibnu  Abbas dengan kaum khawarij, dikeluarkan oleh Al Hakim dalam Mustadraknya  (2/164 no 2656) dengan sanad yang shahih sesuai dengan syarat Muslim,  ibnu Abbas berkata:</p>
<p>Ketika  kaum Haruriyah (Khawarij) keluar dan berkumpul di suatu tempat, jumlah  mereka sekitar enam ribu. Aku mendatangi Ali seraya berkata: &#8220;Wahai  Amirul Mukminin, akhirkanlah shalat dzuhur, barangkali aku dapat  berbicara dengan mereka&#8221;. Ali berkata: &#8220;Aku mengkhawatirkan  keselamatanmu&#8221;. Aku berkata: &#8220;Tidak perlu khawatir&#8221;. Aku pun pergi  menemui mereka dan aku memakai pakaian Yaman yang paling bagus kemudian  aku mengucapkan salam kepada mereka.</p>
<p>Mereka  berkata: &#8220;Selamat datang wahai ibnu Abbas, pakaian apa yang engkau  pakai?!! Aku menjawab: &#8220;Apa yang kalian cerca dariku, padahal aku pernah  melihat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam pernah memakai pakaian  yang paling bagus, dan telah turun ayat:</p>
<p>ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭﭮ</p>
<p>&#8220;Katakan  (Muhammad), siapakah yang berani mengharamkan perhiasan dari Allah dan  rizki yang baik yang Allah keluarkan untuk hamba-hambaNya ?&#8221; (Al A&#8217;raaf:  32).</p>
<p>Mereka berkata: &#8220;Lalu ada apa engkau datang kemari ?&#8221;</p>
<p>Aku  menjawab: &#8220;Aku mendatangi kamu dari sisi para shahabat Nabi shallallahu  &#8216;alaihi wasallam dari kalangan Muhajirin dan Anshar untuk menyampaikan  apa yang mereka katakan dan apa yang mereka kabarkan, kepada mereka Al  Qur&#8217;an diturunkan, dan merekalah yang paling memahaminya, dan tidak ada  diantara kalian yang menjadi shahabat Nabi shallallahu &#8216;alaihi  wasallam&#8221;.</p>
<p>Sebagian mereka berkata: &#8220;Jangan berdialog dengan kaum Quraisy, karena Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰ</p>
<p>&#8220;Tetapi mereka adalah kaum yang suka bertengkar&#8221;. (Al Ahqaf: 58).<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=64:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-3&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Ibnu  Abbas berkata: &#8220;Aku belum pernah melihat suatu kaum yang sangat  bersungguh-sungguh beribadah dari mereka, wajah-wajahnya pucat karena  begadang malam (untuk shalat), dan tangan serta lutut mereka menjadi  hitam (kapalan)&#8221;.</p>
<p>Sebagian mereka berkata: &#8220;Demi Allah, kami akan berbicara dengannya dan mendengarkan apa yang ia katakan&#8221;.</p>
<p>Ibnu  Abbas berkata: &#8220;Kabarkan kepadaku, apa alasan kalian memerangi anak  paman Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam (Ali bin Abi Thalib),  serta kaum Muhajirin dan Anshar?&#8221;</p>
<p>Mereka berkata: &#8220;Tiga perkara&#8221;.</p>
<p>Ibnu Abbas berkata: &#8220;Apa itu?&#8221;</p>
<p>Mereka berkata: &#8220;Ia telah berhukum kepada manusia dalam urusan Allah<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=64:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-3&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn7">[7]</a>, padahal Allah berfirman:</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya hukum itu hanyalah milik Allah&#8221;. (Al An&#8217;am: 57).</p>
<p>Ibnu Abbas berkata: &#8220;Ini yang pertama&#8221;.</p>
<p>Mereka berkata: &#8220;Ia telah memerangi<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=64:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-3&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn8">[8]</a> namun tidak menawan tidak juga mengambil ghanimah (harta rampasan  perang), jika yang ia perangi itu orang-orang kafir, maka mereka halal  ditawan dan dirampas hartanya. Dan jika yang ia perangi adalah kaum  mukminin, maka tidak halal memerangi mereka&#8221;.</p>
<p>Ibnu Abbas berkata: &#8220;Ini yang kedua, lalu apa yang ketiga?&#8221;</p>
<p>Mereka  berkata: &#8220;Ia telah menghapus nama amirul mukiminin dari dirinya, jika  dia bukan amirul mukminin berarti ia adalah amirul kafirin&#8221;.</p>
<p>Ibnu Abbas berkata: &#8220;Apa ada alasan lain?&#8221;</p>
<p>Mereka berkata: &#8220;Cukup itu saja&#8221;.</p>
<p>Ibnu  Abbas berkata: &#8220;Bagaimana pendapat kalian, jika aku membacakan  kitabullah dan sunnah Nabi-Nya yang dapat meluruskan pemahaman kalian,  apakah kalian ridla?&#8221;</p>
<p>Mereka berkata: &#8220;Ya&#8221;.</p>
<p>Ibnu  Abbas berkata: &#8220;Adapun perkataan kalian bahwa Ali berhukum kepada  manusia dalam urusan Allah, bukankah Allah menyuruh mengembalikan kepada  hukum manusia dalam seperdelapan seperempat dirham, tentang masalah  kelinci dan hewan buruan lainnya?&#8221; Allah berfirman:</p>
<p>&#8220;Wahai  orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh hewan buruan dalam  keadaan berihram. Barang siapa yang membunuhnya diantara kamu secara  sengaja, maka dendanya adalah mengantinya dengan hewan yang seimbang  dengannya, <strong>menurut putusan hukum dua orang yang adil diantara kamu</strong>..&#8221;. (Al Maidah: 95).</p>
<p>Maka  saya bertanya kepada kalian dengan nama Allah, apakah hukum manusia  untuk kelinci dan binatang buruan lainnya lebih utama, ataukah hukum  manusia untuk menjaga darah dan perdamaian diantara mereka?&#8221;</p>
<p>Dalam ayat lain, Allah menyuruh mengembalikan hukum kepada manusia mengenai pertikaian suami istri, Allah berfirman:</p>
<p>&#8220;Dan  bila kamu mengkhawatirkan perceraian antara keduanya, maka kirimlah  seorang hakam (orang yang akan menghukumi) dari keluarga laki-laki dan  seorang hakam dari keluarga wanita. Jika kedua orang hakam ini bermaksud  mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami istri  itu&#8221;. (An Nisaa: 35).</p>
<p>Allah menjadikan manusia sebagai hukum yang dipercaya. Apakah aku telah selesai menjawab alasan pertama ini?</p>
<p>Mereka berkata: &#8220;Ya&#8221;.</p>
<p>Ibnu  Abbas berkata: &#8220;Adapun perkataan kalian bahwa Ali memerangi namun tidak  menawan dan tidak mengambil ghanimah, apakah kamu mau menawan ibumu  Aisyah kemudian halal disetubuhi sebagaimana tawanan lainnya?? Jika kamu  melakukan itu, maka kamu telah kafir. Dan jika kamu berkata bahwa  Aisyah bukan ibu kita (kaum muslimin), maka kamupun telah kafir, jadi  kamu berada diantara dua kesesatan, mana saja yang kamu pilih, maka kamu  tetap sesat&#8221;.</p>
<p>Maka sebagian mereka melihat kepada sebagian lainnya. Lalu aku berkata: &#8221; Apakah aku telah selesai menjawab alasan ini?</p>
<p>Mereka menjawab: &#8220;Ya&#8221;.</p>
<p>Ibnu  Abbas berkata: &#8220;Adapun perkataan kalian bahwa Ali menghapus nama amirul  muminin darinya, maka aku akan bawakan apa yang kalian ridlai. Bukankah  kalian telah mendengar bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam pada  hari perdamaian Hudaibiyah, menulis surat kepada Suhail bin Amru dan Abu  Sufyan bin Harb, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam berkata kepada  Ali bin Abi Thalib: &#8220;Tulislah hai Ali: &#8220;Ini adalah isi perdamaian yang  dinyatakan oleh Muhammad Rasulullah&#8221;.</p>
<p>Namun  kaum Musyrikin berkata: &#8220;Tidak! Demi Allah kami tidak meyakinimu  sebagai rasulullah, jika kami meyakinimu sebagai rasulullah, tentu kami  tidak akan memerangimu&#8221;. Maka Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam  bersabda: &#8220;Ya Allah, Engkau yang mengetahui bahwa aku adalah rasul-Mu,  tulislah hai Ali: &#8221; Ini adalah isi perdamaian yang dinyatakan oleh  Muhammad bin Abdillah&#8221;.</p>
<p>Demi  Allah, bukankah Rasulullah lebih baik dari Ali ketika menghapus nama  rasul darinya?&#8221; ibnu Abbas berkata: &#8220;Maka bertaubatlah sekitar dua ribu  orang diantara mereka, dan sisanya terbunuh di atas kesesatan&#8221;.</p>
<p>2. Keras dan kasar.</p>
<p>Nabi  shallallahu &#8216;alaihi wasallam menyifati kaum khawarij bahwa mereka  adalah kaum yang kasar lagi keras perangainya, beliau bersabda:</p>
<p><strong>سَيَخْرُجُ  مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ أَشِدَّاءُ أَحِدَّاءُ ذَلِقَةٌ أَلْسِنَتُهُمْ  بِالْقُرْآنِ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ أَلَا فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمْ  فَأَنِيمُوهُمْ ثُمَّ إِذَا رَأَيْتُمُوهُمْ فَأَنِيمُوهُمْ فَالْمَأْجُورُ  قَاتِلُهُمْ</strong><strong> </strong></p>
<p>&#8220;Akan  keluar dari umatku beberapa kaum yang keras lagi kasar, lisan-lisan  mereka fasih membaca Al Qur&#8217;an, namun tidak sampai ke tenggorokan  mereka&#8221;. (HR Ahmad dan lainnya).<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=64:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-3&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn9">[9]</a></p>
<p>3. Tidak menghormati ulama kibar.</p>
<p>Pendahulu  mereka tidak menghormati Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam,  bahkan menganggap Rasulullah tidak berbuat adil, Abu Sa&#8217;id Al Khudri  berkata:</p>
<p><strong>بَيْنَا  النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْسِمُ ذَاتَ يَوْمٍ  قِسْمًا فَقَالَ ذُو الْخُوَيْصِرَةِ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ يَا  رَسُولَ اللَّهِ اعْدِلْ قَالَ وَيْلَكَ مَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ  فَقَالَ عُمَرُ ائْذَنْ لِي فَلْأَضْرِبْ عُنُقَهُ قَالَ لَا إِنَّ لَهُ  أَصْحَابًا يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَهُ  مَعَ صِيَامِهِمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمُرُوقِ السَّهْمِ مِنْ  الرَّمِيَّةِ</strong></p>
<p>&#8220;Ketika  Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam membagi-bagikan harta (dari Yaman),  Dzul Khuwaishirah seorang laki-laki dari bani Tamim berkata: &#8220;Wahai  Rasulullah berbuat adillah! Beliau bersabda: &#8220;Celaka kamu, siapa yang  dapat berbuat adil jika aku tidak berbuat adil&#8221;. Umar berkata: &#8220;Idzinkan  saya menebas lehernya&#8221;. Beliau bersabda: &#8220;Jangan, sesungguhnya dia akan  mempunyai teman-teman yang shalat dan puasa kalian sepele dibandingan  dengan shalat dan puasa mereka, mereka lepas dari islam seperti lepasnya  anak panak dari buruannya&#8221;. (HR Bukhari).</p>
<p>Setelah  Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam wafat, di zaman Ali bin Abi  Thalib kaum khawarij muncul, dan mereka tidak menghormati para ulama  shahabat seperti ibnu Abbas dan shahabat-shahabat lainnya, sebagaimana  dalam kisah dialog ibnu Abbas dengan khawarij yang telah disebutkan di  atas. Sifat ini kita lihat tidak jauh berbeda dengan kaum khawarij di  zaman ini yang melecehkan para ulama besar seperti Syaikh Bin Baz,  Syaikh Al Bani, Syaikh &#8216;Utsaimin dan ulama lainnya, dan meledeknya  sebagai ulama penjilat atau ulama yang tidah faham realita dan  ejekan-ejekan lainnya. Allahul musta&#8217;an.</p>
<p>4. Mudah mengkafirkan pelaku dosa besar terutama negara islam yang tidak berhukum dengan  hukum Allah.</p>
<p>Di  zaman Ali bin Abi Thalib dahulu, mereka mengkafirkan Ali bin Abi Thalib  dan kaum muslimin yang tidak setuju dengan pendapat mereka, dengan  alasan bahwa Ali berhukum kepada manusia, sedangkan hukum itu milik  Allah sebagaimana dalam kisah ibnu Abbas yang lalu, mereka berdalil  dengan ayat:</p>
<p>&#8220;Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, mereka adalah orang-orang yang kafir&#8221;. (Al Maidah: 44).</p>
<hr size="1" /><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=64:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-3&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref1">[1]</a>Ibnu Hajar, Fathul Baari 9/72.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=64:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-3&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref2">[2]</a> Ibnu Katsir, Fadla-il Al Qur&#8217;an 1/114.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=64:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-3&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref3">[3]</a> Ibnu Baz, Majmu&#8217; fatawa 9/290.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=64:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-3&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref4">[4]</a> Faidlul Qadiir 4/275.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=64:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-3&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref5">[5]</a> Dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam Silsilah Shahihah no 3201.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=64:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-3&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref6">[6]</a> Lihat bagaimana mereka membawakan ayat tersebut untuk ibnu Abbas seorang ulama shahabat, betapa dangkalnya pemahaman mereka!!</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=64:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-3&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref7">[7]</a> Yaitu  ketika terjadi perdamaian antara pasukan Ali dan pasukan Mu&#8217;awiyah,  dimana Ali mendelegasikan Abu Musa, sedangkan delegasi dari pihak  Mu&#8217;awiyah adalah Amru bin Al &#8216;Ash. Perbuatan ini difahami oleh kaum  khawarij sama dengan menyerahkan hukum kepada manusia, padahal hukum itu  milik Allah, betapa piciknya mereka. Allahul musta&#8217;an. Demikianlah bila  hawa nafsu dan kebodohan berbicara, merusak dunia dan agama.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=64:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-3&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref8">[8]</a> Maksudnya  berperang melawan pasukan Mua&#8217;wiyah dalam perang shiffin dan melawan  pasukan Aisyah dalam perang Jamal, dan peperangan mereka karena ijtihad  dan juga perbuatan provokator yang mengadu domba untuk menghancurkan  islam.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=64:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-3&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref9">[9]</a> HR  Ahmad dalam musnadnya dari jalan Utsman Asy Syahham haddatsani Muslim  bin Abu Bakrah dari Ayahnya yaitu Abu Bakrah dari Rasulullah shallallahu  &#8216;alaihi wasallam. Qultu: Sanad ini shahih sesuai dengan syarat Muslim.</p>
<p>Sumber : <a href="http://abuyahyabadrusalam.com">http://abuyahyabadrusalam.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhtono.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhtono.wordpress.com/455/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhtono.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhtono.wordpress.com/455/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhtono.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhtono.wordpress.com/455/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhtono.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhtono.wordpress.com/455/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhtono.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhtono.wordpress.com/455/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhtono.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhtono.wordpress.com/455/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhtono.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhtono.wordpress.com/455/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhtono.wordpress.com&amp;blog=12678997&amp;post=455&amp;subd=muhtono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhtono.wordpress.com/2010/08/07/yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-ustadz-abu-yahya-badrusalam-bagian-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/044c28db147f037b6dfee6c0827a9e0a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spiritwastono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menimpa umatnya (Ustadz Abu Yahya Badrusalam)- Bagian 2</title>
		<link>http://muhtono.wordpress.com/2010/08/07/450/</link>
		<comments>http://muhtono.wordpress.com/2010/08/07/450/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Aug 2010 13:26:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[mutasyabihat]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin yang menyesatkan]]></category>
		<category><![CDATA[silaturahi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhtono.wordpress.com/?p=450</guid>
		<description><![CDATA[Yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam untuk menimpa umatnya (bagian 2) 1. Para pemimpin yang menyesatkan. إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الْأَئِمَّةُ الْمُضِلُّونَ. &#8220;Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah para imam yang menyesatkan&#8221;. (HR Ahmad).[1] Para imam yang menyesatkan yang menyeru manusia kepada pintu-pintu neraka, sebagaimana yang diisyaratkan dalam hadits Hudzaifah: قُلْتُ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhtono.wordpress.com&amp;blog=12678997&amp;post=450&amp;subd=muhtono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>untuk menimpa umatnya </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>(bagian 2)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>1. </strong><strong>Para pemimpin yang menyesatkan.</strong></p>
<p><strong>إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الْأَئِمَّةُ الْمُضِلُّونَ</strong><strong>.</strong></p>
<p>&#8220;Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah para imam yang menyesatkan&#8221;. (HR Ahmad).<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Para imam yang menyesatkan yang menyeru manusia kepada pintu-pintu neraka, sebagaimana yang diisyaratkan dalam hadits Hudzaifah:</p>
<p><strong>قُلْتُ  فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ إِلَى  أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ  يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا فَقَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا  وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا</strong></p>
<p>&#8221; Aku berkata: &#8220;Apakah setelah kebaikan itu akan ada lagi keburukan ?&#8221;</p>
<p>Beliau  menjawab: &#8220;Iya, yaitu akan ada para penyeru kepada pintu-pintu  Jahannam, siapa yang mengikutinya akan dilemparkan ke dalamnya&#8221;.</p>
<p>Aku berkata: &#8220;Wahai Rasulullah, sifatkan mereka kepada kami ?&#8221;</p>
<p>Beliau menjawab: &#8220;Mereka dari kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita (umat islam.pen)&#8221;. (HR Bukhari dan Muslim).<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Terlebih  di zaman ini, para imam yang menyesatkan amat banyak, terutama kaum  Liberal dan antek-anteknya, yang berusaha merusak aqidah islam dan  melontarkan syubhat-syubhat yang dahsyat dengan berbagai macam cara,  semoga Allah menghancurkan mereka dan memberikan sanksi yang setimpal  dengan kejahatan mereka.</p>
<p><strong>Cara jitu menyesatkan manusia</strong>.</p>
<p>Saudaraku,  sesungguhnya para imam kesesatan itu mempunyai banyak cara dalam  menyesatkan manusia, diantara caranya adalah yang dituturkan oleh imam  Asy Syathibi beliau berkata: &#8220;Setiap orang yang mengikuti mutasyabihat  atau merubah-rubah manath<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn3">[3]</a> atau menafsirkan ayat-ayat dengan penafsiran yang tidak pernah difahami  oleh salafusshalih atau berpegang dengan hadits-hadits yang lemah atau  memahami dalil dengan pemahaman yang dangkal untuk membenarkan perbuatan  atau perkataan atau keyakinan yang sesuai dengan seleranya maka ia  tidak akan pernah beruntung.. barang siapa yang ingin menyelamatkan  dirinya hendaklah ia tatsabbut (memeriksa dengan teliti) sampai menjadi  jelas kepadanya jalan (kebenaran), namun barang siapa yang meremehkan  masalah ini, ia akan dilemparkan oleh hawa nafsu dalam jurang yang tidak  ada tempat keselamatan kecuali dengan apa yang Allah kehendaki&#8221;.<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Perkataan  Imam Asy Syathibi di atas menyebutkan beberapa cara yang digunakan para  imam yang menyesatkan dalam mengelabui manusia, yaitu:</p>
<p><strong>Pertama: Mengikuti mutasyabihat.</strong></p>
<p>Mutasyabihat adalah ayat-ayat yang tidak ada yang mengetahui maknanya kecuali Allah sebagaimana firman Allah Ta&#8217;ala:</p>
<p>&#8220;..  Adapun orang-orang yang hatinya condong (kepada kesesatan) mereka  mengikuti yang mutasyabih karena menginginkan fitnah dan mencari-cari  ta&#8217;wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta&#8217;wilnya kecuali Allah..&#8221;.  (Ali Imran : 7).</p>
<p>Contohnya  adalah ayat-ayat yang menyebutkan tentang sifat-sifat Allah Ta&#8217;ala,  dimana dari sisi maknanya telah diketahui dalam bahasa arab namun dari  sisi hakikat dan tata caranya tidak ada yang mengetahuinya selain Allah,  seperti sifat yad yang artinya tangan dari sisi sini maknanya jelas  namun hakikat bentuknya tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, dan  ahlussunnah menetapkan sifat tangan bagi Allah dan mengatakan bahwa  tangan Allah tidak serupa dengan tangan makhluk-Nya.</p>
<p>Akan  tetapi kelompok jahmiyah dan Mu&#8217;tazilah mengikuti mutasyabihat, mereka  tidak dapat menerima ayat-ayat seperti ini karena mereka memikirkan  hakikat dan bentuk tangan Allah dengan akal mereka yang lemah, lalu  menyerupakan Allah dengan makhluknya dengan mengatakan: &#8220;Bila Allah  mempunyai tangan berarti Allah berupa jasad renik yang membutuhkan satu  sama lainnya&#8221;. Hasilnya mereka menolak sifat ini dan menta&#8217;wil maknanya  dengan mengatakan bahwa maksud tangan adalah ni&#8217;mat dan sebagainya. Maha  suci Allah dari apa yang mereka katakan.</p>
<p>Sebagian  ulama menafsirkan makna mutasyabihat bahwa ia adalah ayat yang  mengandung beberapa makna dan tidak mungkin menentukan salah satu  maknanya kecuali dengan merujuk ayat yang muhkam.<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn5">[5]</a> Dan makna inipun benar dan tidak bertentangan dengan ayat di atas,  karena hanya Allah yang mengetahui maknanya dan makna yang benar telah  Allah jelaskan dalam ayat-ayat yang muhkam, oleh karena itu sikap yang  benar terhadap ayat-ayat mutsyabihat adalah dengan mengembalikannya  kepada ayat-ayat yang muhkam bila ada, dan bila tidak ada maka tetap  mengimaninya tanpa bertanya tata caranya. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>ibnu  Qayyim rahimahullah berkata: “Adapun tata cara para shahabat, tabi’in  dan para ulama hadits seperti Asy Syafi’I, Ahmad, Malik, Abu Hanifah,  Abu Yusuf, Al bukhari dan lainnya adalah mereka mengembalikan dalil yang  mutsyabih kepada dalil yang muhkam, dan mereka mengambil dalil yang  muhkam untuk menjelaskan dalil yang mutasyabih, sehingga dalil yang  mutasyabih tersebut sepakat dengan yang muhkam, dan nash pun saling  berpadu; membenarkan satu sama lainnya, karena semuanya berasal dari  Allah, dan yang berasal dari Allah tidak mungkin terjadi padanya  kontradiksi.”<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Contohnya  adalah kata yad, dalam bahasa arab ia mempunyai beberapa makna yaitu  tangan, ni&#8217;mat dan lainnya sehingga kaum Asy &#8216;Ariyah menolat sifat  tangan dengan alasan bahwa makna yad dalam bahasa arab mempunyai  beberapa makna, padahal bila kita melihat redaksi ayat yang muhkam  tampak dengan jelas bahwa yang dimaksud adalah tangan, Allah berfirman:</p>
<p>&#8220;Bahkan kedua tangan Allah terbuka, Dia berinfak sesuai dengan apa yang Dia kehendaki&#8221;. (Al Maidah : 64).</p>
<p>Dalam  ayat ini disebutkan kata yad dengan bentuk mutsanna (dua), sedangkan  ni&#8217;mat Allah amatlah banyak tidak hanya dua, sebagaimana dalam ayat:</p>
<p>&#8220;Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, kamu tidak akan dapat menghitungnya&#8221;. (Ibrahim : 34).</p>
<p><span id="more-450"></span><strong>Kedua: Merubah-rubah manath.</strong></p>
<p>Manath  adalah illat yaitu sifat yang tampak dan tetap dalam sebuah hukum atau  dengan kata lain alasan pensyari&#8217;atan, contohnya illat diharamkannya  arak adalah memabukkan, illat diharamkannya zina adalah merusak  keturunan dan seterusnya. Merubah-rubah manath adalah sifat pengikut  hawa nafsu yang bertujuan membenarkan hawa nafsunya, dan cara ini amat  mengelabui orang awam karena mereka akan menganggap benar apa yang  dilakukan olehnya.</p>
<p>Seperti  perkataan sebagian orang bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam  berpuasa hari senin illatnya adalah dalam rangka merayakan hari  kelahirannya dengan bukti ketika beliau ditanya tentang puasa hari senin  beliau menjawab bahwa itu adalah hari kelahiran beliau shallallahu  &#8216;alaihi wasallam.</p>
<p>Bila  kita perhatikan sekilas tampak benar namun bila kita perhatikan secara  cermat dan kita bandingkan dengan pelaksanaan perayaan maulid yang ada  di zaman ini akan sangat jelas kebatilan pendapat ini karena Nabi  shallallahu &#8216;alaihi wasallam melakukannya dengan cara berpuasa sedangkan  mereka melaksanakannya dengan ritual-ritual yang tidak pernah dilakukan  oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam, ini bila kita menerima bahwa  illatnya adalah merayakan kelahirannya.</p>
<p>Akan  tetapi illat ini tidak benar karena dijelaskan dalam hadits lain bahwa  hari senin dan kamis adalah hari ditampakkan amal-amal shalih kepada  Allah Ta&#8217;ala sebagaimana sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam :</p>
<p><strong>تُعْرَضُ الْأَعْمَالُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ</strong></p>
<p>&#8220;Amal-amal  ditampakkan pada hari senin dan kamis maka aku suka amalanku  ditampakkan dalam keadaan aku berpuasa&#8221;. (HR At Tirmidzi dan beliau  berkata: &#8220;Hadits hasan gharib&#8221;.)</p>
<p>Perbuatan  merubah-rubah manath sering kali dilakukan kaum liberal di zaman ini  untuk merusak citra islam seperti perkataan mereka bahwa tujuan memotong  tangan pencuri adalah agar pelakunya tidak mencuri lagi, jadi bisa  diganti dengan cara lain seperti di beri uang atau dipenjara dan  lainnya. Padahal Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam tentulah orang yang  paling mengetahui makna-makna ayat dan beliau memperaktekan ayat potong  tangan dengan cara memotong tangan pencuri sampai pergelangan tangannya,  dan ini adalah sanksi yang paling tepat agar mereka jera dan  meninggalkan pencurian, karena kenyataan membuktikan bahwa pencuri yang  sanksinya sebatas dipenjara tetap tidak jera dan kembali melakukannya,  bagaimana jadinya bila diberi uang. Allahul musta&#8217;an.</p>
<p><strong>Ketiga: Menafsirkan ayat-ayat dengan penafsiran yang tidak pernah difahami oleh salafusshalih.</strong></p>
<p>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam telah memuji tiga generasi pertama dalam sabdanya:</p>
<p><strong>خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ</strong></p>
<p>&#8220;Sebaik-baiknya manusia adalah generasiku kemudian setelahnya kemudian setelahnya&#8221;. (HR Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Terutama  generasi para shahabat yang telah dipuji oleh Allah secara khusus dalam  kitab-Nya, dan menjadikan mereka sebagai parameter hidayah:</p>
<p>&#8220;Jika  mereka beriman kepada apa yang kamu beriman kepadanya, sungguh mereka  telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka  akan senantiasa berada dalam perselisihan..&#8221;. (Al Baqarah : 137).</p>
<p>Kata  ganti &#8220;kamu&#8221; dalam ayat ini adalah untuk para shahabat, artinya bila  mereka beriman seperti apa yang diimani oleh para shahabat maka mereka  akan mendapat hidayah dan bila tidak maka mereka akan senantiasa  berselisih, dan firman Allah adalah benar sesuai dengan kenyataan yang  kita saksikan dimana setiap keyakinan yang menyimpang dari keyakinan dan  pemahaman para shahabat senantiasa dalam perselisihan dan permusuhan,  sebagian mereka menganggap sesat sebagian lainnya bahkan saling  mengkafirkan.</p>
<p>Para  imam kesesatan selalu berpaling dari pemahaman para shahabat karena  tidak sesuai dengan hawa nafsunya, ia akan menafsirkan ayat-ayat atau  hadits sesuai dengan hawa nafsu dan pemahamannya yang dangkal, bukan  hanya itu bahkan mereka menganggap bahwa generasi khalaf (belakangan)  dianggap lebih faham tentang ayat-ayat Allah dari pada generasi salaf,  dan menuduh bahwa salaf katanya terlalu terkstual dan tidak kontekstual  sebagaimana yang dinyatakan oleh gembong JIL di negeri ini.</p>
<p>Secara  akal saja tidak mungkin generasi yang paling fasih yang langsung  menyaksikan turunnya Al Qur&#8217;an dan melihat bagaimana Nabi shallallahu  &#8216;alaihi wasallam menafsirkannya akan lebih bodoh dari kaum liberalis  yang dungu itu, mungkinkah Allah memuji para shahabat dan menyatakan  keridlaan-Nya sebagaimana dalam surat At Taubah ayat 100 dan ternyata  kaum liberalis lebih tertunjuki dari mereka ?!</p>
<p>Atau  mungkinkah Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam mengabarkan bahwa  sebaik-baik generasi adalah generasinya kemudian setelahnya kemudian  setelahnya, dan ternyata kaum liberalis itu lebih baik dari tiga  generasi yang utama ?! atau mungkinkah para ulama akan bersepakat di  atas kesesatan tatkala mereka semua bersepakat bahwa para shahabat  adalah sebaik-baiknya generasi dalam ilmu, pemahaman dan agama, padahal  Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam menyatakan bahwa umatnya tidak mungkin  bersepakat di atas kesesatan ?!!</p>
<p><strong>Keempat: Berpegang kepada dalil-dalil yang lemah.</strong></p>
<p>Dalil  yang lemah hanya menghasilkan dzann yang marjuh (dugaan yang lemah) dan  dugaan yang lemah tidak boleh dipakai dengan kesepakatan seluruh ulama,  bagaimana kiranya bila dalil tersebut sangat lemah atau bahkan palsu,  oleh karena itu seluruh ulama bersepakat mengharamkan berdalil dengannya  dalam masalah aqidah, hukum maupun fadlilah amal.</p>
<p>Berdalil  dengan dalil yang lemah biasa digunakan di masyarakat yang dikuasai  oleh kebodohan terhadap ilmu hadits, dan para imam kesesatan akan  berusaha menyembunyikan kelemahan dalil yang ia pakai dengan berbagai  macam upaya, seperti mengklaim secara dusta bahwa hadits itu dikeluarkan  oleh Bukhari dan Muslim atau salah satunya padahal tidak demikian, atau  membawakan sebuah lafadz yang lemah namun ada lafadz lain yang shahih  akan tetapi lafadz yang shahih tersebut tidak terdapat padanya sesuatu  yang dapat mendukung ra&#8217;yunya, lalu ia gunakan lafadz yang lemah dan  menempelkannya kepada lafadz hadits yang shahih.</p>
<p>Contohnya  adalah berdalil dengan kisah hadits orang buta yang datang kepada Nabi  shallallahu &#8216;alaihi wasallam dan memohon agar di do&#8217;akan kesembuhan  untuk matanya lalu Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam mengajarkan do&#8217;a  kepadanya:</p>
<p><strong>اللَّهُمَّ  إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ  الرَّحْمَةِ إِنِّي تَوَجَّهْتُ بِكَ إِلَى رَبِّي فِي حَاجَتِي هَذِهِ  لِتُقْضَى لِيَ اللَّهُمَّ فَشَفِّعْهُ فِيَّ</strong></p>
<p>&#8220;Ya  Allah, aku memohon dan menghadap kepada-Mu dengan melalui Nabi-Mu  Muhammad seorang Nabi rahmat. Sesungguhnya aku menghadap denganmu kepada  Rabbku untuk memenuhi kebutuhanku ini, ya Allah berilah syafaat  untuknya padaku&#8221;. (HR At Tirmidzi).</p>
<p>Hadits  ini dijadikan dalil bolehnya bertawassul melalui Nabi shallallahu  &#8216;alaihi wasallam setelah wafat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam,  padahal hadits ini tidak menunjukkan kepada yang pemahaman tersebut  karena hadits ini terjadi ketika Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam masih  hidup dan dilakukan di hadapan beliau, maka ia pun berhujjah dengan  sebuah lafadz dalam salah satu lafadz dari hadits tersebut yaitu  tambahan: &#8220;Jika ada hajat, lakukanlah seperti itu lagi&#8221;. Tambahan inilah  yang diinginkan oleh orang yang membela bolehnya tawassul melalui Nabi  setelah wafatnya karena lafadz ini menunjukkan bolehnya melakukan do&#8217;a  tersebut kapan ada keperluan walaupun beliau telah tiada, padahal  tambahan ini diriwayatkan oleh Hammad bin Salamah, sedangkan Syu&#8217;bah bin  Hajjaj meriwayatkan dengan tanpa tambahan tersebut. Dan Syu&#8217;bah jauh  lebih tsiqah dari Hammad bin Salamah sehingga tambahan tersebut dihukumi  syadz oleh para ulama yaitu periwayatan perawi yang tsiqah yang  berlawanan dengan periwayatan perawi lain yang lebih tsiqah dan syadz  adalah salah satu macam hadits lemah.</p>
<p><strong>Kelima: Memahami dalil dengan pemahaman yang dangkal untuk membenarkan sebuah perbuatan atau perkataan atau keyakinan.</strong></p>
<p>Memahami  dengan pemahaman yang dangkal terjadi terkadang disebabkan oleh  kemalasan untuk mencari dalil lain yang menjelaskannya atau ketidak  tahuan peraktek para shahabat terhadap dalil tersebut atau lemahnya  pengetahuan dia terhadap kaidah-kaidah ushul. Dan terkadang akibat hawa  nafsu yang menjadikan ia memahaminya secara membabi buta tanpa  menelitinya lebih lanjut.</p>
<p>Contoh  kasus ini amatlah banyak terutama di kalangan ahlul bid&#8217;ah yang  berusaha mempertahankan bid&#8217;ahnya mati-matian, seperti orang yang  membuat lafadz-lafadz shalawat tertentu berdalil dengan keumuman hadits  mengenai keutamaan bershalawat, atau orang yang merayakan maulid  berdalil dengan ayat yang menunjukkan perintah untuk bergembira dengan  karunia dan nikmat Allah dan lain sebagainya, bila kita perhatikan  secara teliti sebetulnya dalil tersebut tidak mendukung apa yang mereka  inginkan.</p>
<p><strong>ENAM PERKARA.</strong></p>
<p><strong>أَخَافُ  عَلَيْكُمْ سِتًّا : إِمَارَةَ السُّفَهَاءِ وَ سَفْكَ الدَّمِ وَ بَيْعَ  الْحُكْمِ وَ قَطِيْعَةَ الرَّحْمِ وَ نَشْوًا يَتَّخِذُوْنَ الْقُرْآنَ  مَزَامِيْرَ وَ كَثْرَةَ الشُّرَطِ .</strong></p>
<p>&#8220;Aku  khawatir atas kalian enam perkara: imarah sufaha (orang-orang yang  bodoh menjadi pemimpin), menumpahkan darah, jual beli hukum, memutuskan  silaturahmi, anak-anak muda yang menjadikan Al Qur&#8217;an sebagai  seruling-seruling, dan banyaknya algojo (yang zalim)&#8221;. (HR Ath  Thabrani).<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Dalam hadits ini Nabi mengkhawatirkan enam perkara atas umatnya yaitu:</p>
<p><strong>2. </strong><strong>Orang-orang bodoh menjadi pemimpin (Imarah sufaha).</strong></p>
<p>Dalam  hadits lain, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam menjelaskan siapa yang  dimaksud dengan imarah sufaha, beliau bersabda kepada Ka&#8217;ab bin &#8216;Ujrah:</p>
<p><strong> أَعَاذَكَ  اللَّهُ مِنْ إِمَارَةِ السُّفَهَاءِ قَالَ وَمَا إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ  قَالَ أُمَرَاءُ يَكُونُونَ بَعْدِي لَا يَقْتَدُونَ بِهَدْيِي وَلَا  يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ  عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ لَيْسُوا مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُمْ وَلَا  يَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَلَمْ  يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ  وَسَيَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي</strong></p>
<p>&#8220;Semoga  Allah melindungimu dari imarah sufaha&#8221;. Ia berkata: &#8220;Siapakah imarah  sufaha itu?&#8221; Beliau bersabda: &#8220;Yaitu pemimpin-pemimpin yang akan datang  setelahku, mereka tidak mau mengambil petunjukku, dan tidak mau  mengambil sunnahku. Barangsiapa yang membenarkan kedustaan mereka dan  membantu kezalimannya, maka ia bukan dari golonganku dan aku bukan dari  mereka, dan mereka tidak akan singgah di telaga haudlku. Dan barang  siapa yang tidak membenarkan kedustaan mereka dan tidak membantu  kezalimannya, maka merekalah golonganku dan aku dari golongan mereka,  dan mereka akan singgah di telaga haudlku&#8221;. (HR Ahmad).<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Nabi  shallallahu &#8216;alaihi wasallam mengkhawatirkan adanya imarah sufaha,  karena mereka tidak mau mengambil petunjuk Rasulullah shallallahu  &#8216;alaihi wasallam dalam peraturan, sehingga hukum Allah dikesampingkan.  Akibatnya, rusaklah kehidupan, padahal hukum Allah adalah kehidupan  untuk manusia, Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>&#8220;Dan  dalam qishas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai  orang-orang yang berakal, supaya kamu bertaqwa&#8221;. (Al Baqarah : 179).</p>
<p>Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:</p>
<p><strong> </strong><strong>حَدٌّ يُعْمَلُ بِهِ فِي الْأَرْضِ خَيْرٌ لِأَهْلِ الْأَرْضِ مِنْ أَنْ يُمْطَرُوا أَرْبَعِينَ صَبَاحًا</strong><strong> </strong></p>
<p>&#8220;Menegakkan sebuah hadd Allah lebih baik bagi penduduk bumi dari hujan selama empat puluh malam&#8221;. (HR Ibnu Majah).<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn9">[9]</a></p>
<p><strong>Indahnya hukum islam.</strong></p>
<p>Dalam  ayat di atas, Allah memanggil orang-orang yang berakal agar berfikir,  bahwa hukum Allah adalah kehidupan untuk manusia; dalam kasus pembunuhan  misalnya, bila ditegakkan qishash maka orang akan berfikir dua belas  kali sebelum melakukannya, karena balasannya adalah dibunuh kembali.  Pencuri akan jera, dan orang pun akan meninggalkan zina, dan manusia  tidak akan berani menzalimi orang lain, karena akan diberi hukuman yang  setimpal. Berbeda bila hanya dipenjara, mereka tak akan pernah jera,  bahkan akan semakin merajalela.</p>
<p>Dalam  pemilihan pemimpin, islam memerintahkan untuk menyerahkan kepada ahlul  hilli wal &#8216;aqdi yang berisi para alim ulama dan orang-orang yang  berpengalaman, agar memilih pemimpin yang sesuai dengan syarat-syarat  yang telah disebutkan oleh para ulama dalam kitab-kitab fiqih,  diantaranya harus seorang mujtahid, luas pengetahuannya, sehat jasmani  dan rohaninya, adil, menguasai taktik perang, dan lain-lain. Berbeda  bila diserahkan kepada rakyat, maka yang dapat menjadi pemimpin adalah  yang paling banyak suara dan uangnya, walaupun ia berhati setan dan  berbadan manusia, sehingga tidak akan mungkin lepas dari korupsi dan  manipulasi, karena besarnya uang yang dibutuhkan untuk pencalonan. Bila  uang itu digunakan untuk pembangunan negara, tentu akan lebih bermanfaat  dari pada dihambur-hamburkan untuk mencari masa.</p>
<p>Islam  amat memperhatikan kesejahteraan rakyat dan menghilangkan kemudlaratan  dari mereka, menghancurkan kezaliman dan melarakan tindakan semena-mena,  cobalah dengarkan khutbah Abu Bakar radliyallahu &#8216;anhu, ketika beliau  diangkat menjadi khalifah:</p>
<p>&#8220;Wahai  manusia, sesungguhnya aku telah diangkat menjadi pemimpinmu, namun aku  bukan orang yang terbaik diantara kamu. Maka bila aku berbuat baik,  bantulah aku, dan bila aku berbuat kesalahan, luruskanlah aku. Kejujuran  adalah amanah dan kedustaan adalah khianat, dan orang yang lemah  diantara kamu adalah kuat di sisiku, sampai aku kembalikan haknya insya  Allah. Sedangkan orang yang kuat diantara kamu adalah lemah di sisiku,  sampai aku ambil hak (zakat) darinya insya Allah. Tidaklah suatu kaum  meninggalkan jihad di jalan Allah, kecuali Allah akan kuasakan kepada  mereka kehinaan, dan tidaklah tersebar zina pada suatu kaum, kecuali  Allah akan meratakan adzab-Nya kepada mereka. Taatilah aku selama aku  mentaati Allah dan Rasul-Nya, dan apabila aku memaksiati Allah dan  Rasul-Nya, maka tidak ada ketaatan atas kamu kepadaku&#8221;.<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn10">[10]</a></p>
<p><strong>3. </strong><strong>Menumpahkan darah.</strong></p>
<p>Menumpahkan  darah adalah dosa yang amat besar di sisi Allah Ta&#8217;ala, dan Allah  Ta&#8217;ala telah melarang menumpahkan darah dalam beberapa ayat-Nya,  diantaranya Allah berfirman:</p>
<p>&#8220;Dan  janganlah kamu membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan alasan  yang benar. Dan barang siapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya  Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli  waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang  yang mendapat pertolongan&#8221;. (Al Israa : 33).</p>
<p>Allah  Ta&#8217;ala menyebutkan bahwa membunuh seorang manusia dengan tanpa alasan  yang benar, sama dengan membunuh semua manusia, Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>&#8220;Oleh  karena itu, Kami tetapkan bagi Bani Israil, bahwa barang siapa yang  membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain,  atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia  dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara  kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara  kehidupan manusia semuanya..&#8221;. (Al Maidah: 32).</p>
<p>Ibnu  Katsir rahimahullah berkata: &#8220;Artinya barangsiapa yang membunuh jiwa  dengan tanpa alasan seperti qishas, atau berbuat kerusakan di muka bumi,  maka seakan-akan ia telah membunuh manusia semuanya, karena tidak ada  bedanya bagi dia suatu jiwa dengan jiwa lainnya..&#8221;.</p>
<p>Dan  Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam mengabarkan bahwa membunuh jiwa tanpa  alasan yang benar adalah salah satu perkara yang membinasakan, beliau  bersabda:</p>
<p><strong>اجْتَنِبُوا  السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ  الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ  اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ  وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ  الْغَافِلَاتِ</strong><strong> </strong></p>
<p>&#8220;Jauhilah  tujuh perkara yang membinasakan!&#8221; Mereka berkata: &#8220;Apakah itu wahai  Rasulullah?&#8221; Beliau bersabda: &#8220;Mempersekutukan Allah, sihir, membunuh  jiwa yang Allah haramkan tanpa alasan yang benar, memakan riba, memakan  harta anak yatim, berpaling dari medan perang, dan menuduh wanita-wanita  mukminah yang baik-baik&#8221;. (HR Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Karena jiwa seorang muslim lebih berharga dari dunia dan seisinya, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:</p>
<p><strong>قَتْلُ الْمُؤْمِنِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ زَوَالِ الدُّنْيَا</strong><strong>.</strong></p>
<p>&#8220;Membunuh mukmin lebih agung di sisi Allah dari hancurnya dunia&#8221;.<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn11">[11]</a></p>
<p><strong>4. </strong><strong>Jual beli hukum. </strong></p>
<p>Yang  dimaksud dengan jual beli hukum adalah suap menyuap agar seorang hakim  tidak menghukumi dengan hukum yang adil, dan ini adalah dosa yang besar  dan mendatangkan laknat Allah Ta&#8217;ala. Karena kewajiban hakim adalah  menghukumi manusia dengan &#8216;adil sesuai dengan Al Qur&#8217;an dan Sunnah, maka  jika hukum dapat dibeli dengan uang, akan hancurlah negeri dan  binasalah manusia, kebatilan akan merajalela dan berakhir dengan  datangnya adzab Allah &#8216;Azza wa Jalla.</p>
<p>Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam telah melaknat orang yang memberi uang suap dan yang menerimanya, beliau bersabda:</p>
<p><strong>لَعَنَ اللَّهُ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ فِي الْحُكْمِ</strong><strong> </strong></p>
<p>&#8220;Semoga Allah melaknat orang yang menyuap dan menerima uang suap dalam hukum&#8221;.(HR Ahmad dan lainnya).<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Hadits  ini tegas melarang risywah (suap menyuap) dan pelakunya berhak  mendapatkan laknat dari Allah Ta&#8217;ala, karena keduanya saling tolong  menolong dalam dosa dan permusuhan. Syaikhul islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn13">[13]</a>:  “Oleh karena itu para ulama berkata, ”Siapa saja yang memberikan hadiah  untuk pejabat negara dengan tujuan agar ia melakukan sesuatu yang tidak  boleh, maka ia adalah haram bagi orang yang memberikan hadiah dan yang  diberi hadiah dan ini termasuk risywah (suap menyuap) yang disabdakan  oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :</p>
<p>لَعَنَ اللهُ الرَّاشِى وَالْمُرْتَشِى.</p>
<p>“Allah melaknat yang menyuap dan yang disuap”. (HR Ahmad).<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Adapun  jika ia memberi hadiah untuk menghindari kezalimannya atau memberikan  kepadanya haknya yang wajib, maka hadiah tersebut haram bagi orang yang  menerimanya saja, dan boleh bagi orang yang memberinya, sebagaimana Nabi  shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>إِنِّيْ  لَأُعْطِى أَحَدَهُمْ الْعَطِيَّةَ فَيَخْرُجُ بِهَا يَتَأَبَّطُهَا  نَارًا. قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَلِمَ تُعْطِيْهِمْ؟ قَالَ :  يَأْبُوْنَ إِلاَّ أَنْ يَسْأَلُوْنِيْ وَيَأْبَى اللهُ لِيَ الْبُخْلَ.</p>
<p>“Sesungguhnya  Aku memberikan kepada salah seorang dari mereka pemberian, maka ia  keluar sambil membawa Neraka di ketiaknya”. Dikatakan,”Wahai Rosulullah,  mengapa engkau memberinya? Beliau bersabda: “Mereka terus menerus minta  kepadaku dan Allah tidak menyukai aku bakhil”. (HR Ahmad).<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Dan yang masuk dalam masalah ini adalah yang disebut dengan <em>hadaya al &#8216;Ummaal</em> (hadiah untuk pejabat/ uang pelicin) dalam hadits berikut ini:</p>
<p><strong>اسْتَعْمَلَ  النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ بَنِي أَسْدٍ  يُقَالُ لَهُ ابْنُ الْأُتَبِيَّةِ عَلَى صَدَقَةٍ فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ  هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سُفْيَانُ أَيْضًا فَصَعِدَ  الْمِنْبَرَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ مَا بَالُ  الْعَامِلِ نَبْعَثُهُ فَيَأْتِي يَقُولُ هَذَا لَكَ وَهَذَا لِي فَهَلَّا  جَلَسَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَيَنْظُرُ أَيُهْدَى لَهُ أَمْ لَا  وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَأْتِي بِشَيْءٍ إِلَّا جَاءَ بِهِ يَوْمَ  الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ  رُغَاءٌ أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ أَوْ شَاةً تَيْعَرُ ثُمَّ رَفَعَ  يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَتَيْ إِبْطَيْهِ أَلَا هَلْ بَلَّغْتُ  ثَلَاثًا.</strong></p>
<p>&#8220;Nabi  shallalahu &#8216;alaihi wasallam menugaskan seseorang dari bani Asad yang  bernama ibnul Lutbiyyah untuk mengambil shadaqah, ketika ia telah  kembali ia berkata: &#8220;Ini untuk kamu dan ini hadiah untukku&#8221;.</p>
<p>Maka  Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam berdiri di atas mimbar, lalu memuji  Allah dan menyanjung-Nya, kemudian bersabda: &#8220;Ada apa dengan seorang  pegawai yang kami utus, lalu ia datang dan berkata: &#8220;Ini untukmu dan ini  untukku&#8221;. Mengapa ia tidak duduk sajadi rumah ayah dan ibunya untuk  melihat apakah akan diberikan hadiah untuknya atau tidak?! Demi Dzat  yang diriku berada di Tangan-Nya, tidaklah ia datang membawa sesuatu  kecuali ia akan datang pada hari kiamat sambil membawanya di atas  lehernya; berupa untuk yang bersuara (rugha), sapi yang berkoar dan  kambing yang mengembik.</p>
<p>Kemudian  beliau mengangkat kedua tangannya sehingga kami melihat putihnya ketiak  beliau seraya bersabda: &#8220;Bukankah aku telah menyampaikannya?&#8221; 3x. (HR  Bukhari dan Muslim).</p>
<p><strong>5. </strong><strong>Memutuskan silaturahim.</strong></p>
<p>Islam  memerintahkan untuk menyambung silaturrahim kepada orang-orang yang  mempunyai kekerabatan dengan kita, dan memberikan pahala besar bagi yang  mengamalkannya, bahkan ia termasuk perintah Allah yang paling agung,  dan larangan Allah yang urgen, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam  bersabda:</p>
<p><strong>إِنَّ  اللَّهَ خَلَقَ الْخَلْقَ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْهُمْ قَامَتْ الرَّحِمُ  فَقَالَتْ هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ مِنْ الْقَطِيعَةِ قَالَ نَعَمْ أَمَا  تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ قَالَتْ  بَلَى قَالَ فَذَاكِ لَكِ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ</strong></p>
<p><strong>{  فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ  وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمْ اللَّهُ  فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ  أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا }</strong><strong> </strong></p>
<p>&#8220;Sesungguhnya  Allah menciptakan makhluk sehingga apabila telah selesai, rahim berdiri  dan berkata: &#8220;Ini adalah tempat orang yang berlindung dari qathi&#8217;ah  (memutus tali silaturahmi)&#8221;. Allah berfirman: &#8220;Ya, tidakkah engkau ridla  bila aku menyambung orang yang menyambungmu dan memutuskan orang yang  memutuskanmu ?&#8221; rahim berkata: &#8220;Ya, Aku ridla&#8221;. Allah berfirman: &#8220;Itu  adalah untukmu&#8221;.</p>
<p>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: &#8220;Bacalah jika kamu mau:</p>
<p>&#8220;Maka  apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di muka  bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang yang  dilaknat oleh Allah dan ditulikan telinga mereka, dan dibutakan  penglihatan mereka. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur&#8217;an  ataukah hati mereka terkunci? (Muhammad: 22-24).</p>
<p>Allah  telah menjanjikan pahala besar bagi orang yang menyambung silaturahim  di akherat kelak, dan menganugerahkan karunia yang besar di dalam  kehidupan dunia. Diantara keutamaan silaturrahim adalah sebagai  kesempurnaan iman seorang hamba. Nabi shallallhu &#8216;alaihi wasallam  bersabda:</p>
<p><strong>وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ</strong></p>
<p>&#8220;Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah ia menyambung rahimnya&#8221;. (HR Bukhari dan Muslim).<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn16">[16]</a></p>
<p>Diantaranya juga bahwa silaturahim dapat meluaskan rizki dan memanjangkan umur, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:</p>
<p><strong>مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ</strong><strong> </strong></p>
<p>&#8220;Barang  siapa yang suka diluaskan rizkinya, dan dipanjangkan umurnya maka  hendaklah ia menyambung silaturahim&#8221;. (HR Bukhari dan Muslim).<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Dan hendaknya, kita memperhatikan adab-adab yang harus dijaga dalam silaturahmi, diantara adab-adab itu adalah:</p>
<p><strong>Adab pertama</strong>: Niat yang iklash, dan tidak mengharapkan keuntungan duniawi belaka.</p>
<p>Karena  Allah tidak akan menerima amalan yang tidak ikhlas, bahkan meleburkan  pahala orang yang hanya berharap keuntungan duniawi, Allah Ta&#8217;ala  berfirman:</p>
<p>“Barang  siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan  balasan atas pekerjaan mereka di dunia, dan mereka di dunia tidak akan  dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh sesuatu di akhirat  kecuali Neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan  dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan”. (QS Huud : 15-16).</p>
<p><strong>Adab kedua</strong>: Mendahulukan yang paling dekat kekerabatannya.</p>
<p>Semakin  dekat kekerabatan, maka menyambungnya semakin wajib, maka bila  seseorang misalnya menyambung silaturahim dengan anak pamannya, namun  malah memutuskan silaturahim dengan kakak atau adiknya, orang seperti  ini tentunya tidak dianggap berakal. Abu Hurairah berkata:</p>
<p><strong>قَالَ  رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ الصُّحْبَةِ  قَالَ أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أَبُوكَ ثُمَّ أَدْنَاكَ  أَدْنَاكَ.</strong></p>
<p>&#8220;Seorang  laki-laki berkata: &#8220;Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling layak  aku berbuat baik kepadanya? Beliau menjawab: &#8220;Ibumu kemudian ibumu  kemudian ibumu, kemudian ayahmu kemudian yang paling dekat dan paling  dekat&#8221;. (HR Muslim).</p>
<p>Dalam  hadits ini, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam menjelaskan bahwa orang  yang paling berhak mendapatkan perbuatan baik adalah kerabat kita yang  paling dekat, maka seorang muslim yang faqih tentunya akan mencari yang  paling besar pahalanya.</p>
<p><strong>Adab ketiga</strong>: Jangan bersilaturahim hanya karena untuk membalas kebaikan saja.</p>
<p>Karena  hakikat silaturahim adalah untuk mengharapkan keridlaan Allah dengan  berbagai bentuk usaha yang mungkin dilakukan. Nabi shallallahu &#8216;alaihi  wasallam bersabda:</p>
<p><strong> </strong><strong>لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا</strong><strong>.</strong></p>
<p>&#8220;Bukanlah  orang yang menyambung silaturahim itu orang yang membalas, akan tetapi  orang yang menyambung adalah yang apabila diputuskan tali  silaturahimnya, ia berusaha menyambungnya&#8221;. (HR Bukhari).</p>
<p>Dan  berusaha menyambung silaturahim yang diputuskan adalah amalan yang amat  agung pahalanya, karena kebanyakan manusia bila diputuskan  silaturahimnya, akan segera membalas dengan perbuatan yang serupa.  Disebutkan di dalam hadits bahwa seorang laki-laki berkata: &#8220;Wahai  Rasulullah, aku mempunyai kerabat yang aku berusaha menyambung rahimnya  namun mereka malah memutuskannya, dan aku berusaha berbuat baik  kepadanya, namun mereka malah berbuat buruk kepadaku, dan aku berusaha  berlemah lembut terhadap mereka, namun mereka berbuat jahil kepadaku&#8221;.  Maka Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:</p>
<p><strong>لَئِنْ  كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمْ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ  مَعَكَ مِنْ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ</strong><strong>.</strong></p>
<p>&#8220;Jika  keadaanmu seperti yang yang kamu katakan tadi, maka seakan-akan kamu  memberi mereka makan pasir yang panas, dan Allah akan senantiasa  menolongmu atas mereka, selama kamu berbuat seperti itu&#8221;. (HR Muslim).</p>
<p><strong>Adab keempat</strong>: Mendahulukan bersedekah kepada kerabat yang paling dekat jika mereka membutuhkan.</p>
<p>Anas  radliyallahu &#8216;anhu berkata: &#8220;Abu Thalhah adalah kaum anshar yang paling  banyak hartanya, dan hartanya yang paling ia sukai adalah Bairaha yang  berada di depan masjid. Rasulullah suka memasukinya dan minum dari  airnya yang segar, ketika turun ayat:</p>
<p>&#8220;Kamu tidak akan mencapai kebaikan sampai menginfakkan apa yang kamu cintai&#8221;. (Ali Imran: 92).</p>
<p>Abu  Thalhah bangkit dan berkata: &#8220;Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah  berfirman: &#8220;Kamu tidak akan mencapai kebaikan sampai menginfakkan apa  yang kamu cintai&#8221;. Dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah  Bairaha, dan sesungguhnya aku sedekahkan ia untuk Allah Ta&#8217;ala, aku  berharap kebaikan dan pahalanya di sisi Allah, maka letakkanlah ia  sesuai keinginanmu wahai Rasulullah&#8221;.</p>
<p>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:</p>
<p><strong>بَخْ  ذَلِكَ مَالٌ رَابِحٌ ذَلِكَ مَالٌ رَابِحٌ قَدْ سَمِعْتُ مَا قُلْتَ  فِيهَا وَإِنِّي أَرَى أَنْ تَجْعَلَهَا فِي الْأَقْرَبِينَ</strong>.</p>
<p>&#8220;Bagus  sekali, itu adalah harta yang menguntungkan.. itu adalah harta yang  menguntungkan.. aku telah mendengar apa yang kamu katakan tadi, dan aku  memandang untuk dibagi-bagikan kepada karib kerabatmu&#8221;. (HR Bukhari dan  Muslim).</p>
<p>Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam juga pernah bersabda kepada seseorang:</p>
<p><strong>ابْدَأْ  بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ  فَإِنْ فَضَلَ عَنْ أَهْلِكَ شَيْءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ فَإِنْ فَضَلَ  عَنْ ذِي قَرَابَتِكَ شَيْءٌ فَهَكَذَا وَهَكَذَا</strong></p>
<p>&#8220;Mulailah  pada dirimu, bersedekahlah untuknya, jika berlebih maka berikanlah  untuk keluargamu, dan jika berlebih maka bersedekahlah untuk kerabatmu,  dan jika berlebih maka untuk ini dan itu&#8221;. (HR Muslim).</p>
<p>Bahkan  Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam menganggap sedekah kepada kerabat  yang menyimpan kebencian dan permusuhan sebagai sedekah yang paling  utama, beliau bersabda:</p>
<p><strong>إِنَّ أَفْضَلَ الصَّدَقَةِ الصَّدَقَةُ عَلَى ذِي الرَّحِمِ الْكَاشِحِ</strong><strong>.</strong></p>
<p>&#8220;Sesungguhnya sedekah yang paling utama adalah sedekah kepada kerabat yang membenci dan memusuhi kita&#8221;. (HR Ahmad dan lainnya).<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn18">[18]</a></p>
<hr size="1" /><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref1">[1]</a> Al musnad no 27525 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam shahih Jami&#8217; no 1551.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref2">[2]</a> Bukhari no 7084 dan Muslim 3/1475 no 1847.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref3">[3]</a> Manath  adalah illat yaitu sifat yang tampak dan tetap dalam sebuah hukum atau  dengan kata lain alasan pennsyari&#8217;atan, contohnya illat diharamkannya  arak adalah memabukkan, illat diharamkannya zina adalah merusak  keturunan dan seterusnya.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref4">[4]</a> Lihat ilmu ushul bida&#8217; hal 141.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref5">[5]</a> Lihat taisir Al Karimirrahman hal 101.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref6">[6]</a> I’lamul muwaqi’in hal 437 tahqiq Raid bin Shabri.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref7">[7]</a> Dalam Al Mu&#8217;jamul Kabiir 18/57 no 105, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam shahih Jami&#8217; Ash Shagier no 216.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref8">[8]</a> Hadits shahih, Lihat shahih Targhib wattarhib no 2242.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref9">[9]</a>Hadits hasan, Lihat silsilah shahihah no 231.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref10">[10]</a> Al Bidayah wan Nihayah 5/269, ibnu Katsir berkata: &#8220;Sanadnya shahih&#8221;.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref11">[11]</a> Dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam Shahih Targhib no 2440, dari hadits Buraidah.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref12">[12]</a> Dikeluarkan oleh Ahmad no 9019, At Tirmidzi (no 1337) dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam silsilah dla&#8217;ifah (3/382).</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref13">[13]</a> Majmu’ fatawa 31/286.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref14">[14]</a> Ahmad dalam musnadnya 2/387 no 9011. Dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani di dalam shahih Jami’ shogier no 5093..</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref15">[15]</a> Ahmad dalam musnadnya 3 / 4 no 11017, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam shahih targhib wattarhib no 815.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref16">[16]</a> Bukhari no 6138, dan Muslim no 47.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref17">[17]</a> Bukhari no 5986 dan Muslim no 2557.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-2&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref18">[18]</a> Ahmad dalam musnadnya no 23577 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam irwaul ghalil no 892.</p>
<p>Sumber : <a href="http://abuyahyabadrusalam.com">http://abuyahyabadrusalam.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhtono.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhtono.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhtono.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhtono.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhtono.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhtono.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhtono.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhtono.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhtono.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhtono.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhtono.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhtono.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhtono.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhtono.wordpress.com/450/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhtono.wordpress.com&amp;blog=12678997&amp;post=450&amp;subd=muhtono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhtono.wordpress.com/2010/08/07/450/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/044c28db147f037b6dfee6c0827a9e0a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spiritwastono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menimpa umatnya (Ustadz Abu Yahya Badrusalam)- Bagian 1</title>
		<link>http://muhtono.wordpress.com/2010/08/07/yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-ustadz-abu-yahya-badrusalam/</link>
		<comments>http://muhtono.wordpress.com/2010/08/07/yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-ustadz-abu-yahya-badrusalam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Aug 2010 13:16:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta dunia]]></category>
		<category><![CDATA[halal haram]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[perhiasan dunia]]></category>
		<category><![CDATA[riya]]></category>
		<category><![CDATA[syirik]]></category>
		<category><![CDATA[yang dikhawatirkan nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhtono.wordpress.com/?p=445</guid>
		<description><![CDATA[Yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam untuk menimpa umatnya (bagian 1) 1. Dibukanya pintu kesenangan dunia. إِنِّ مِمَّا أَخَافُ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِي مَا يُفْتَحُ عَلَيْكُمْ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا وَزِينَتِهَا &#8220;Sesungguhnya diantara perkara yang aku khawatirkan atas kalian setelahku adalah dibukakan kepadamu kesenangan dunia dan perhiasannya&#8221;. (HR Bukhari dan Muslim). Dunia telah disifati oleh Allah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhtono.wordpress.com&amp;blog=12678997&amp;post=445&amp;subd=muhtono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>untuk menimpa umatnya </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>(bagian 1)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>1. </strong><strong>Dibukanya pintu kesenangan dunia.</strong></p>
<p><strong>إِنِّ مِمَّا أَخَافُ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِي مَا يُفْتَحُ عَلَيْكُمْ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا وَزِينَتِهَا</strong></p>
<p>&#8220;Sesungguhnya  diantara perkara yang aku khawatirkan atas kalian setelahku adalah  dibukakan kepadamu kesenangan dunia dan perhiasannya&#8221;. (HR Bukhari dan  Muslim).</p>
<p>Dunia  telah disifati oleh Allah sebagai kesenangan yang menipu,  berbangga-bangga dengan harta dan anak-anak. Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>&#8220;Ketahuilah,  sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau,  perhiasan dan saling berbangga diantara kamu serta berlomba-lomba dalam  kekayaan dan anak keturunan. Seperti hujan yang tanam-tanamannya  mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu  lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada  adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridlaannya. Dan  kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu&#8221;. (Al Hadiid :  20).</p>
<p>Kesenangan  dunia dan perhiasannya telah menjadikan banyak manusia lupa dan lalai,  oleh karena itu Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam sangat mengkhawatirkan  umatnya dilalaikan dengan mengejar dunia dan melupakan kehidupan  akhirat, karena yang demikian itu menyebabkan kaum muslimin mendapatkan  hal yang tidak diinginkan yaitu:</p>
<p>a. Menjadi terhina di hadapan kaum kuffar.</p>
<p>Sebagaimana sabda Nabi shallalahu &#8216;alaihi wasallam :</p>
<p><strong>إِذَا  تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ  بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا  لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ</strong></p>
<p>&#8220;Apabila  kamu berjual beli dengan cara riba, mengambil ekor sapi, rela dengan  tanaman dan meninggalkan jihad (membela agama), Allah akan kuasakan  kehinaan kepadamu dan Dia tidak akan mencabutnya sampai kamu kembali  kepada agamamu (yang benar)&#8221;. (HR Abu Dawud dan lainnya).<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Ini  artinya kaum muslimin lebih mencintai dunia dan tidak mau membela agama  Allah karena lebih disibukkan dengan mengejar dunia dan perhiasannya  walaupun dengan cara yang diharamkan oleh Allah &#8216;Azza wajalla, sehingga  kewibawaan kaum musliminpun hilang dan Allah jadikan mereka terhina  bagaikan buih yang bawa oleh banjir. Rosulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :</p>
<p><strong>يُوشِكُ  الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى  قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ  أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ  وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ  وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا  رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ  الْمَوْتِ</strong></p>
<p>“Hampir-hampir  umat-umat kafir saling memanggil untuk melahap kalian sebagaimana  orang-orang lapar saling memanggil untuk melahap hidangan“. Lalu seorang  shahabat berkata: ”Apakah jumlah kita sedikit waktu itu ? beliau  bersabda: ”Justru jumlah kalian banyak pada waktu itu, akan tetapi  seperti buih yang dibawa oleh banjir, dan Allah benar-benar akan  mencabut rasa takut kepada kalian dari dada-dada mereka, dan melemparkan  kepada hati kalian al wahan“. Seorang sahabat berkata: ”Apakah al wahan itu ? beliau bersabda: ”cinta dunia dan takut mati“. (HR Abu Dawud no 4297 dan dishohihkan oleh Syeikh Al Bani dalam shohih Sunan Abi Dawud).</p>
<p>b. Saling menumpahkan darah.</p>
<p>Cinta  dunia menjadikan manusia gelap mata dan kikir, sehingga mereka berlomba  mencarinya dengan berbagai macam cara walaupun harus dengan menumpahkan  darah saudaranya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam:</p>
<p><strong>اتَّقُوا  الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاتَّقُوا  الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ  عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ.</strong><strong> </strong></p>
<p>&#8220;Jauhilah  berbuat zalim karena kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat,  Jauhilah syuhh (sangat kikir) karena sangat kikir itu telah membinasakan  orang-orang sebelum kamu, dan membawa mereka untuk menumpahkan darah  dan menganggap halal wanita-wanita mereka&#8221;. (HR Muslim).</p>
<p>Sifat  syuhh muncul akibat cinta dunia yang amat sangat, Ath Thibi  rahimahullah berkata: &#8220;Bakhil adalah kikir dan syuhh adalah bakhil yang  disertai berbuat zalim, (dalam hadits ini) disebutkan syuhh setelah  menyebutkan zalim untuk menunjukkan bahwa syuhh adalah macam zalim yang  paling berat akibat dari cinta dunia dan kelezatannya&#8221;.<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Sejarahpun  telah mencatat bagaimana kaum muslimin saling menumpahkan darah untuk  merebut tahta, sebagaimana disebutkan bahwa ketika banu umayah telah  ditumbangkan oleh banu Abasiyah, setiap harinya algojo-algojo banu  Abasiyah membunuh delapan puluh orang dari banu umayah lalu mereka  menggelar tikar dan makan minum di atas mayat-mayatnya. Dunia islam tak  pernah sepi dari perang saudara sebagaimana yang kita baca dalam  kitab-kitab sejarah akibat cinta dunia dan kelezatannya. Allahul  musta&#8217;an.</p>
<p>c. Tidak peduli halal dan haram.</p>
<p>Cinta  dunia menjadikan manusia membabi buta tak peduli kepada halal dan  haram, tidak ada lagi rasa takut kepada siksa Allah Ta&#8217;ala, ia mencari  rizki tanpa mempedulikan hukum-hukum Allah sebagaimana disebutkan dalam  hadits:</p>
<p><strong>لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ</strong><strong> </strong></p>
<p>&#8220;Sesungguhnya  akan datang kepada manusia suatu zaman dimana seseorang tidak  memperdulikan dengan apa ia mengambil harta, apakah dari yang halal  ataukah dari yang haram&#8221;. (HR Bukhari).</p>
<p>Perkara-perkara  ini yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam atas  umatnya apabila kesenangan dunia dibukakan kepada mereka, oleh karena  itu beliau menganggap bahwa orang yang rakus dengan dunia dan tamak  kepada harta lebih berbahaya dari serigala lapar, beliau bersabda:</p>
<p><strong>مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ</strong></p>
<p>&#8220;Tidaklah  dua serigala lapar yang dilepaskan kepada seekor kambing lebih  berbahaya untuk agama seseorang dari orang yang rakus terhadap harta dan  kedudukan&#8221;. (HR At Tirmidzi dan lainnya).</p>
<p>Ibnu  Rajab rahimahullah berkata: &#8220;Ini adalah permisalan yang agung yang  diumpamakan oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam bagi kerusakan agama  seorang muslim akibat rakus terhadap harta dan kedudukan dunia dan bahwa  kerusakannya tidak lebih berat dari rusaknya kambing yang dimangsa oleh  dua ekor serigala lapar..&#8221;.<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn3">[3]</a></p>
<p><span id="more-445"></span><strong>Merenungi hakikat kehidupan dunia</strong>.</p>
<p>Saudaraku  seiman, sesungguhnya kehidupan dunia bukanlah kehidupan yang abadi,  namun ia akan hancur dan amat hina di hadapan Allah lebih hina dari  bangkai, Jabir bin Abdillah radliyallahu &#8216;anhu berkata:</p>
<p><strong> </strong><strong>أَنَّ  رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِالسُّوقِ  دَاخِلًا مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ فَمَرَّ بِجَدْيٍ  أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ ثُمَّ قَالَ أَيُّكُمْ  يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ فَقَالُوا مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا  بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ قَالَ أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ قَالُوا  وَاللَّهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيهِ لِأَنَّهُ أَسَكُّ  فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ فَقَالَ فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى  اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ</strong></p>
<p>&#8220;Sesungguhnya  Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam masuk ke pasar dari arah  &#8216;Aliyah dan para shahabatnya berada di sekitarnya, beliau melewati  bangkai anak kambing yang telinganya kecil lalu beliau mengambilnya  dengan memegang telinganya kemudian bersabda: &#8220;Siapakah diantara kamu  yang mau membelinya dengan harga satu dirham?&#8221; Mereka berkata: &#8220;Kamu  tidak suka bangkai itu menjadi milik kami, apa yang bisa kami gunakan  darinya&#8221;. Beliau bersabda: &#8220;Atau kamu suka bangkai ini menjadi milikmu  ?&#8221; Mereka berkata: &#8220;Demi Allah, kalaupun ia masih hidup maka ia binatang  yang mempunyai aib karena telinganya kecil, bagaimana jadinya kalau ia  bangkai?&#8221; Beliau bersabda: &#8220;Demi Allah, dunia lebih hina bagi Allah dari  bangkai ini untuk kalian&#8221;. (HR Muslim).</p>
<p>Lebih  hina dari bangkai ?! ya, karena bangkai menjijikkan dan dibenci oleh  manusia sehingga mereka tidak akan dilalaikan untuk berlomba mencari  bangkai, sedangkan dunia menjadikan manusia lalai dan tertipu karena  perhiasannya menyilaukan hati yang dipenuhi cinta dunia. Maka jadikanlah  dunia ini sebagai tempat perlombaan kita mencari pahala akhirat dan  keridlaan Allah &#8216;Azza wa Jalla, sambil mencari harta yang halal dan  menggunakan harta itu untuk mendulang pahala sebesar-besarnya dan meraih  kebahagiaan di dunia dan akhirat.</p>
<p>Dahulu,  kaum mukminin sibuk berlomba mencari pahala akhirat. Abu Dzarr  radliyallahu ‘anhu berkata,” Sesungguhnya beberapa orang dari shahabat  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Nabi shallallahu  ‘alaihi wasallam ,”Wahai Rosulullah, orang-orang kaya telah pergi  membawa pahala banyak ; mereka sholat sebagaimana kami sholat, mereka  berpuasa sebagaimana kami berpuasa, namun mereka dapat bersedekah dengan  kelebihan harta mereka…”. (HR Muslim).<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Subhanallah  ! mereka iri kepada orang kaya bukan karena mempunyai materi kekayaan  yang tidak mereka miliki, namun iri karena orang kaya dapat berinfaq dan  shodaqah sementara mereka tidak, sehingga mereka tidak dapat meraih  pahala besar seperti yang diraih oleh orang kaya.</p>
<p>Memang  itulah tempat perlombaan kaum mukminin, maka selayaknya bagi seorang  muslim untuk memikirkan masa depannya di hari akhirat, karena harta dan  anak-anak pada hari itu tidak bermanfaat kecuali orang yang membawa hati  yang selamat, membawa pahala besar agar dapat menyelamatkan dirinya  dari api neraka.</p>
<p><strong>2. </strong><strong>Hawa nafsu dan syahwat.</strong></p>
<p><strong>إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَفُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْهَوَى</strong><strong>.</strong></p>
<p>&#8220;Sesungguhnya  diantara yang aku khawatirkan atasmu adalah syahwat yang menyesatkan  pada perut dan kemaluanmu dan hawa nafsu yang menyesatkan&#8221;.<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Hawa  nafsu dan syahwat adalah penyakit yang amat berbahaya yang menghinggapi  hati seorang muslim, di dalam Al Qur&#8217;an Allah Ta&#8217;ala telah mencela hawa  nafsu dan pelakunya dan menyebutkan bahaya-bahaya yang ditimbulkan  olehnya, yaitu:</p>
<p>a. Pengikut hawa nafsu bagaikan anjing.</p>
<p>Allah  Ta&#8217;ala menyebutkan bahwa orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya  bagaikan anjing yang menjulurkan lidahnya, Allah Ta&#8217;ala berfirman :</p>
<p>&#8220;Dan  bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami ajarakan  kepadanya ayat-ayat Kami, lalu ia lepas darinya maka setan mengikutinya  dan jadilah ia orang-orang yang sesat. Kalau Kami kehendaki, Kami akan  mengangkat derajatnya dengan (ayat-ayat itu), akan tetapi ia condong  kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya, maka perumpamaannya seperti  anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu  membiarkannya ia menjulurkan lidahnya juga..&#8221;. (Al A&#8217;raf : 175-176).</p>
<p>Ibnu  Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah berkata: &#8220;Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala  menyerupakan orang yang diajarkan ilmu dan Al Kitab namun ia tidak mau  mengamalkannya dan mengikuti hawa nafsunya seperti anjing yang termasuk  hewan yang paling dungu dan sangat rakus yang semangatnya tidak melebihi  perut (dan kemaluannya), diantara bukti kerakusannya adalah ia  senantiasa berjalan dengan moncong hidungnya ke tanah, ia selalu mencium  duburnya tanpa bagian tubuhnya yang lain, bangkai lebih ia sukai dari  daging yang segar, tinja lebih ia gemari dari makanan yang enak, jika ia  menemukan bangkai yang mencukupi seratus anjing ia tidak akan  memberikan peluang anjing lain untuk makan bersamanya saking rakus dan  bakhilnya.</p>
<p>Penyerupaan orang yang lebih mengutamakan kehidupan dunia dari kehidupan akhirat padahal ia mempunyai ilmu yang banyak seperti  anjing yang menjulurkan lidahnya mempunyai rahasia yang indah yaitu  bahwa orang yang lepas dari ayat-ayat Allah ini dan lebih mengikuti hawa  nafsunya semua itu disebabkan keserakahannya terhadap dunia dan  hatinyapun terputus dari Allah dan kampung akhirat karena keserakahannya  itu..&#8221;.<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn6">[6]</a></p>
<p>b. Disesatkan di atas ilmu.</p>
<p>&#8220;Bagaimana  pendapatmu mengenai orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai  tuhannya dan Allahpun menyesatkannya di atas ilmu dan Allah telah  mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan penutup pada  penglihatannya? Maka siapakah yang dapat memberinya hidayah setelah  Allah? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?&#8221; (Al Jatsiyah : 23).</p>
<p>Ibnu  Katsir rahimahullah berkata: &#8220;Artinya ia hanya mau melakukan perintah  hawa nafsunya saja, apa yang ia pandang baik dilakukannya dan apa yang  menurutnya buruk ditinggalkannya dan ayat ini dapat dijadikan dalil yang  membantah pendapat Mu&#8217;tazilah yang berpendapat bahwa akal berdiri  sendiri dalam menilai baik dan buruk.. (dan Allahpun menyesatkannya di  atas ilmu) ada dua makna: yang pertama bahwa Allah menyesatkannya karena  Allah mengetahui bahwa ia berhak mendapatkannya dan pendapat kedua  adalah bahwa Allah menyesatkannya setelah tegak hujjah kepadanya&#8221;.<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn7">[7]</a></p>
<p>c. Yang paling sesat di dunia.</p>
<p>&#8220;Dan  siapakah yang paling sesat dari orang yang mengikuti hawa nafsunya  dengan tanpa petunjuk dari Allah? Sesungguhnya Allah tidak memberikan  petunjuk kepada orang-orang yang zalim&#8221;. (Al Qashash : 50).</p>
<p>Syaikh  Abdurrahman As Sa&#8217;di rahimahullah berkata: &#8220;Ini adalah manusia yang  paling sesat, ia ditawarkan hidayah dan jalan yang lurus yang akan  menyampaikannya kepada Allah dan negeri kemuliaan, namun ia tidak mau  menerima dan tidak pula menengoknya, sementara hawa nafsunya menyerunya  kepada jalan yang akan menyampaikannya kepada kebinasaan dan  kesengsaraan ternyata ia mengikutinya dan meninggalkan hidayah.</p>
<p>Adakah  orang yang lebih sesat dari orang yang seperti ini sifatnya?! Akan  tetapi permusuhan dan kebenciannya kepada kebenaran yang menjadikan ia  terus menerus di atas kesesatan sehingga Allah tidak memberi hidayah  kepadanya&#8221;.<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn8">[8]</a></p>
<p>d. Tidak berhak menjadi panutan.</p>
<p>&#8220;Dan  janganlah engkau taati orang yang Kami lalaikan hatinya untuk mengingat  Kami dan mengikuti hawa nafsunya dan keadaannya sudah melampaui batas&#8221;.  (Al Kahfi : 28).</p>
<p>Dalam  ayat ini Allah melarang Rasul-Nya untuk mentaati orang yang mempunyai  salah satu dari tiga sifat: yang pertama adalah yang lalai dari  mengingat Allah sehingga iapun dilalaikan oleh Allah dari mengingat-Nya  sebagai balasan dari perbuatannya. Yang kedua adalah mengikuti hawa  nafsunya dengan mengikuti semua titah syahwatnya bahkan berusaha untuk  meraihnya walaupun padanya terdapat kebinasaan dan kerugian. Dan yang  ketiga adalah yang urusannya sia-sia dan meremehkan batasan-batasan  Allah dan syari&#8217;at-Nya, maka orang yang seperti ini tidak berhak menjadi  panutan dalam kehidupan manusia.</p>
<p>Syaikh  Abdurrahman As Sa&#8217;di rahimahullah berkata: &#8220;Ayat ini menunjukkan bahwa  orang yang berhak ditaati dan menjadi imam untuk manusia adalah orang  yang hatinya dipenuhi dengan mencintai Allah dan lisannya senantiasa  basah dengan dzikir kepada-Nya, ia senantiasa mengikuti keridlaan  Rabbnya dan lebih mengutamakannya dari hawa nafsunya, iapun selalu  menjaga waktunya dan istiqamah perbuatannya serta mengajak manusia  kepada (hidayah) yang Allah berikan kepadanya&#8221;.<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn9">[9]</a></p>
<p>e. Sifat orang yang zalim.</p>
<p>&#8220;Akan  tetapi orang-orang zalim itu mengikuti hawa nafsu mereka dengan tanpa  ilmu, maka siapakah yang mampu memberikan hidayah kepada orang yang  Allah sesatkan? dan mereka tidak memiliki penolong-penolong (selain  Allah)&#8221;. (Ar Ruum : 29).</p>
<p>f. Menyesatkan pelakunya dari jalan Allah.</p>
<p>&#8220;Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkanmu dari jalan Allah..&#8221;. (Shaad : 26).</p>
<p>Amat  berat kerusakan yang ditimbulkan oleh hawa nafsu dan syahwat, ia  merusak dunia dan agama bahkan merusak tatanan kehidupan manusia akibat  hatinya yang telah hitam kelam tidak lagi dapat mengenal yang ma&#8217;ruf  tidak pula mengingkari yang mungkar sebagaimana disebutkan dalam hadits:</p>
<p><strong>وَالْآخَرُ  أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا  وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ</strong></p>
<p>&#8220;..dan  hati yang hitam seperti cangkir yang terbalik; tidak mengenal yang  ma&#8217;ruf dan tidak mengingkari yang mungkar kecuali yang sesuai dengan  hawa nafsunya&#8221;. (HR Muslim).<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Yang  lebih berbahaya lagi adalah orang yang berusaha mencari dalil untuk  berdalih membenarkan hawa nafsunya dan menafsirkan ayat dan hadits  sesuai seleranya, maka orang seperti ini sangat sulit kembali walaupun  ditegakkan kepadanya seribu dalil.</p>
<p><strong>Takut kepada Allah dan siksa-Nya.</strong></p>
<p>Jalan  keselamatan dari bahaya hawa nafsu dan syahwat adalah dengan memperkuat  rasa takut kita kepada Allah, bagaimana adzab-Nya yang amat pedih dan  bahwasannya Allah Maha kuasa atas segala sesuatu. Allah mampu  mengadzabnya secara tiba-tiba dalam keadaan ia tidur di waktu malam atau  bermain di waktu dluha, Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>&#8220;Apakah  penduduk negeri itu merasa aman untuk ditimpa adzab Kami di waktu malam  dalam keadaan mereka tidur? Ataukah penduduk negeri itu merasa aman  untuk ditimpa adzab Kami di waktu dluha dalam keadaan mereka bermain?  Apakah merasa aman dari makar Allah? Tidak ada yang merasa aman dari  makar Allah kecuali orang-orang yang merugi&#8221;. (Al A&#8217;raaf : 97-99).</p>
<p>Allah  mampu untuk mencabut keberkahan hidupnya, bahkan menimpakan kepadanya  berbagai macam malapetaka dan kesempitan hati, sehingga ia kehilangan  kebahagiaan dan ketenangan, bahkan kenikmatan yang ia rasakan hakikatnya  adalah buah simalakama yang mengulurnya agar lebih bertambah  kesesatannya, dan bertambah penderitaan batinnya yang berakhir dengan  kebinasaan.</p>
<p>&#8220;Tatkala  mereka meninggalkan apa yang telah diperingatkan, Kami bukakan untuk  mereka pintu-pintu segala kesenangan, sehingga apabila mereka telah  bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, tiba-tiba Kami adzab  ia dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam putus asa&#8221;.  (Al An&#8217;am:44).</p>
<p>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:</p>
<p><strong> إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنْ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ</strong></p>
<p>&#8220;Apabila  engkau melihat Allah memberikan kesenangan dunia kepada seorang hamba  apa yang ia sukai akibat maksiat-maksiatnya sesungguhnya ia adalah  istidraj (penguluran waktu agar lebih sesat) kemudian beliau membacakan  ayat di atas&#8221;. (HR Ahmad dan lainnya).<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn11">[11]</a></p>
<p><strong>Berjuang melawan hawa nafsu.</strong></p>
<p>Maka  hendaknya kita berjuang melawan hawa nafsu dan ia adalah jihad yang  agung sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam:</p>
<p><strong>وَ أَفْضَلُ الْجِهَادِ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي ذَاتِ اللهِ.</strong><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p>&#8220;Dan jihad yang paling utama adalah orang yang menjihadi dirinya di jalan Allah&#8221;.(HR Ibnu Nashr).<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn12">[12]</a></p>
<p>ibnu  Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa jihad melawan diri lebih  dikedepankan dari pada jihad melawan musuh, beliau berkata: ”Tatkala  jihad melawan musuh-musuh Allah adalah cabang dari jihad seorang hamba  melawan dirinya di jalan Allah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu  ‘alaihi wasallam :</p>
<p>المُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللهِ وَالمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ.</p>
<p>“Mujahid  adalah orang yang menjihadi dirinya dalam rangka menta’ati Allah, dan  Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang “. (HR  Ahmad).<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Maka  jihad melawan diri sendiri di jalan Allah lebih didahulukan dari pada  jihad melawan musuh di luar, bahkan sebagai pokok baginya. Karena orang  yang tidak mampu berjihad melawan dirinya sendiri untuk melaksanakan  perintah dan menjauhi larangan, tidak mungkin ia mampu berjihad melawan  musuh di luar.</p>
<p>Bagaimana  ia mampu menjihadi musuh diluar, sementara musuh yang ada pada dirinya  sendiri telah menguasai dirinya, ia tidak mampu menjihadinya dan  melawannya di jalan Allah ?! bahkan ia tidak mungkin keluar melawan  musuh sampai ia menjihadi dirinya untuk keluar.</p>
<p>Dua  musuh ini adalah sebagai ujian bagi seorang hamba, dan diantara  keduanya ada musuh yang ketiga yang tidak mungkin melaksanakan jihad  yang dua tadi kecuali dengan menjihadi yang ketiga ini, karena ia selalu  menggembosi hamba untuk dapat menjihadi diri dan musuhnya,  menakut-takuti hamba dan terus menerus mengkhayalkan kepadanya sebagai  sesuatu yang amat berat, dimana ia akan meninggalkan kesenangan,  kelezatan dan syahwatnya.</p>
<p>Tidak  mungkin ia menjihadi diri dan musuhnya kecuali dengan menjihadi yang  ketiga ini, ia adalah pondasi untuk kedua jihad itu, musuh yang ketiga  itu adalah setan, Allah berfirman :</p>
<p>إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا.</p>
<p>“Sesungguhnya setan itu musuh untuk kalian, maka ambillah ia sebagai musuh “.</p>
<p>Perintah  untuk menjadikan setan sebagai musuh adalah sebagai peringatan untuk  mengeluarkan seluruh kemampuan kita dalam rangka memerangi dan  menjihadinya, ia adalah musuh yang tak pernah lelah, dan tidak pernah  berkurang untuk memerangi hamba selagi nafas masih ada “.<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Namun  janganlah pembaca memahami bahwa perkataan di atas dianggap meniadakan  jihad melawan musuh, karena ini adalah konsekwensinya. Dan jihad melawan  musuh tentu telah ada aturannya dan telah dibicarakan oleh para ulama,  bukan di sini pembahasannya.</p>
<p><strong>3. </strong><strong>Syirik kecil Riya.</strong></p>
<p><strong>إِنَّ  أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ، قَالُوا: وَمَا  الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: &#8220;الرِّيَاءُ يَقُولُ  اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِى النَّاسُ  بِأَعْمَالِهِمُ، اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِى  الدُّنْيَا، فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً.</strong><strong> </strong></p>
<p>&#8220;Sesungguhnya  yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah syirik kecil&#8221;. Mereka  berkata: &#8220;Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?&#8221; Beliau menjawab:  &#8220;Riya, Allah &#8216;Azza wa Jalla akan berfirman kepada mereka pada hari  kiamat ketika amalan manusia diberi balasan: &#8220;Pergilah kepada orang yang  kamu harapkan pujiannya sewaktu di dunia dan lihatlah apakah kamu  mendapati pahala dari mereka?&#8221; (HR Ahmad).<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Sesungguhnya  riya adalah penyakit yang sangat berbahaya yang berasal dari kurangnya  ketauhidan hamba kepada Allah Ta&#8217;ala, diantara bahaya riya adalah:</p>
<p>a. Riya membatalkan amalan seorang hamba, Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>&#8220;Seperti  orang yang menginfakkan hartanya karena ingin dilihat oleh manusia dan  tidak beriman kepada Allah dan hari akhirat, perumpamaannya adalah  seperti batu cadas yang di atasnya ada tanah lalu hujan menimpanya dan  menjadikan batu tersebut licin (bersih) kembali, mereka tidak memperoleh  sesuatu apapun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi  petunjuk kepada orang-orang yang kafir&#8221;. (Al baqarah : 264).</p>
<p>b. Riya adalah sifat orang munafik sebagaimana firman Allah Ta&#8217;ala:</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya  orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan  mereka, dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan  malasnya, mereka riya kepada manusia dan tidak mengingat Allah kecuali  sedikit saja&#8221;. (An Nisaa : 142).</p>
<p>c. Pelaku riya adalah yang pertama kali dilemparkan ke dalam api Neraka.</p>
<p>Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:</p>
<p><strong>إِنَّ  أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ  اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا  عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ  كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ  أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ  وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ  بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ  تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ قَالَ  كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ  الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ  فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ وَسَّعَ  اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ  بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ  مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ  فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ  فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ  فِي النَّارِ.</strong></p>
<p>&#8220;Sesungguhnya  orang yang pertama kali diadzab pada hari kiamat adalah orang yang mati  syahid, lalu ia didatangkan dan Allah memperkenalkan nikmat-Nya  kepadanya dan ia pun mengenalnya. Allah berfirman: “Apa yang engkau  amalkan padanya?” ia menjawab: “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku  mati syahid”. Allah berfirman: “Kamu dusta, akan tetapi kamu berperang  agar disebut pemberani dan telah dikatakan padamu”. Lalu orang itu  diperintahkan agar diseret di atas wajahnya sampai dilemparkan ke dalam  api Neraka. Dan orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta  membaca Al Qur’an, ia didatangkan lalu Allah memperkenalkan nikmat-Nya  kepadanya dan iapun mengetahuinya. Allah berfirman: “Apa yang engkau  amalkan padanya?” ia menjawab: “Aku mempelajari ilmu dan membaca Al  Qur’an karena Engkau”. Allah berfirman: “Kamu dusta, akan tetapi kamu  mempelajari ilmu agar disebut ulama dan membaca Al Qur’an agar disebut  qori dan telah dikatakan demikian kepadamu”. Lalu orang itu  diperintahkan agar diseret di atas wajahnya sampai dilemparkan ke dalam  api Neraka. Dan orang yang Allah luaskan rizkinya dan diberi semua macam  harta lalu ia didatangkan dan Allah memperkenalkan nikmat-Nya kepadanya  dan ia pun mengenalnya. Allah berfirman: “Apa yang engkau amalkan  padanya?” ia menjawab: “Tidak ada satupun jalan yang Engkau sukai untuk  diinfakkan padanya kecuali aku telah menginfakkannya karena Engkau”.  Allah berfirman: “Kamu dusta, akan tetapi kamu berbuat itu agar disebut  dermawan dan telah dikatakan demikian kepadamu”. Lalu orang itu  diperintahkan agar diseret di atas wajahnya sampai dilemparkan ke dalam  api Neraka”. (HR Muslim).<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn16">[16]</a></p>
<p>d. Allah berlepas diri dari pelaku riya.</p>
<p>Dalam hadits qudsi Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p><strong>أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ</strong><strong> </strong></p>
<p>&#8220;Aku  paling tidak membutuhkan sekutu, barang siapa yang mempersekutukanKu  dengan yang lain, Aku akan tinggalkan ia dan kesyirikannya&#8221;. (HR  Muslim).<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn17">[17]</a></p>
<p>e. Lebih ditakutkan dari Al Masih Dajjal.</p>
<p>Abu Sa&#8217;id Al Khudri radliyallahu &#8216;anhu berkata:</p>
<p><strong>خَرَجَ  عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ  نَتَذَاكَرُ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ  أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنْ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ قَالَ قُلْنَا  بَلَى فَقَالَ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي  فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ</strong><strong> </strong></p>
<p>&#8220;Rasulullah  shallallahu &#8216;alaihi wasallam keluar kepada kami dan kami sedang  memperbincangkan Al Masih Dajjal, beliau bersabda: &#8220;Maukah aku kabarkan kepadamu  yang lebih aku takutkan untuk menimpamu dari Al Masih Dajjal ?&#8221; kami  berkata: &#8220;Mau&#8221;. Beliau bersabda: &#8220;Syirik kecil yaitu seseorang berdiri  shalat lalu ia memperbagus shalatnya karena ada orang yang  memperhatikannya&#8221;. (HR Ibnu majah).<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn18">[18]</a></p>
<p><strong>Warna-warni riya.</strong></p>
<p>Riya  mempunyai warna warni yang berbeda karena kelincahan setan dalam  menggoda manusia, terlebih orang yang diberikan kelebihan baik dalam  ilmu, ibadah, kemerduan suara, dan lain sebagainya. Riya&#8217; masuk dalam  berbagai macam sisi kehidupan; dalam lapangan ilmu misalnya setan  berusaha menggoda manusia agar jatuh ke dalam riya, di antara fenomena  riya dalam lapangan ilmu:</p>
<p>a. Terlalu berani berfatwa dan tergesa-gesa untuk mengajar.</p>
<p>Sifat  ini adalah akibat cinta ketenaran dan ingin disebut sebagai &#8216;alim  ulama, sehingga ia amat berani berfatwa karena takut dikatakan &#8216;tidak  tahu&#8217;. Padahal para ulama terdahulu, rasa takut mereka kepada Allah  mengalahkan rasa takutnya untuk dikatakan &#8216;tidak tahu&#8217;.</p>
<p>Abu  Dawud berkata: &#8220;Tak terhitung jumlahnya aku mendengar imam Ahmad  ditanya tentang permasalahan yang masih diperselisihkan, beliau berkata:  &#8220;Aku tidak tahu&#8221;. Imam Ahmad berkata: &#8220;Aku tidak pernah melihat fatwa  yang lebih bagus dari fatwa Sufyan bin &#8216;Uyainah, ia amat ringan untuk  berkata: &#8220;Tidak tahu&#8221;.</p>
<p>Ibnu  Qayyim berkata: &#8220;Para ulama salaf dari kalangan shahabat dan Tabi&#8217;in  tidak suka tergesa-gesa dalam berfatwa, dan setiap mereka berharap agar  saudaranyalah yang menjawabnya, dan bila ia melihat sudah menjadi  keharusan baginya, maka ia mengeluarkan semua kesungguhannya untuk  mengetahui hukumnya dari Al Qur&#8217;an dan sunnah atau pendapat Khulafa Ar  Rasyidin, kemudian ia berfatwa&#8221;.<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn19">[19]</a></p>
<p>Doktor  Nashir al ‘aql berkata :” diantara kesalahan yang harus di peringatkan  dalam masalah fiqih adalah memisahkan dakwah dari ilmu, dan ini lebih  banyak ditemukan pada pemuda, mereka berkata ,” berdakwah berbeda dengan  menuntut ilmu “. Oleh karena itu, kita dapati para pemuda sangat  memperhatikan amaliyah dakwah, bahkan memberikan semua kesungguhannya,  akan tetapi ia sangat sedikit dalam menghasilkan ilmu syar’iat, padahal  kebalikannya itulah yang benar, hendaklah ia menuntut ilmu dan  bertafaqquh dalam agama, menghasilkan ilmu-ilmu syari’at kemudian baru  ia berdakwah…”. (Al Fiqhu fiddiin hal 58).</p>
<p>b. Sibuk dengan ilmu yang bersifat fardlu kifayah dan meninggalkan yang fardlu &#8216;ain.</p>
<p>Ia  sibuk memperdalam ilmu-ilmu qira&#8217;at dan makhrajnya, namun meninggalkan  yang lebih utama darinya, yaitu mentadabburi makna-maknanya. Ia  memperdalam permasalahan-permasalahan fiqih yang amat pelik namun  meninggalkan ilmu tauhid dan ikhlas. Namun bukan berarti kita berburuk  sangka kepada mereka, akan tetapi perbuatan tersebut termasuk  langkah-langkah setan dalam menggoda manusia.</p>
<p>c. Suka berdialog dan bertengkar dalam agama.</p>
<p>Sifat  ini digemari oleh orang-orang yang terfitnah oleh popularitas, dan  ingin mengalahkan saingannya dengan memperlihatkan kehebatannya, dan ini  adalah tanda yang tidak baik, imam Al Auza&#8217;I berkata: &#8220;Apabila Allah  menginginkan keburukan kepada suatu kaum, Allah bukakan kepada mereka  pintu jidal, dan menutup untuknya pintu amal&#8221;.</p>
<p>Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:</p>
<p><strong>أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ في رَبَضِ الْجَنّةِ لِمَنْ تَرَكَ المِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقاّ..</strong></p>
<p>&#8220;Aku  menjamin dengan rumah di pinggir surga, untuk orang yang meninggalkan  mira&#8217; (debat kusir), walaupun ia di pihak yang benar..&#8221;. (HR Abu Dawud).<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn20">[20]</a></p>
<p>Para  ulama salaf terdahulu berdialog bila dalam keadaan terpaksa saja, dan  adanya orang-orang yang tergelincir dalam masalah ini adalah karena niat  yang tidak baik, padahal para ulama salaf lebih memperhatikan amal dari  berbicara, adapun sekarang, banyak dari kita yang lebih banyak  memperhatikan berbicara karena ingin dianggap unggul. Allahul musta&#8217;an.</p>
<p>d. Marah bila dikritik dan bersikap dingin kepada orang yang menyelisihinya serta berbangga dengan banyaknya pengikut.</p>
<p>Ini  akibat tidak ikhlasnya ia dalam menuntut ilmu dan berdakwah, imam Adz  Dzahabi berkata: &#8220;Tanda orang yang ikhlas, yang terkadang tak terasa  masih menyukai ketenaran, adalah bila ia diingatkan tentang hal itu,  hatinya tidak merasa panas, dan tidak membebaskan diri darinya, namun ia  mengakuinya dan berkata: &#8220;Semoga Allah merahmati orang yang  mengingatkan aibku&#8221;. Ia tidak berbangga dengan dirinya, dan penyakit  yang berat adalah bila ia tidak merasakan aibnya tersebut&#8221;.<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn21">[21]</a></p>
<p>Betapa indahnya perkataan beliau ini, amat layak untuk ditulis dengan tinta emas, dan menjadi renungan kita bersama.</p>
<p>Al  Fudlail bin &#8216;Iyadl berkata (Kepada dirinya): &#8220;Wahai, kasihannya  engkau.. engkau berbuat buruk tetapi engkau merasa berbuat baik, engkau  tidak tahu tetapi merasa selevel dengan ulama, engkau kikir tetapi  merasa dermawan, engkau pandir tetapi merasa pintar dan berakal, ajalmu  pendek namun angan-anganmu panjang&#8221;.<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn22">[22]</a></p>
<p>Saudaraku,  terkadang banyaknya pengikut membuat kita tertipu dan menjadikan  seorang da&#8217;I berbangga. Bila yang hadir di majlis taklimnya banyak, ia  senang, namun bila yang hadir sedikit, ia bersedih dan ciut hatinya,  tanda apakah ini ya akhi..?!</p>
<p>Abdurrahman bin Mahdi <em>rahimahullah</em> berkata: &#8220;Aku mempunyai majlis (ta&#8217;lim) di Masjid Jami&#8217; setiap hari  jum&#8217;at, apabila yang hadir banyak, aku merasa senang. Dan apabila yang  hadir sedikit, aku merasa sedih. Lalu aku tanyakan kepada Bisyir bin  Manshur, ia menjawab: &#8220;Itu majlis yang buruk, jangan kamu kembali  kepadanya&#8221;. Akupun tidak lagi kembali kepadanya.<a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftn23">[23]</a></p>
<p>Subhanallah!! Betapa ikhlasnya mereka, betapa jauhnya dari cinta popularitas, sedangkan kita ?!! entah, wallahu a&#8217;lam.</p>
<hr size="1" /><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref1">[1]</a> Abu  Dawud no 3462 dari jalan Haywah bin Syuraih dari Ishaq Abu Abdirrahman  Al Khurrasani dari &#8216;Atha Al Khurrasani dari Nafi&#8217; dari ibnu Umar. Qultu:  &#8220;Sanad hadits ini lemah karena Ishaq bin Asid Abu Abdirrahman adalah  perawi yang lemah demikian pula &#8216;Atha Al Khurrasani. Namun imam Ahmad no  4593 meriwayatkan dari jalan Abu Bakar bin &#8216;Ayyasy dari Al A&#8217;masy dari  Atha&#8217; bin Abi Rabah dari ibnu Umar. Qultu: &#8220;Sanad ini shahih&#8221;. Dan  hadits ini dishahihkan oleh syaikh Al Bani dalam silsilah hadits shahih  no 11.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref2">[2]</a> Faidlul qadiir 1/175.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref3">[3]</a> Syarah hadits maa dzi&#8217;baani hal 21.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref4">[4]</a> Muslim 2/697 no 1006.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref5">[5]</a> Lihat shahih targhib dan tarhib no 52 dan 2143.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref6">[6]</a> I&#8217;lamul muwaqqi&#8217;in hal 114-115 tahqiq Raid bin Shabri bin Abi &#8216;Alafah.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref7">[7]</a> Tafsir ibnu Katsir 7/205-206 tahqiq Hani Al Haj.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref8">[8]</a> Taisir Al Karimirrahman hal 567 cet. Muassasah Risalah.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref9">[9]</a> Taisir Al Karimirrahman hal 425 cet. Muassasah Risalah.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref10">[10]</a> Muslim 1/128 no 144.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref11">[11]</a> Ahmad  dalam musnadnya 17349 dari jalan Risydin bin Sa&#8217;ad Abul Hajjaj Al Mahri  dari Harmalah bin Imran At Tujibi dari Uqbah bin Muslim dari Uqbah bin  Amir dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam. Qultu: &#8220;Sanad ini dla&#8217;if  karena Risydin adalah perawi yang dla&#8217;if sedangkan perawi lainnya  tsiqah, namun ia dimutaba&#8217;ah oleh Abdullah bin Shalih Al Mishri  sebagaimana dikeluarkan oleh Ath Thabrani dalam mu&#8217;jam kabiir no 913,  dan Abdullah ini adalah katib Laits dikatakan oleh Adz Dzahabi: &#8220;Fiihi  liin (terdapat kelembekan)&#8221;. Sehingga hadits ini naik menjadi hasan  ligharihi, dan juga dimutaba&#8217;ah oleh Hajjaj bin Sulaiman Ar Ra&#8217;ini  dikeluarkan oleh Ad Dulaabi dalam Al Kuna no 605 tahqiq Abu Qutaibah Al  Faryani dan Hajjaj ini dikatakan oleh Abu Zur&#8217;ah munkarul hadits dan  ibnu Hibban berkata: &#8220;Haditsnya mu&#8217;tabar bila ia meriwayatkan dari  tsiqah&#8221;. Maka hadits ini menjadi semakin kuat dan hadits ini dishahihkan  oleh Syaikh Al Bani dalam silsilah shahihah no 413.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref12">[12]</a> Lihat silsilah shahihah no 1491.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref13">[13]</a> Al Musnad no 24004, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam silsilah shahihah no 549.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref14">[14]</a> Zadul Ma’ad 3/6 Tahqiq Syu’aib Al Arnauth.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref15">[15]</a> Dalam musnadnya no 23680 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam shahih Targhib no 32.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref16">[16]</a> Muslim 3/1513 no 1905.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref17">[17]</a> Muslim no 2985.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref18">[18]</a> Ibnu Majah no 4204 dan dihasankan oleh Syaikh Al Bani dalam shahih Targhib wattarhib no 30.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref19">[19]</a> I&#8217;laamul muwaqqi&#8217;iin 1/33-34.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref20">[20]</a> Sunan Abu Dawud no 4800, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam shahih Abi Dawud no 4015.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref21">[21]</a> Siyar a&#8217;lamin Nubalaa 7/393.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref22">[22]</a> Siyar A&#8217;lamin Nubalaa 8/440.</p>
<p><a href="http://abuyahyabadrusalam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62:yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-bagian-1&amp;catid=9:aqidah&amp;Itemid=21#_ftnref23">[23]</a> Hilyatul auliya 9/12.</p>
<p>Sumber : <a href="http://abuyahyabadrusalam.com">http://abuyahyabadrusalam.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhtono.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhtono.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhtono.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhtono.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhtono.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhtono.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhtono.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhtono.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhtono.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhtono.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhtono.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhtono.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhtono.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhtono.wordpress.com/445/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhtono.wordpress.com&amp;blog=12678997&amp;post=445&amp;subd=muhtono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhtono.wordpress.com/2010/08/07/yang-dikhawatirkan-oleh-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam-untuk-menimpa-umatnya-ustadz-abu-yahya-badrusalam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/044c28db147f037b6dfee6c0827a9e0a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spiritwastono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pandangan MUI</title>
		<link>http://muhtono.wordpress.com/2010/07/13/pandangan-mui/</link>
		<comments>http://muhtono.wordpress.com/2010/07/13/pandangan-mui/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jul 2010 03:52:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa MUI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhtono.wordpress.com/?p=437</guid>
		<description><![CDATA[(Sumber: http://salafitobat.wordpress.com) Buat ikhwan yang juga mengalami tekanan di lingkungan atau keluarganya, semoga ini dapat bermanfaat. Karena terkadang sebagian kaum muslimin yang belum mengenal manhaj salaf (seperti kaum tradisional yang biasanya mengandalkan hawanafsu bukan ilmu), selalu bertindak anarkis dan tidak bisa diajak dialog. Sehingga dibutuhkan sekali Pandangan MUI seperti ini Buat Bloger Salafyyin supaya dimuat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhtono.wordpress.com&amp;blog=12678997&amp;post=437&amp;subd=muhtono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>(Sumber: </strong>http://salafitobat.wordpress.com)</p>
<p>Buat ikhwan yang juga mengalami tekanan di lingkungan atau  keluarganya, semoga ini dapat bermanfaat. Karena terkadang sebagian kaum  muslimin yang belum mengenal manhaj salaf (seperti kaum tradisional  yang biasanya mengandalkan hawanafsu bukan ilmu), selalu bertindak  anarkis dan tidak bisa diajak dialog. Sehingga dibutuhkan sekali  Pandangan MUI seperti ini<a href="http://darulhaq.com/mod/informasi/foto/93.jpg"><img class="alignleft" src="http://darulhaq.com/mod/informasi/foto/93.jpg" alt="" width="216" height="311" /></a></p>
<p>Buat Bloger Salafyyin supaya dimuat Pandangan MUI ini di Blog antum,  agar dapat menyebar luas.</p>
<p>Jazzakallah khairan,…</p>
<p><a href="http://www.4shared.com/document/qOxiRa-f/fatwa-mui1.html">Klik Fatwa MUI (File PDF)</a></p>
<p><strong>MAJELIS ULAMA INDONESIA</strong></p>
<p><strong>Kotamadya Jakarta Utara</strong></p>
<p>Jl. Yos Sudarso No. 27-29 Telp. (021) 4357422, 4301124 Ext. 5375,</p>
<p>Fax. 4357422 Jakarta</p>
<p>================================================</p>
<p><strong>Pandangan</strong> Majelis Ulama Indonesia</p>
<p><strong>Kota Administrasi Jakarta Utara</strong></p>
<p><strong>Tentang </strong></p>
<p><strong>SALAF/SALAFI</strong></p>
<p>Majelis Ulama Indonesia (<strong>MUI</strong>) Kota Administrasi  Jakarta Utara,</p>
<p><strong>MENIMBANG : </strong> a. bahwa pada akhir-akhir ini  berkembang kajian-kajian salaf di beberapa daerah yang banyak masyarakat  belum memahami makna salaf itu;</p>
<p>b. bahwa terjadi kesalah pahaman dalam memahami salaf;</p>
<p>c. bahwa muncul vonis sesat kepada keberadaan kajian-kajian  salaf;</p>
<p>d. bahwa oleh karena itu, <strong>MUI</strong> Kota Administrasi  Jakarta Utara perlu memberikan penjelasan tentang salaf/salafi, agar  masyarakat tidak mudah terprovokasi.</p>
<p><strong>MENGINGAT : </strong></p>
<p>Firman Allah subhanahu wa ta’ala :</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik  membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak  menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya  yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. Al-Hujuraat :  6)</p>
<p>“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi  perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan  suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan  mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah  dia telah sesat, sesat yang nyata”. (QS. Al-Ahzaab [33] : 36)</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul  (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan  pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran)  dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan  hari kemudian, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik  akibatnya”. (QS. An-Nisaa [4] : 59)</p>
<p>“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini,  niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain  hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah  berdusta (terhadap Allah)”. (QS. Al-An’am [6] : 116)</p>
<p>“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah  langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami  telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi  mereka berpaling dari kebanggaan itu”. (QS. Al-Mu’minuun [23] : 71)</p>
<p>“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari  golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka  dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah,  dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir  sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya, mereka kekal di dalamnya.  Itulah kemenangan yang besar”. (QS. At-Taubah [9] : 100)</p>
<p>Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p dir="rtl"><strong>عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى  الله عليه وسلم – قَالَ « كُلُّ أُمَّتِى يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ ، إِلاَّ  مَنْ أَبَى » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ « مَنْ  أَطَاعَنِى دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِى فَقَدْ أَبَى »</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seluruh ummatku masuk surga kecuali yang  enggan.” Para sahabat bertanya: wahai Rasulullah siapakah yang enggan?.  Beliau menjawab: “Siapa yang ta’at kepadaku masuk surga dan yang  ma’shiyat kepadaku maka ia enggan (masuk surga).” (H.R. Al-Bukhari)</p>
<p dir="rtl"><strong>عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى  الله عليه وسلم : ( تركت فيكم شيئين لن تضلوا بعدهم ( ما تمسكتم بهما )  كتاب الله وسنتي ولن يتفرقا حتى يردا على الحوض ) . أخرجه مالك مرسلا  والحاكم مسندا وصححه</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata: Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku tinggalkan pada kalian dua hal kalian  tidak akan tersesat selama kalian berpegang dengan keduanya, (yaitu)  Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnahku. Keduanya tidak akan berpisah  sehingga masuk ke telaga (Al-Kautsar). (H.R. Malik secara mursal dan  Al-Hakim dengan sanad yang bersambung dan ia mensahihkannya)</p>
<p dir="rtl"><strong>حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مِينَاءَ حَدَّثَنَا أَوْ  سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ جَاءَتْ مَلاَئِكَةٌ إِلَى  النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَهْوَ نَائِمٌ فَقَالَ بَعْضُهُمْ  إِنَّهُ نَائِمٌ . وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ </strong><strong>الْعَيْنَ  نَائِمَةٌ وَالْقَلْبَ يَقْظَانُ . فَقَالُوا إِنَّ لِصَاحِبِكُمْ هَذَا  مَثَلاً فَاضْرِبُوا لَهُ مَثَلاً . فَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّهُ نَائِمٌ .  وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ الْعَيْنَ نَائِمَةٌ وَالْقَلْبَ يَقْظَانُ .  فَقَالُوا مَثَلُهُ كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى دَارًا ، وَجَعَلَ فِيهَا  مَأْدُبَةً وَبَعَثَ دَاعِيًا ، فَمَنْ أَجَابَ الدَّاعِىَ دَخَلَ الدَّارَ  وَأَكَلَ مِنَ الْمَأْدُبَةِ ، وَمَنْ لَمْ يُجِبِ الدَّاعِىَ لَمْ  يَدْخُلِ الدَّارَ وَلَمْ يَأْكُلْ مِنَ الْمَأْدُبَةِ . فَقَالُوا  أَوِّلُوهَا لَهُ يَفْقَهْهَا فَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّهُ نَائِمٌ .  وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ الْعَيْنَ نَائِمَةٌ</strong><strong> وَالْقَلْبَ يَقْظَانُ . فَقَالُوا فَالدَّارُ الْجَنَّةُ ، وَالدَّاعِى  مُحَمَّدٌ – صلى الله عليه وسلم – فَمَنْ أَطَاعَ مُحَمَّدًا – صلى الله  عليه وسلم – فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ، وَمَنْ عَصَى مُحَمَّدًا – صلى الله  عليه وسلم – فَقَدْ عَصَى اللَّهَ ، وَمُحَمَّدٌ – صلى الله عليه وسلم –  فَرْقٌ بَيْنَ النَّاسِ</strong> .<strong> </strong></p>
<p>Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, berkata: (suatu  ketika) datang para malaikat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  tatkala beliau tidur. Sebagian mereka berkata ia sedang tidur, sebagian  lain menjawab, matanya tertidur tetapi hatinya terjaga. Mereka berkata:  sesungguhnya teman kalian ini (Nabi Muhammad-penj) memiliki perumpamaan,  maka jadikanlah untuknya perumpamaan. Sebagian mereka berkata ia sedang  tidur, sebagian lain menjawab, matanya tertidur tetapi hatinya terjaga.  Mereka berkata, perumpamaannya seperti orang yang membangun rumah,  menyediakan hidangan dan mengundang orang untuk datang. Siapa orang yang  menjawab undangan, maka ia akan masuk rumah dan menyantap hidangan.  Yang tidak menjawab undangan maka tidak masuk ke dalam rumah dan tidak  menyantap hidangan. Mereka berkata, jelaskan ma’na perumpamaan itu  kepadanya agar ia memahaminya. Sebagian mereka berkata ia sedang tidur,  sebagian lain menjawab, matanya tertidur tetapi hatinya terjaga. Mereka  berkata rumah adalah (perumpamaan) surga, orang yang mengundang adalah  Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka siapa orang yang ta’at  kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia ta’at kepada  Allah. Siapa orang yang menentang Muhammad shallallahu ‘alaihi wa  sallam, maka ia telah menentang Allah. Muhammad adalah pembela diantara  manusia (antara yang ta’at dan yang menentang). (H.R. Al-Bukhari)</p>
<p><strong>MEMPERHATIKAN : </strong></p>
<p>Keterangan dan penjelasan dari beberapa da’i salafi yang telah  dikonfirmasi oleh pihak <strong>MUI</strong> Kota Administrasi Jakarta  Utara.</p>
<p>Dengan bertawakkal kepada Allah subhanahu wa ta’ala,</p>
<p><strong>MEMUTUSKAN</strong></p>
<p><strong>MENETAPKAN : </strong><strong>PANDANGAN</strong> <strong>MUI</strong> KOTA ADMINISTRASI JAKARTA UTARA TENTANG  SALAFI</p>
<p><strong>Pertama </strong> : Penjelasan tentang apa itu SALAF/SALAFI</p>
<p>1. Salaf/salafi tidak termasuk ke dalam 10 kriteria sesat yang telah  ditetapkan oleh Majelis Ulama Indonesia (<strong>MUI</strong>), sehingga  Salaf/salafi bukanlah merupakan sekte atau aliran sesat sebagaimana  yang berkembang belakangan ini.</p>
<p>2. Salaf/salafi adalah nama yang diambilkan dari kata salaf yang  secara bahasa berarti orang-orang terdahulu, dalam istilah adalah  orang-orang terdahulu yang mendahului kaum muslimin dalam Iman, Islam  dst. mereka adalah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka.</p>
<p>3. Penamaan salafi ini bukanlah penamaan yang baru saja muncul, namun  telah sejak dahulu ada.</p>
<p>4. Dakwah salaf adalah ajakan untuk memurnikan agama Islam dengan  kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan menggunakan pemahaman para  sahabat radhiyallahu ‘anhum.</p>
<p><strong>Kedua</strong> : Nasehat dan Tausiyah kepada masyarakat</p>
<p>1. Hendaknya masyarakat tidak mudah melontarkan kata sesat kepada  suatu dakwah tanpa diklarifikasi terlebih dahulu.</p>
<p>2. Hendaknya masyarakat tidak terprovokasi dengan  pernyataan-pernyataan yang tidak bertanggung jawab.</p>
<p>3. Kepada para da’i, ustadz, tokoh agama serta tokoh masyarakat  hendaknya dapat menenangkan serta memberikan penjelasan yang obyektif  tentang masalah ini kepada masyarakat.</p>
<p>4. Hendaknya masyarakat tidak bertindak anarkis dan main hakim  sendiri, sebagaimana terjadi di beberapa daerah di Indonesia.</p>
<p>Ditetapkan di : Jakarta</p>
<p>Pada tanggal : 12 Rabi’ul Akhir 1430 H.</p>
<p>08 April 2009</p>
<p><strong>DEWAN PIMPINAN</strong></p>
<p><strong>MAJELIS ULAMA INDONESIA</strong></p>
<p><strong>KOTA</strong><strong> ADMINISTRASI JAKARTA UTARA</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="583">
<tbody>
<tr>
<td width="235" valign="top">Ketua   Umum,<strong> </strong></td>
<td width="48" valign="top"><strong> </strong></td>
<td width="300" valign="top">Sekretaris   Umum,<strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="235" valign="top">Ttd<strong>QOIMUDDIEN THAMSY</strong><br />
<strong><br />
</strong></td>
<td width="48" valign="top">cap<strong> </strong></td>
<td width="300" valign="top">ttd<strong> </strong><strong>Drs. ARIF MUZAKKIR MANNAN, HI</strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhtono.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhtono.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhtono.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhtono.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhtono.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhtono.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhtono.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhtono.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhtono.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhtono.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhtono.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhtono.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhtono.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhtono.wordpress.com/437/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhtono.wordpress.com&amp;blog=12678997&amp;post=437&amp;subd=muhtono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhtono.wordpress.com/2010/07/13/pandangan-mui/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/044c28db147f037b6dfee6c0827a9e0a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spiritwastono</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://darulhaq.com/mod/informasi/foto/93.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Salafytobat (Pengadu domba Sesama Muslim)</title>
		<link>http://muhtono.wordpress.com/2010/07/13/salafytobat-pengadu-domba-sesama-muslim/</link>
		<comments>http://muhtono.wordpress.com/2010/07/13/salafytobat-pengadu-domba-sesama-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jul 2010 03:42:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[assunnah]]></category>
		<category><![CDATA[salafytobat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhtono.wordpress.com/?p=431</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah, Sementara beliau-beliau yang lebih berilmu, membantah tulisan-tulisan tulisan-tulisan salafytobat dengan ilmu, dasar, bukti serta dalil-dalil yang kuat, maka pemilik blog ini, hendak menyimpulkan secara garis besar dengan pendekatan yang sangat sederhana yang bersifat logis, bahwa pemilik blog salafytobat hendak mengkaburkan opini pembaca tentang kebenaran. Dengan memohon perlindungan dan pertolongan dari Alloh Azza wa Jalla [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhtono.wordpress.com&amp;blog=12678997&amp;post=431&amp;subd=muhtono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillah,</p>
<p>Sementara beliau-beliau yang lebih berilmu, membantah tulisan-tulisan  tulisan-tulisan salafytobat dengan ilmu, dasar, bukti serta dalil-dalil  yang kuat, maka pemilik blog ini, hendak menyimpulkan secara garis  besar dengan pendekatan yang sangat sederhana yang bersifat logis, bahwa  pemilik blog salafytobat hendak mengkaburkan opini pembaca tentang  kebenaran. Dengan memohon perlindungan dan pertolongan dari Alloh Azza  wa Jalla penulis hendak mengemukakan sedikit unek-uneknya yang menjadi  ganjalan-ganjalan dihatinya karena sepak terjang yang dibuat oleh  pemilik blog salafytobat.</p>
<p><strong>Tentang Nama Pemilik Blog Salafytobat</strong></p>
<p><a href="http://muhtono.files.wordpress.com/2010/07/ulama-difitnah-anyar1.jpg"><br />
</a><a href="http://muhtono.files.wordpress.com/2010/07/ulama-difitnah-anyar2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-434" title="ulama-difitnah-anyar" src="http://muhtono.files.wordpress.com/2010/07/ulama-difitnah-anyar2.jpg?w=205&#038;h=300" alt="" width="205" height="300" /></a>Sudah menjadi maklum bahwa, setiap tulisan yang ilmiah haruslah  dicantumkan dengan jelas siapa yang menulis tulisan tersebut. Begitu  juga dengan blog, pembuat blog yang baik dan mempunyai maksud yang baik  dalam pembuatan blog tentunya akan menyertakan identitas diri, yang  biasanya akan secara khusus dibuat satu halaman atau minimal namanya.<br />
Akan teapi bagaimana dengan pembuat atau pemilik  blog salafytobat?  Sudahkah dia mencantumkan identitasnya atau minimal namanya dalam  blognya tersebut? Jika tidak, saya akan mengajukan beberapa pertanyaan  kepada para pembaca pengunjung blog salafytobat yang mungkin mengira  bahwa apa-apa yang disampaikan dalam blog tersebut benar.<br />
Jika datang kepada anda orang yang tidak anda kenal, kemudian  memberitahukan sesuatu hal penting dalam hidup anda, apakah anda serta  merta akan mempercayainya tanpa meneliti lebih dulu, padahal jika anda  salah dalam hal tersebut maka bukan hanya dunia anda jaminannya tapi  akhirat juga? Pertanyaan saya selanjutnya, apakah anda juga akan  mempercayai apa-apa yang disampaikan oleh pemilik blog salafytobat  padahal anda belum mengenalnya, belum mengetahui kapasitas keilmuannya?</p>
<p><strong>Seorang Penyampai Kebenaran Tidak Akan Melakukan Cara Yang  Memalukan Untuk Menyampaikan “Kebenaran”</strong></p>
<p>Kebenaran adalah sesuatu yang baik dan mulia, tentu dia harus  disampaikan dengan cara yang baik pula. Lantas bagaimana menurut anda  jika ada pihak yang mengatakan sebuah “kebenaran” (itu adalah anggapan  dari pemilik blog salafytobat) dengan menggunakan nama pihak lain, yang  mana apa yang disampaikan itu bertolak belakang dengan apa yang diyakini  oleh pihak yang namanya digunakan tersebut? Itulah yang dilakukan oleh  pemilik blog salafytobat.<br />
Berapa waktu yang lalu melalui email yang saya terima dari milis  Assunnah, ada beberapa teman yang membagi pengalamannya, bahwa mereka  telah mendapat email dari admin Assunnah dan Darussalaf akan tetapi  isinya sangat berkebalikan dengan apa yang selama ini disampaikan oleh  kedua situs tersebut, pada akhirnya diketahui bahwa email tersebut bukan  berasal dari Assunnah dan Darussalaf akan tetapi dari pemilik blog  salafytobat yang mana dia telah membuat alamat email palsu yang  disamakan atau dibuat mirip dengan email admin Assunah dan Darussalaf.<br />
Pertanyaan saya selanjutnya, metode penyampaian kebenaran macam apa yang  digunakan oleh pemilik blog salafytobat ini? Apakah hal ini tidak  memalukan? Jika kenyataanya sudah seperti ini, apakah kita akan masih  mau mendengar omongannya, membaca tulisannya atau menyempatkan diri  membuka blognya? Rasanya semua itu hanya membuang waktu saja.<br />
Sekiranya hanya itu uneg-uneg dari saya, saya hanya manusia biasa banyak  kekurangan, tapi bukan berarti saya tidak berhak berpendapatkan? Diatas  adalah pendapat saya, silahkan kritik pendapat saya, saya akan  berlapang dada menerimanya.<br />
Jika ada yang benar dari tulisan saya diatas, maka itu datangnya adalah  dari Alloh Azza wa Jalla, jika terdapat kesalahan itu datangnya.</p>
<p>(Oleh Pemilik Blog / Abu Salman)</p>
<p>http://thesystemseeker.wordpress.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhtono.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhtono.wordpress.com/431/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhtono.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhtono.wordpress.com/431/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhtono.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhtono.wordpress.com/431/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhtono.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhtono.wordpress.com/431/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhtono.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhtono.wordpress.com/431/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhtono.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhtono.wordpress.com/431/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhtono.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhtono.wordpress.com/431/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhtono.wordpress.com&amp;blog=12678997&amp;post=431&amp;subd=muhtono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhtono.wordpress.com/2010/07/13/salafytobat-pengadu-domba-sesama-muslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/044c28db147f037b6dfee6c0827a9e0a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spiritwastono</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://muhtono.files.wordpress.com/2010/07/ulama-difitnah-anyar2.jpg?w=205" medium="image">
			<media:title type="html">ulama-difitnah-anyar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Murottal Al-Qur&#8217;an (Sheikh Mishary Al afasy)</title>
		<link>http://muhtono.wordpress.com/2010/06/07/murottal-al-quran-sheikh-mishary-al-afasy/</link>
		<comments>http://muhtono.wordpress.com/2010/06/07/murottal-al-quran-sheikh-mishary-al-afasy/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jun 2010 15:30:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Video Islam]]></category>
		<category><![CDATA[murottal Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Syeikh Misyari Al Afasy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhtono.wordpress.com/?p=405</guid>
		<description><![CDATA[Sheikh Mishary  Al Afasy TV commercial Sheikh Mshary  Al Afasy, Surat Al Mulk from studio Sheikh Mishary  Al Afasy, Surat Al Baqarah Sheikh Mishary  Al Afasy, Surat Ar-Rahman Sheikh Mishary Al-Afasy&#8211;Surat Ghafir Sheikh Mishary Rashid Alafasy &#8211; Surah Al-Mutaffifin Sheikh Mishary Alafasy, surat Al Qiyamah Sheikh Mishary Alafasy, Dua after prayer<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhtono.wordpress.com&amp;blog=12678997&amp;post=405&amp;subd=muhtono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sheikh Mishary  Al Afasy TV commercial</strong></p>
<p><object width="497" height="398"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/XJC1eClOPsM&#038;fs=1"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed  src="http://www.youtube.com/v/XJC1eClOPsM&#038;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" width="497" height="398" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p><strong>Sheikh Mshary  Al Afasy, </strong><strong>Surat Al Mulk from studio</strong></p>
<p><object width="497" height="398"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/qUpCxdWp9jk&#038;fs=1"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/qUpCxdWp9jk&#038;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" width="497" height="398" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p><strong>Sheikh Mishary  Al Afasy, </strong><strong>Surat Al Baqarah</strong></p>
<p><object width="497" height="398"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/N7jiYPXjpac&#038;fs=1"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed  src="http://www.youtube.com/v/N7jiYPXjpac&#038;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" width="497" height="398" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p><strong>Sheikh Mishary  Al Afasy, </strong><strong>Surat Ar-Rahman</strong></p>
<p><object width="497" height="398"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/c6_CDb9Zc3k&#038;fs=1"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed  src="http://www.youtube.com/v/c6_CDb9Zc3k&#038;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" width="497" height="398" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sheikh Mishary </strong><strong>Al-Afasy&#8211;Surat Ghafir</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><object width="497" height="398"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/o7d7matUOqU&#038;fs=1"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed  src="http://www.youtube.com/v/o7d7matUOqU&#038;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" width="497" height="398" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p><strong>Sheikh </strong><strong>Mishary Rashid Alafasy &#8211; Surah Al-Mutaffifin</strong></p>
<p><object width="497" height="398"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/7jUtrGc1oi8&#038;fs=1"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed  src="http://www.youtube.com/v/7jUtrGc1oi8&#038;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" width="497" height="398" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p><strong>Sheikh </strong><strong>Mishary Alafasy, surat Al Qiyamah</strong></p>
<p><object width="497" height="398"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/sg2QYHmRfY0&#038;fs=1"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed  src="http://www.youtube.com/v/sg2QYHmRfY0&#038;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" width="497" height="398" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p><strong>Sheikh </strong><strong>Mishary Alafasy, Dua after prayer</strong></p>
<p><span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://muhtono.wordpress.com/2010/06/07/murottal-al-quran-sheikh-mishary-al-afasy/"><img src="http://img.youtube.com/vi/GLMTVTzLPQU/2.jpg" alt="" /></a></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhtono.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhtono.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhtono.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhtono.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhtono.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhtono.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhtono.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhtono.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhtono.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhtono.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhtono.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhtono.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhtono.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhtono.wordpress.com/405/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhtono.wordpress.com&amp;blog=12678997&amp;post=405&amp;subd=muhtono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhtono.wordpress.com/2010/06/07/murottal-al-quran-sheikh-mishary-al-afasy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/044c28db147f037b6dfee6c0827a9e0a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spiritwastono</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img.youtube.com/vi/GLMTVTzLPQU/2.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Tuntunan Berpakaian Dan Berhijab (Syaikh Shalih Bin Fauzan Al-Fauzan)</title>
		<link>http://muhtono.wordpress.com/2010/06/07/tuntunan-berpakaian-dan-berhijab-syaikh-shalih-bin-fauzan-al-fauzan/</link>
		<comments>http://muhtono.wordpress.com/2010/06/07/tuntunan-berpakaian-dan-berhijab-syaikh-shalih-bin-fauzan-al-fauzan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jun 2010 14:20:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[hijab]]></category>
		<category><![CDATA[Jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab wanita]]></category>
		<category><![CDATA[pakaian muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Berpakaian Dan Berhijab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhtono.wordpress.com/?p=398</guid>
		<description><![CDATA[Wahai muslimah! Sesungguhnya hijab menjagamu dari pandangan yang beracun. Pandangan yang berasal dari penyakit hati dan penyakit kemanusiaan. Hijab memutuskan darimu ketamakan yang berapi-api. Sifat Pakaian yang Disyariatkan bagi Wanita Muslimah 1. Diwajibkan pakaian wanita muslimah itu menutupi seluruh badannya dari (pandangan) laki-laki yang bukan mahramnya. Dan janganlah terbuka untuk mahram-mahramnya kecuali yang telah terbiasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhtono.wordpress.com&amp;blog=12678997&amp;post=398&amp;subd=muhtono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Wahai muslimah</strong>!</p>
<p>Sesungguhnya hijab menjagamu dari pandangan yang beracun. Pandangan yang berasal dari penyakit hati dan penyakit kemanusiaan. Hijab memutuskan darimu ketamakan yang berapi-api.</p>
<p><strong>Sifat Pakaian yang Disyariatkan bagi Wanita Muslimah</strong></p>
<p>1. Diwajibkan pakaian wanita muslimah itu menutupi seluruh badannya dari (pandangan) laki-laki yang bukan mahramnya. Dan janganlah terbuka untuk mahram-mahramnya kecuali yang telah terbiasa terbuka seperti wajah, kedua telapak tangan dan kedua kakinya.</p>
<p>2. Agar pakaian itu menutupi apa yang ada di sebaliknya (yakni tubuhnya), janganlah terlalu tipis (transparan), sehingga dapat terlihat bentuk tubuhnya.</p>
<p>3.Tidaklah pakaian itu sempit yang mempertontonkan bentuk anggota badannya, sebagaimana disebutkan dalam kitab Shahih Muslim dari Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam bahwasanya beliau bersabda:</p>
<p>&#8220;<em>Dua kelompok dari penduduk neraka yang aku belum melihatnya, (kelompok pertama) yaitu wanita yang berpakaian (pada hakekatnya) ia telanjang, merayu-¬rayu dan menggoda, kepala mereka seperti punuk onta (melenggak-lenggok, membesarkan konde), mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya. Dan (kelompok kedua) yaitu laki-laki yang bersamanya cemeti seperti ekor sapi yang dengannya manusia saling rnemukul-mukul sesama hamba Allah</em>. &#8220;(HR. Muslim)</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata di dalam Majmu&#8217; Al-Fatawa (22/146) dalam menafsirkan sabda Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam:</p>
<p>&#8220;Bahwa perempuan itu memakai pakaian yang tidak menutupinya. Dia berpakaian tapi sebenarnya telanjang. Seperti wanita yang memakai pakaian yang tipis sehingga menggambarkan postur tubuh (kewanitaan)-nya atau pakaian yang sempit yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, seperti pinggul, lengan dan yang sejenisnya. Akan tetapi, pakaian wanita ialah apa yang menutupi tubuhnya, tidak memperlihatkan bentuk tubuh, serta kerangka anggota badannya karena bentuknya yang tebal dan lebar.&#8221;</p>
<p>4.Pakaian wanita itu tidak menyerupai pakaian laki-laki.</p>
<p>Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam telah melaknat wanita-wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita. Sedangkan untuk membedakan wanita dengan laki-laki dalam hal berpakaian adalah pakaian yang dipakai dinilai dari karakter bentuk dan sifat menurut ketentuan adat istiadat setiap masyarakat.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata di dalam Majmu&#8217;Al-Fatawa (22/148-149/155):</p>
<p>&#8220;Maka (hal) yang membedakan antara pakaian laki-¬laki dan pakaian perempuan dikembalikan pada pakaian yang sesuai bagi laki-laki dan perempuan, yaitu pakaian yang cocok sesuai dengan apa yang diperintahkan untuk lak-¬laki dan perempuan. Para wanita diperintahkan untuk menutup dan menghalangi tanpa ada rasa tabarruj (mempertontonkan) dan memperlihatkan. Untuk itu tidak dianjurkan bagi wanita mengangkat suara di dalam adzan, ¬(membaca) talbiyah, (berdzikir ketika) naik ke bukit Shafa dan Marwa dan tidaklah telanjang di dalam Ihram seperti ¬laki-laki. Karena laki-laki diperintahkan untuk membuka kepalanya dan tidak memakai pakaian yang melampaui batas (dilarang) yakni yang dibuat sesuai anggota badannya, tidak memakai baju, celana panjang dan kaos kaki.&#8221;</p>
<p>Selanjutnya Syaikhul Islam mengatakan:</p>
<p>&#8220;Dan adapun wanita, sesungguhnya tidak dilarang sesuatupun dari pakaian karena ia diperintahkan untuk menutupi dan menghijabi (membalut) dan tidak dianjurkan kebalikannya. Akan tetapi dilarang memakai kerudung ¬dan memakai sarung tangan, karena keduanya merupakan_ pakaian yang terbuat sesuai dengan bentuk tubuh dan tidak ada kebutuhan bagi wanita padanya.&#8221; Kemudian beliau menyebutkan, bahwa wanita itu menutup wajahnya tanpa keduanya dari laki-laki sampai beliau mengatakan di akhir: &#8220;Maka jelas, antara pakaian laki-laki dan perempuan itu sudah seharusnya berbeda. Yakni untuk membedakan laki-laki dari wanita. Pakaian wanita itu haruslah istitar (menutupi auratnya) dan istijab (menghalangi dari pandangan yang bukan mahramnya -pent.). Sebagaimana yang dimaksud dhahir &#8221; dari bab ini.&#8221;(11).</p>
<p><span id="more-398"></span>Kemudian beliau menjelaskan, bahwa apabila pakaian itu lebih pantas dipakai oleh laki-laki sebagaimana umumnya, maka dilarang bagi wanita. Hingga beliau mengatakan: &#8220;Manakala pakaian itu bersifat qillatul istitar (hanya sekedar menutupi aurat -pent.) dan musyabahah (pakaian itu layak dipakai oleh laki-laki dan perempuan &#8211; pent.), maka dilarang pemakaiannya dari dua bentuk (baik laki-laki maupun perempuan -pent.). Allahu a&#8217;lam. &#8220;</p>
<p>5.Pakaian wanita tidaklah terhiasi oleh perhiasan yang menarik perhatian (orang lain) ketika keluar rumah, agar tidak termasuk golongan wanita-wanita yang bertabaruj (mempertontonkan) pada perhiasan.</p>
<p><strong>Berhijab</strong></p>
<p>Bahwa seorang wanita yang menutupi badannya dari (pandangan) laki-laki yang bukan mahramnya disebut berhijab.</p>
<p>Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:</p>
<p>&#8220;<em>Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, putra-putra saudara perempuan mereka</em>.&#8221; (An-Nur: 31)</p>
<p>Dalam firman-Nya yang lain:</p>
<p>&#8220;<em>Dan apabila kamu ada sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir (hijab).</em>&#8221; (Al-Ahzab: 53)</p>
<p>Dan yang dimaksud dengan hijab (dari ayat di atas) adalah sesuatu yang menutupi wanita termasuk di dalamnya dinding, pintu atau pakaian.</p>
<p>Sedangkan kata-kata dalam ayat tersebut walaupun diperuntukkan kepada istri-istri Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam, namun hukumnya adalah umum untuk semua wanita mukminah.</p>
<p>Karena `illat (landasan)-nya adalah berkaitan dengan firman ¬Allah Subhanahu Wa Ta’ala:</p>
<p>&#8220;<em>Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka</em>. &#8221; (Al-Ahzab: 53)</p>
<p>Dan `illat (landasan) ini adalah umum. Maka keumuman `illat menunjukkan bahwa hukum tersebut berlaku untuk umum. Dan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala</p>
<p>yang lain:</p>
<p>&#8220;<em>Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: &#8220;Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka</em> &#8220;. (Al-Ahzab: 59)</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata di dalam majmu&#8217;Al-Fatawa (22/110-111):</p>
<p>&#8220;Jilbab adalah kain penutup, sebagaimana Ibnu Mas&#8217;ud dan yang lainnya menamakan dengan sebutan rida’ (cadar) dan izar (sarung) sebagaimana umum menyebutnya, yakni kain sarung yang besar sebagai penutup kepala dan seluruh badan wanita. Diriwayatkan dari Abu Ubaidah dan yang lainnya, bahwa wanita itu mengulurkan jilbab dari atas kepalanya sampai tidak terlihat (raut mukanya), kecuali matanya. Termasuk sejenis hijab adalah niqab (sarung kepala). Dan dalil-dalil sunnah nabawiyyah tentang kewajiban seorang wanita menutupi wajah dari selain mahramnya.&#8221;(12)</p>
<p>Dan dalil-dalil tentang kewajiban wanita untuk menutup wajah dari selain mahramnya menurut Al- Qur`an dan As Sunnah sangatlah banyak. Maka saya sarankan kepada anda wahai muslimah, (bacalah -pent.) mengenai hal tersebut di dalam Risalah Hijab dan Pakaian di dalam Shalat karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Risalah Hijab karya Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Risalatu Ash-Sharim Al Masyhur `ala Al-Maftunin bi As-Sufur karya Syaikh Hamud bin Abdullah At-Tuwaijiri dan Risalah Hijab karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-&#8217;Utsaimin. Semua risalah tersebut telah menjabarkan tentang permasalahan hijab beserta hal-hal yang berkaitan dengannya.</p>
<p><strong>Ketahuilah wahai muslimah</strong>!</p>
<p>Bahwa ulama-ulama yang membolehkan kamu membuka wajahmu dengan kata-kata yang menggiurkan (rayuan-rayuai gombal) sepertinya dapat menghindarkanmu dari fitnah. Padaha fitnah tidaklah dapat dihindari, khususnya pada zaman sekarang ini. Dimana sedikit sekali laki-laki dan perempuan yang menyerukan larangan agama. Sedikit sekali rasa malunya. Bahkan banyak sekali orang-orang yang mengumbar fitnah. Kemudian sangatlah terhina wanita yang menjadikan macam-macam perhiasan yang mengundang fitnah berada di wajahnya. Berhati-hatilah dari hal itu.</p>
<p><strong>Wahai muslimah!</strong> Pakailah dan biasakanlah berhijab. Karena hijab dapat menjagamu dari fitnah dengan seizin Allah. Tidak ada seorang ulama &#8211; baik dahulu maupun sekarang &#8211; yang menyetujui (pendapat) para pengumbar fitnah. Dimana mereka (para wanita) terlibat di dalamnya.</p>
<p>Sebagian wanita muslimah ada yang berpura-pura dalam berhijab. Yakni manakala berada dalam masyarakat yang menerapkan hijab, merekapun memakainya. Dan ketika berada dalam masyarakat yang tidak menerapkan hijab, merekapun melepaskan hijabnya.</p>
<p>Sementara ada sebagian lainnya yang memakai hijab hanya ketika berada di tempat-tempat umum dan ketika memasuki tempat pemiagaan, rumah sakit, tempat pembuat perhiasan emas ataupun salah satu dari penjahit pakaian wanita, maka ia pun membuka wajah dan kedua lengannya, seakan-akan ia berada di samping suaminya atau salah satu mahramnya! Maka takutlah kamu kepada Allah, hai orang-orang yang melakukan hal tersebut!</p>
<p>Telah kami saksikan pula, beberapa wanita yang berada di dalam pesawat (yakni pesawat yang datang dari luar Arab Saudi), rnereka tidak memakai hijab, kecuali ketika pesawat mendarat di salah satu bandara di negara ini. Seolah-olah hijab itu berasal dari adat kebiasaan (bangsa Arab) dan bukan dari pokok-pokok ajaran agama.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Wahai muslimah!</strong></p>
<p>Sesungguhnya hijab menjagamu dari pandangan yang beracun. Pandangan yang berasal dari penyakit hati dan penyakit kemanusiaan. Hijab memutuskan darimu ketamakan yang berapi-api.</p>
<p>Maka pakailah hijab. Berpeganglah pada hijab. Dan janganlah kamu tergoda oleh pengumbar fitnah yang bertujuan memerangi hijab atau mengecilkan dari bentuknya. Sebab ia ingin menjadikanmu jahat. Sebagaimana firman Allah:</p>
<p>“<em>Sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh jauhnya (dari kebenaran).&#8221;</em> (An-Nisaa&#8217;: 27)</p>
<p>Dikutip dari Tanbihat ‘ala Ahkam Takhtashshu bil Mu’minat, Edisi Indonesia “Panduan Fiqih Praktis Bagi Wanita” Penerbit Pustaka Sumayyah, Pekalongan.</p>
<p>Footnote:</p>
<p>11. Jawabannya telah dijelaskan pada bab sebelumnya.</p>
<p>12. Barangkali yang dimaksud adalah hadits dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata:</p>
<p>“Ada beberapa pengendara (kendaraan) lewat di depan kami dan saat itu kami sedang ihram bersama Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam. Jika mereka sejajar dengan kami, maka kami mengulurkan jilbab ke wajah kami, dan bila mereka telah berlalu, maka kami membukanya kembali.&#8221; (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah)</p>
<p>Lihat kitab Mas&#8217;uliyatul Mar&#8217;ati Al-Muslimati, bab Hijab wa Shufur oleh Syaikh Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim AI-Jarullah -pent.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhtono.wordpress.com/398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhtono.wordpress.com/398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhtono.wordpress.com/398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhtono.wordpress.com/398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhtono.wordpress.com/398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhtono.wordpress.com/398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhtono.wordpress.com/398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhtono.wordpress.com/398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhtono.wordpress.com/398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhtono.wordpress.com/398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhtono.wordpress.com/398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhtono.wordpress.com/398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhtono.wordpress.com/398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhtono.wordpress.com/398/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhtono.wordpress.com&amp;blog=12678997&amp;post=398&amp;subd=muhtono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhtono.wordpress.com/2010/06/07/tuntunan-berpakaian-dan-berhijab-syaikh-shalih-bin-fauzan-al-fauzan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/044c28db147f037b6dfee6c0827a9e0a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spiritwastono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Berpakaian (Syaikh Dr. Sholih bin Abdullah bin Fauzan Al-Fauzan)</title>
		<link>http://muhtono.wordpress.com/2010/06/07/hukum-berpakaian-syaikh-dr-sholih-bin-abdullah-bin-fauzan-al-fauzan/</link>
		<comments>http://muhtono.wordpress.com/2010/06/07/hukum-berpakaian-syaikh-dr-sholih-bin-abdullah-bin-fauzan-al-fauzan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jun 2010 14:06:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[kesesatan]]></category>
		<category><![CDATA[punuk unta]]></category>
		<category><![CDATA[Sholih bin Abdullah bin Fauzan Al-Fauzan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhtono.wordpress.com/?p=395</guid>
		<description><![CDATA[Soal : “ Apakah hukumnya bagi wanita yang mengenakan pakaian tipis (transparan) yang tidak menutup badannya (dengan sempurna, ed.) dan pakaian sempit (ketat) yang menampakkan bentuk tubuhnya (lekuk-lekuk tubuhnya, ed.) ? “ Jawab : Pakaian seorang wanita yang harus tebal dan tidak menampakkan warna kulitnya (tidak transparan), dan tidak pula sempit yang menampakkan potongan tubuhnya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhtono.wordpress.com&amp;blog=12678997&amp;post=395&amp;subd=muhtono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Soal </em></strong>:</p>
<p>“ Apakah hukumnya bagi wanita yang mengenakan pakaian tipis (transparan) yang tidak menutup badannya (dengan sempurna, ed.) dan pakaian sempit (ketat) yang menampakkan bentuk tubuhnya (lekuk-lekuk tubuhnya, ed.) ? “</p>
<p><strong><em></em></strong></p>
<p><strong><em>Jawab</em></strong> :</p>
<p>Pakaian seorang wanita yang harus tebal dan tidak menampakkan warna kulitnya (tidak transparan), dan tidak pula sempit yang menampakkan potongan tubuhnya, berdasarkan hadits Nabi sholalllahu ‘alahi wa sallam : “Ada dua golongan ahli neraka (penghuni neraka) dari umatku, yang aku belum melihat mereka sebelumnya (yakni karena belum terjadi pada zaman Rosulullah sholalllahu ‘alaihi wa sallm, ed.) : (Yakni) (1). “Para wanita yang berpakaian tetapi telanjang, mereka miring (yakni condong pada penyelewengan dan kesesatan, ed.) dan mengajak orang lain miring ( yakni mengajak para wanita lainnya agar sesat dan condong pada penyelewengan seperti dirinya, ed.). Kepala-kepala mereka (yakni rambut-rambut mereka) seperti punuk unta yang miring (karena adanya hiasan di rambut kepala mereka, seperti sanggul, pita dan berbagai perhiasan lainnya, tanpa menutupnya dengan jilbab-jilbab mereka, ed.). Mereka tidak akan masuk surga, bahkan mereka tidak akan mendapati bau harumnya surga, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian. “ (HR. Muslim dan lainnya)</p>
<p>Pengertian : “Wanita yang berpakaian tetapi telanjang”, yaitu wanita yang mengenakan pakaian namun tidak menutup tubuhnya (yakni tidak menutupinya dengan sempurna, sehinggga masih nampak sebagian anggoata tubuhnya yang mestinya wajib di tutupi, ed.). Ia berpakaian tetapi pada hakekatnya tetap telanjang, seperti mengenakan pakaian tipis yang menampakkan warna kulitnya, seperti lengannya dan lain-lainnya.</p>
<p>Sesungguhnya pakaian wanita itu adalahyang menutupi tubuhnya, (yakni) yang tebal dan lebar, sehingga tidak tampak bentuk tubuhnya dan fostur badannya. Wallahu a’lam.</p>
<p>Maroji’ :</p>
<p>Di jawab oleh Syaikh Dr. Sholih bin Abdullah bin Fauzan Al-Fauzan, dalam At-Tanbihaat, hal. 23.</p>
<p>Sumber : BULETIN DAKWAH AT-TASHFIYYAH, Surabaya Edisi : 17/Robi’uts Tsani/1425</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhtono.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhtono.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhtono.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhtono.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhtono.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhtono.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhtono.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhtono.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhtono.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhtono.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhtono.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhtono.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhtono.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhtono.wordpress.com/395/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhtono.wordpress.com&amp;blog=12678997&amp;post=395&amp;subd=muhtono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhtono.wordpress.com/2010/06/07/hukum-berpakaian-syaikh-dr-sholih-bin-abdullah-bin-fauzan-al-fauzan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/044c28db147f037b6dfee6c0827a9e0a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spiritwastono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perayaan Maulid Rasulullah dalam sorotan Islam</title>
		<link>http://muhtono.wordpress.com/2010/06/06/perayaan-maulid-rasulullah-dalam-sorotan-islam/</link>
		<comments>http://muhtono.wordpress.com/2010/06/06/perayaan-maulid-rasulullah-dalam-sorotan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jun 2010 08:54:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[mengada-ada]]></category>
		<category><![CDATA[Penulis: Syaikh Abdullah Bin Abdul Aziz Bin Baz]]></category>
		<category><![CDATA[perkara baru]]></category>
		<category><![CDATA[sesat]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhtono.wordpress.com/?p=384</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Syaikh Abdullah Bin Abdul Aziz Bin Baz Segala puji bagi Allah, semoga sholawat dan salam selalu terlimpahkan kepada junjungan kita Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para sahabatnya, serta orang orang yang mendapat petunjuk dari Allah. Telah berulang kali muncul pertanyaan tentang hukum upacara (ceremoni ) peringatan maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhtono.wordpress.com&amp;blog=12678997&amp;post=384&amp;subd=muhtono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Syaikh Abdullah Bin Abdul Aziz Bin Baz</p>
<p>Segala puji bagi Allah, semoga sholawat dan salam selalu terlimpahkan kepada junjungan kita Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para sahabatnya, serta orang orang yang mendapat petunjuk dari Allah.</p>
<p>Telah berulang kali muncul pertanyaan tentang hukum upacara (ceremoni ) peringatan maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam ; mengadakan ibadah tertentu pada malam itu, mengucapkan salam atas beliau dan berbagai macam perbuatan lainnya.<br />
Jawabnya : Harus dikatakan, bahwa tidak boleh mengadakan kumpul kumpul / pesta pesta pada malam kelahiran Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan juga malam lainnya, karena hal itu merupakan suatu perbuatan baru (bid’ah ) dalam agama, selain Rasulullah belum pernah mengerjakanya, begitu pula Khulafaaurrasyidin, para sahabat lain dan para Tabi’in yang hidup pada kurun paling baik, mereka adalah kalangan orang orang yang lebih mengerti terhadap sunnah, lebih banyak mencintai Rasulullah dari pada generasi setelahnya, dan benar benar menjalankan syariatnya.</p>
<p>Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p style="text-align:right;">من أحـدث في أمـرنا هذا ما ليس منـه فهـو رد &#8220;، أي مـردود</p>
<p>“Barang siapa mengada adakan (sesuatu hal baru) dalam urusan (agama) kami yang (sebelumnya) tidak pernah ada, maka akan ditolak”.<br />
Dalam hadits lain beliau bersabda :</p>
<p style="text-align:right;">عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين بعدي، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة</p>
<p>“Kamu semua harus berpegang teguh pada sunnahku (setelah Al qur’an) dan sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk Allah sesudahku, berpeganglah dengan sunnah itu, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian sekuat kuatnya, serta jauhilah perbuatan baru ( dalam agama ), karena setiap perbuatan baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat” ( HR. Abu Daud dan Turmudzi ).<br />
Maka dalam dua hadits ini kita dapatkan suatu peringatan keras, yaitu agar kita senantiasa waspada, jangan sampai mengadakan perbuatan bid’ah apapun, begitu pula mengerjakannya.</p>
<p>Firman Allah ta’ala dalam kitab-Nya :</p>
<p style="text-align:right;">وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا واتقوا الله إن الله شديد العقاب</p>
<p>“Dan apa yang dibawa Rasul kepadamu, maka terimalah ia, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah ia, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah keras siksaan- Nya” ( QS. Al Hasyr 7 ):</p>
<p style="text-align:right;">فليحـذر الذين يخالفـون عن أمـره أن تصيبـهم فتنة أو يصيبـهم عذاب أليم</p>
<p>“Karena itu hendaklah orang orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau adzab yang pedih” ( QS. An Nur, 63 ).</p>
<p style="text-align:right;">لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا</p>
<p>“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang orang yang mengharap (rahmat ) Allah, dan ( kedatangan ) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah” ( QS. Al Ahzab,21 ).</p>
<p style="text-align:right;">والسابقون الأولون من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان رضي الله عنهم ورضوا عنه وأعد لهم جنات تجري تحتها الأنهار خالدين فيها أبدا ذلك الفوز العظيم</p>
<p>“Orang orang terdahulu lagi pertama kali (masuk Islam ) diantara orang orang Muhajirin dan Anshor dan orang orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan itu, Allah ridho kepada mereka, dan merekapun ridho kepadaNya, serta Ia sediakan bagi mereka syurga syurga yang disana mengalir beberapa sungai, mereka kekal didalamnya, itulah kemenangan yang besar” ( QS, At taubah, 100 ).</p>
<p style="text-align:right;">
اليوم أكملت لكم دينكـم وأتممت عليكـم نعمتي ورضيت لكـم الإسلام دينا</p>
<p>“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’matKu, dan telah Kuridlai Islam itu sebagai agama bagimu” ( QS. Al Maidah, 3 ).</p>
<p><span id="more-384"></span>Dan masih banyak lagi ayat ayat yang menerangkan kesempurnaan Islam dan melarang melakukan bid’ah karena mengada-adakan sesuatu hal baru dalam agama, seperti peringatan peringatan ulang tahun, berarti menunjukkan bahwasanya Allah belum menyempurnakan agamaNya buat umat ini, berarti juga Rasulullah itu belum menyampaikan apa apa yang wajib dikerjakan umatnya, sehingga datang orang orang yang kemudian mengada adakan sesuatu hal baru yang tidak diperkenankan oleh Allah, dengan anggapan bahwa cara tersebut merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tidak diragukan lagi, bahwa cara tersebut terdapat bahaya yang besar, lantaran menentang Allah ta’ala, begitu pula ( lantaran ) menentang Rasulullah. Karena sesungguhnya Allah telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-Nya, dan telah mencukupkan ni’mat-Nya untuk mereka.<br />
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan risalahnya secara keseluruhan, tidaklah beliau meninggalkan suatu jalan menuju syurga, serta menjauhi diri dari neraka, kecuali telah diterangkan oleh beliau kepada seluruh ummatnya sejelas jelasnya.<br />
Sebagaimana telah disabdakan dalam haditsnya, dari Ibnu Umar rodhiAllah ‘anhu bahwa beliau bersabda</p>
<p style="text-align:right;">ما بعث الله من نبي إلا كان حقا عليه أن يدل أمته على خير ما يعلمه لهم وينذرهم عن شر ما يعلمه لهم</p>
<p>“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi, melainkan diwajibkan baginya agar menunjukkan kepada umatnya jalan kebaikan yang telah diajarkan kepada mereka, dan memperingatkan mereka dari kejahatan ( hal hal tidak baik ) yang telah ditunjukkan kepada mereka” ( HR. Muslim ).<br />
Tidak dapat dipungkiri, bahwasanya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi terbaik diantara Nabi Nabi lain, beliau merupakan penutup bagi mereka ; seorang Nabi paling lengkap dalam menyampaikan da’wah dan nasehatnya diantara mereka itu semua.<br />
Jika seandainya upacara peringatan maulid Nabi itu betul betul datang dari agama yang diridloi Allah, niscaya Rasulullah menerangkan kepada umatnya, atau beliau menjalankan semasa hidupnya, atau paling tidak, dikerjakan oleh para sahabat. Maka jika semua itu belum pernah terjadi, jelaslah bahwa hal itu bukan dari ajaran Islam sama sekali, dan merupakan seuatu hal yang diada adakan ( bid’ah ), dimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan kepada umatnya agar supaya dijauhi, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam dua hadits diatas, dan masih banyak hadits hadits lain yang senada dengan hadits tersebut, seperti sabda beliau dalam salah satu khutbah Jum’at nya :</p>
<p style="text-align:right;">أما بعد، فإن خير الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها، وكل بدعة ضلالة</p>
<p>“Adapun sesudahnya, sesungguhnya sebaik baik perkataan ialah kitab Allah (Al Qur’an), dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan sejelek jelek perbuatan ( dalam agama) ialah yang diada adakan (bid’ah), sedang tiap tiap bid’ah itu kesesatan” ( HR. Muslim ).<br />
Masih banyak lagi ayat ayat Al Qur’an serta hadits hadits yang menjelaskan masalah ini, berdasarkan dalil dalil inilah para ulama bersepakat untuk mengingkari upacara peringatan maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan memperingatkan agar waspada terhadapnya.<br />
Tetapi orang orang yang datang kemudian menyalahinya, yaitu dengan membolehkan hal itu semua selama di dalam acara itu tidak terdapat kemungkaran seperti berlebih lebihan dalam memuji Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, bercampurnya laki laki dan perempuan (yang bukan mahram), pemakaian alat alat musik dan lain sebagainya dari hal hal yang menyalahi syariat, mereka beranggapan bahwa ini semua termasuk bid’ah hasanah padahal kaidah syariat mengatakan bahwa segala sesuatu yang diperselisihkan oleh manusia hendaknya dikembalikan kepada Al Qur’an dan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.<br />
Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman :</p>
<p style="text-align:right;">يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسن تأويلا</p>
<p>“Hai orang orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri ( pemimpin) diantara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka</p>
<p>kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Al Hadits), jika kamu benar benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama ( bagimu ) dan lebih baik akibatnya” ( QS. An nisa’, 59 ).<br />
وما اختلفتم فيه من شيء فحكمه إلى الله ذلكم الله ربي عليه توكلت وإليه أنيب</p>
<p>“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah (yang mempunyai sifat sifat demikian), itulah Tuhanku, Kepada -Nya- lah aku bertawakkal dan kepada –Nya- lah aku kembali” (QS. Asy syuro, 10).<br />
Ternyata setelah masalah ini (hukum upacara maulid Nabi) kita kembalikan kepada kitab Allah ( Al Qur’an ), kita dapatkan suatu perintah yang menganjurkan kita agar mengikuti apa apa yang dibawa oleh Rasulullah, menjauhi apa apa yang dilarang oleh beliau, dan (Al Qur’an ) memberi penjelasan pula kepada kita bahwasanya Allah subhaanahu wa ta’ala telah menyempurnakan agama umat ini.</p>
<p>Dengan demikian upacara peringatan maulid Nabi ini tidak sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia bukan dari ajaran agama yang telah disempurnakan oleh Allah subhaanahu wa ta’ala kepada kita, dan diperintahkan agar mengikuti sunnah Rasul, ternyata tidak terdapat keterangan bahwa beliau telah menjalankannya, (tidak) memerintahkannya, dan (tidak pula) dikerjakan oleh sahabat sahabatnya.<br />
Berarti jelaslah bahwasanya hal ini bukan dari agama, tetapi ia adalah merupakan suatu perbuatan yang diada adakan, perbuatan yang menyerupai hari hari besar ahli kitab, Yahudi dan Nasrani.</p>
<p>Hal ini jelas bagi mereka yang mau berfikir, berkemauan mendapatkan yang haq, dan mempunyai keobyektifan dalam membahas ; bahwa upacara peringatan maulid Nabi bukan dari ajaran agama Islam, melainkan merupakan bid’ah bid’ah yang diada adakan, dimana Allah memerintahkan RasulNya agar meninggalkanya dan memperingatkan agar waspada terhadapnya, tak layak bagi orang yang berakal tertipu karena perbuatan perbuatan tersebut banyak dikerjakan oleh orang banyak diseluruh jagat raya, sebab kebenaran (Al Haq) tidak bisa dilihat dari banyaknya pelaku (yang mengerjakannya), tetapi diketahui atas dasar dalil dalil syara’.</p>
<p>Sebagaimana Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman tentang orang orang Yahudi dan Nasrani :</p>
<p style="text-align:right;">وقالوا لن يدخل الجنة إلا من كان هودا أو نصارى تلك أمانيهم قل هاتوا برهانكم إن كنتم صادقين</p>
<p>“Dan mereka ( Yahudi dan Nasrani ) berkata : sekali kali tak (seorangpun ) akan masuk sorga, kecuali orang orang yang beragama Yahudi dan Nasrani. Demikian itu (hanya) angan angan mereka yang kosong belaka ; katakanlah : tunjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu orang orang yang benar” ( QS. Al Baqarah, 111 ).</p>
<p style="text-align:right;">وإن تطع أكثر من في الأرض يضلوك عن سبيل الله إن يتبعون إلا الظن وإن هم إلا يخرصون</p>
<p>“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang orang yang berada dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah ; mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak lain hanyalah menyangka-nyangka” ( QS. Al An’am, 116 ).</p>
<p>Lebih dari itu, upacara peringatan maulid Nabi ini – selain bid’ah –tidak lepas dari kemungkaran kemungkaran, seperti bercampurnya laki laki dan perempuan ( yang bukan mahram ), pemakaian lagu lagu dan bunyi bunyian, minum minuman yang memabukkan, ganja dan kejahatan kejahatan lainya yang serupa.</p>
<p>Kadangkala terjadi juga hal yang lebih besar dari pada itu, yaitu perbuatan syirik besar, dengan sebab mengagung agungkan Rasulullah secara berlebih lebihan atau mengagung agungkan para wali, berupa permohonan do’a, pertolongan dan rizki. Mereka percaya bahwa Rasul dan para wali mengetahui hal hal yang ghoib, dan macam macam kekufuran lainnya yang sudah biasa dilakukan orang banyak dalam upacara malam peringatan maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam itu.<br />
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p style="text-align:right;">إياكم والغلو في الدين، فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو في الدين</p>
<p>“Janganlah kalian berlebih lebihan dalam agama, karena berlebih lebihan dalam agama itu telah menghancurkan orang orang sebelum kalian”.</p>
<p style="text-align:right;">لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم، إنما أنا عبد، فقولوا عبد الله ورسوله &#8221; رواه البخاري في صحيحه من حديث عمر رضي الله عنه</p>
<p>“Janganlah kalian berlebih lebihan dalam memujiku sebagaimana orang orang Nasrani memuji anak Maryam, Aku tidak lain hanyalah seorang hamba, maka katakanlah : hamba Allah dan Rasul Allah” ( HR. Bukhori dalam kitab shohihnya, dari hadits Umar, Radliyallahu ‘anhu ).</p>
<p>Yang lebih mengherankan lagi yaitu banyak diantara manusia itu ada yang betul betul giat dan bersemangat dalam rangka menghadiri upacara bid’ah ini, bahkan sampai membelanya, sedang mereka berani meninggalkan sholat Jum’at dan sholat jama’ah yang telah diwajibkan oleh Allah kepada mereka, dan sekali kali tidak mereka indahkan. Mereka tidak sadar kalau mereka itu telah mendatangkan kemungkaran yang besar, disebabkan karena lemahnya iman kurangnya berfikir, dan berkaratnya hati mereka, karena bermacam macam dosa dan perbuatan maksiat. Marilah kita sama sama meminta kepada Allah agar tetap memberikan limpahan karuniaNya kepada kita dan kaum muslimin.</p>
<p>Diantara pendukung maulid itu ada yang mengira, bahwa pada malam upacara peringatan tersebut Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam datang, oleh kerena itu mereka berdiri menghormati dan menyambutnya, ini merupakan kebatilan yang paling besar, dan kebodohan yang paling nyata. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan bangkit dari kuburnya sebelum hari kiamat, tidak berkomunikasi kepada seorangpun, dan tidak menghadiri pertemuan pertemuan umatnya, tetapi beliau tetap tinggal didalam kuburnya sampai datang hari kiamat, sedangkan ruhnya ditempatkan pada tempat yang paling tinggi (‘Illiyyin ) di sisi TuhanNya, itulah tempat kemuliaan.</p>
<p>Firman Allah dalam Al Qur’an :</p>
<p style="text-align:right;">ثم إنكم بعد ذلك لميتون ثم إنكم يوم القيامة تبعثون</p>
<p>“Kemudian sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian pasti mati, kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan ( dari kuburmu ) di hari kiamat” ( QS. Al Mu’minun, 15-16 ).<br />
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p style="text-align:right;">أنا أول من ينشق عنه القبر يوم القيامة، وأنا أول شافع وأول مشفع</p>
<p>“Aku adalah orang yang pertama kali dibangkitkan / dibangunkan diantara ahli kubur pada hari kiamat, dan aku adalah orang yang pertama kali memberi syafa’at dan diizinkan memberikan syafa’at”.</p>
<p>Ayat dan hadits diatas, serta ayat ayat dan hadits hadits yang lain yang semakna menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan mayat mayat yang lainnya tidak akan bangkit kembali kecuali sesudah datangnya hari kebangkitan. Hal ini sudah menjadi kesepakatan para ulama, tidak ada pertentangan diantara mereka.</p>
<p>Maka wajib bagi setiap individu muslim memperhatikan masalah masalah seperti ini, dan waspada terhadap apa apa yang diada adakan oleh orang orang bodoh dan kelompoknya, dari perbuatan perbuatan bid’ah dan khurafat khurafat, yang tidak diturunkan oleh Allah subhaanahu wa ta’ala. Hanya Allah lah sebaik baik pelindung kita, kepada-Nyalah kita berserah diri dan tidak ada kekuatan serta kekuasaan apapun kecuali kepunyaan-Nya.<br />
Sedangkan ucapan sholawat dan salam atas Rasulullah adalah merupakan pendekatan diri kepada Allah yang paling baik, dan merupakan perbuatan yang baik, sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an :</p>
<p style="text-align:right;">إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما</p>
<p>“Sesungguhnya Allah dan Malaikat malaikatNya bersholawat kepada Nabi, hai orang orang yang beriman, bersholawatlah kalian atas Nabi dan ucapkanlah salam dengan penghormatan kepadanya” ( QS. Al Ahzab, 56 ).<br />
Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p style="text-align:right;">من صلى علي واحدة صلى الله عليه بها عشرا</p>
<p>“Barang siapa yang mengucapkan sholawat kepadaku sekali, maka Allah akan bersholawat ( memberi rahmat ) kepadanya sepuluh kali lipat.”<br />
Sholawat itu disyariatkan pada setiap waktu, dan hukumnya Muakkad jika diamalkan pada ahir setiap sholat, bahkan sebagian para ulama mewajibkannya pada tasyahud ahir di setiap sholat, dan sunnah muakkadah pada tempat lainnya, diantaranya setelah adzan, ketika disebut nama</p>
<p>Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, pada hari Jum’at dan malamnya, sebagaimana hal itu diterangkan oleh hadits hadits yang cukup banyak jumlahnya.</p>
<p>Allah lah tempat kita memohon, untuk memberi taufiq kepada kita sekalian dan kaum muslimin, dalam memahami agama Nya, dan memberi mereka ketetapan iman, semoga Allah memberi petunjuk kepada kita agar tetap kosisten dalam mengikuti sunnah, dan waspada terhadap bid’ah, karena Dialah MahaPemurah dan MahaMulia, semoga pula sholawat dan salam selalu dilimpahkan kepada junjungan besar Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam.<br />
Dikutip dari الحذر من البدع Tulisan Syaikh Abdullah Bin Abdul Aziz Bin Baz, Mufti Saudi Arabia. Penerbit Departemen Agama Saudi Arabia. Edisi Indonesia &#8220;Waspada terhadap Bid&#8217;ah&#8221;.</p>
<p>Referensi: www.salafy.or.id</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhtono.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhtono.wordpress.com/384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhtono.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhtono.wordpress.com/384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhtono.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhtono.wordpress.com/384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhtono.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhtono.wordpress.com/384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhtono.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhtono.wordpress.com/384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhtono.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhtono.wordpress.com/384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhtono.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhtono.wordpress.com/384/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhtono.wordpress.com&amp;blog=12678997&amp;post=384&amp;subd=muhtono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhtono.wordpress.com/2010/06/06/perayaan-maulid-rasulullah-dalam-sorotan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/044c28db147f037b6dfee6c0827a9e0a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">spiritwastono</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
