Lebih Penting Khilafah ataukah Dakwah Tauhid?

•August 9, 2010 • 1 Comment

Boleh jadi, banyak orang beranggapan bahwa masalah tauhid itu penting dan utama, bahkan wajib. Anggapan ini seratus persen benar. Namun, karena dalam kacamata sebagian orang, tauhid itu -meskipun penting dan utama, bahkan wajib- sempit cakupannya atau ‘terlalu’ mudah untuk direalisasikan -dan bahkan menurut mereka praktek dan pemahaman tauhid pada diri masyarakat  sudah beres semuanya- maka akhirnya banyak di antara mereka yang meremehkan atau bahkan melecehkan da’i-da’i yang senantiasa mendengung-dengungkannya.

Terkadang muncul celetukan di antara mereka, “Kalian ini ketinggalan jaman, hari gini masih bicara tauhid?”. Atau yang lebih halus lagi berkata, “Agenda kita sekarang bukan lagi masalah TBC -takhayul, bid’ah dan churafat-, sekarang kita harus lebih perhatian terhadap agenda kemanusiaan.” Atau yang lebih cerdik lagi berkata, “Kalau kita meributkan masalah aqidah umat itu artinya kita su’udzan kepada sesama muslim, padahal su’udzan itu dosa! Jangan kalian usik mereka, yang penting kita bersatu dalam satu barisan demi tegaknya khilafah!”. Allahul musta’aan

Sampai Kapan Kita Bicara Tauhid?

Tauhid adalah agenda terbesar umat Islam di sepanjang zaman. Sebab tauhid adalah hikmah penciptaan, tujuan hidup setiap insan, misi dakwah para nabi dan rasul, dan muatan kitab-kitab suci yang Allah turunkan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kalian siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (QS. al-Mulk: 2). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul -yang menyeru-; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. an-Nahl: 36). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Kami utus sebelum kamu -hai Muhammad- seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepada mereka, bahwasanya tidak ada sesembahan -yang benar- kecuali Aku, maka sembahlah Aku saja.” (QS. al-Anbiya’: 25)

Bahkan, tauhid adalah syarat pokok diterimanya amalan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan janganlah mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. al-Kahfi: 110). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh, apabila kamu berbuat syirik maka benar-benar semua amalanmu akan terhapus, dan kamu pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. az-Zumar: 65). Lebih daripada itu, kemusyrikan -sebagai lawan dari tauhid- menjadi sebab seorang hamba terhalang  masuk surga untuk selama-lamanya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah haramkan atasnya surga dan tempat kembalinya adalah neraka, dan sama sekali tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.” (QS. al-Maa’idah: 72). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku, seluruhnya adalah untuk Allah Rabb seluruh alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan itulah aku diperintahkan, dan aku adalah orang yang pertama kali pasrah.” (QS. al-An’aam: 162-163).

Oleh sebab itu, berbicara masalah tauhid berarti berbicara mengenai hidup matinya kaum muslimin dan keselamatan mereka di dunia maupun di akherat. Berbicara masalah tauhid adalah berbicara tentang tugas mereka sepanjang hayat masih dikandung badan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sembahlah Rabbmu sampai datang kematian.” (QS. al-Hijr: 99). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, dia pasti masuk neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu). Maka dengan alasan apakah agenda yang sangat besar ini dikesampingkan?

Continue reading ‘Lebih Penting Khilafah ataukah Dakwah Tauhid?’

Yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menimpa umatnya (Ustadz Abu Yahya Badrusalam)- Bagian 3

•August 7, 2010 • Leave a Comment

Yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

untuk menimpa umatnya

(bagian 3)

1. Anak-anak muda yang menjadikan Al Qur’an sebagai seruling-seruling.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhawatirkan adanya pemuda-pemuda yang menjadikan Al Qur’an sebagai seruling-seruling, namun dalam hadits lain beliau menganjurkan untuk membaguskan suara ketika membaca Al Qur’an, sabdanya:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ.

“Bukan dari golongan kami orang yang tidak taghanni (membaguskan suara) ketika membaca Al Qur’an”. (HR Al Bukhari).

Dan para ulama berbeda pendapat mengenai makna “taghanni“, sebagian mereka mengatakan bahwa maknanya adalah mencukupkan diri dengan Al Qur’an, sebagian lagi mengatakan bahwa maknanya adalah membacanya dengan nada sedih, sebagian lagi mengatakan bahwa maknanya adalah membaguskan suara ketika baca Al Qur’an dan pendapat-pendapat lainnya. Namun Al Hafidz berpendapat bahwa makna-makna itu masuk kedalam hadits tersebut, beliau berkata:

والحاصل أنه يمكن الجمع بين أكثر التأويلات المذكورة وهو أنه يحسن به صوته جاهرا به مترنما على طريق التحزن مستغنيا به عن غيره من الأخبار طالبا به غنى النفس..

“Walhasil, semua pendapat-pendapat tersebut dapat dikumpulkan, yaitu membaguskan dan mengeraskan suaranya dengan nada sedih, mencukupkan diri dengannya dan tidak membutuhkan yang lainnya, mencari kekayaan jiwa dengannya..[1]

Dan membaguskan suara dalam membaca Al Qur’an bukanlah dengan nada-nada yang diada-adakan sebagaimana yang kita lihat di zaman ini, imam ibnu Katsir rahimahullah berkata:

المطلوب شرعا إنما هو التحسين بالصوت الباعث على تدبر القرآن وتفهمه والخشوع والخضوع والإنقياد للطاعة فأما الأصوات بالنغمات المحدثة المركبة على الأوزان والأوضاع الملهية والقانون الموسيقائى فالقرآن ينزه عن هذا ويجل ويعظم أن يسلك فى أدائه هذا المذهب

“Yang diminta oleh syari’at adalah membaguskan suara yang membangkitkan keinginan untuk mentadabburi Al Qur’an, memahami, khusyu’, tunduk dan taat. Adapun membaca Al Qur’an dengan nada-nada yang diada-adakan dengan wazan-wazan yang melalaikan dan aturan musik, maka Al Qur’an harus disucikan darinya, dan dibersihkan dari cara-cara seperti itu”.[2]

Terlebih bila nada-nada tersebut menyerupai nyanyian, maka ini diharamkan karena mengandung nilai tasyabbuh (menyerupai) orang-orang fasiq, Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata: “Seorang mukmin tidak boleh membaca Al Qur’an dengan nada menyanyi dan cara-cara para penyanyi. Kewajiban ia adalah membacanya sebagaimana salafushalih dari para shahabat dahulu membacanya, yaitu dengan secara tartil, nada sedih dan khusyu’ sehingga berpengaruh kepada hati orang yang mendengarnya”.[3]

Dan inilah yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang telah berlalu, yaitu adanya para pemuda yang menjadikan Al Qur’an sebagai seruling-seruling. Karena membaca Al Qur’an dengan nada-nada yang diindah-indahkan bagaikan nyanyian, amat mudah menjerumuskan pelakunya kepada riya’ dan keinginan untuk populer.

2. Banyaknya algojo (yang zalim).

Para algojo yang zalim yang diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits lain:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا.

“Dua kelompok dari ahli Neraka yang belum pernah aku melihatnya: suatu kaum yang membawa cambuk bagaikan ekor-ekor sapi, ia memukuli manusia dengannya. Dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, yang berjalan berlenggak-lenggok, kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring, mereka tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya, dan bau surga itu tercium dari jarak sekian dan sekian”. (HR Muslim).

Syaikh Abdur Rauf Al Munawi berkata: “(Mereka adalah) suatu kaum yang membawa cambuk yang tidak diperbolehkan untuk memukulnya dalam menegakkan hadd, namun ia sengaja melakukannya untuk menyiksa manusia, mereka adalah para algojo yang dikenal dengan nama Al Jallaadiin (yang suka mencambuk). Apabila mereka diperintahkan untuk memukul, mereka melakukannya melebihi batasan yang disyari’atkan, bahkan seringkali menyebabkan orang yang dipukulnya binasa..”.[4]

3. Pemikiran Khawarij.

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ رَجُلاً قَرَأَ الْقُرْآنَ حَتَّى إِذَا رُئِيَتْ بَهْجَتُهُ عَلَيْهِ وَكَانَ رِدْءًا لِلإِِسْلاَمِ انْسَلَخَ مِنْهُ وَنَبَذَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ وَسَعَى عَلَى جَارِهِ بِالسَّيْفِ وَرَمَاهُ بِالشِّرْكِ ، قَالَ : قُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللهِ ، أَيُّهُمَا أَوْلَى بِالشِّرْكِ الْمَرْمِيُّ أَوِ الرَّامِي ، قَالَ : بَلِ الرَّامِي.

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kamu adalah seseorang yang membaca Al Qur’an, sehingga apabila telah diperlihatkan kepadanya keindahannya dan tadinya ia adalah pembela islam, tiba-tiba ia lepas darinya dan melemparkan (Al Qur’an) ke belakangnya, dan mendatangi tetangganya dengan membawa pedang dan menuduhnya dengan kesyirikan”.

Aku berkata: “Wahai Nabi Allah, siapakah yang lebih layak kepada kesyirikan, yang dituduh atau yang menuduh?” Beliau menjawab: “Yang menuduh (lebih layak)”. (HR Al Bazzar).[5]

Hadits ini memberitakan kepada kita tentang adanya orang-orang yang banyak hafal Al Qur’an namun menuduh saudaranya dengan kekafiran, bahkan mengkafirkan saudaranya karena dosa-dosa yang ia anggap mengeluarkan pelakunya dari islam, dan menghalalkan darahnya.

Dalam hadits lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam mengabarkan bahwa mereka membaca Al Qur’an namun tidak sampai ke kerongkongannya, beliau bersabda:

يَخْرُجُ مِنْهُ قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنْ الرَّمِيَّةِ.

“Akan keluar darinya (Iraq) suatu kaum yang membaca Al Qur’an namun tidak sampai ke tenggorokannya, mereka lepas dari islam seperti melesatnya panah dari buruannya”. (HR Bukhari).

Dan yang dimaksud dengan “tidak sampai ke tenggorokannya” adalah memahaminya dengan pemahaman yang tidak benar, ia mengira bahwa itu adalah dalil yang menguatkan alasannya, namun sebenarnya tidak demikian saking dangkalnya pemahaman mereka, sebagaimana yang ditunjukkan dalam riwayat lain:

يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِي يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَتْ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ شَيْئًا وَلَا صَلَاتُكُمْ إِلَى صَلَاتِهِمْ شَيْئًا وَلَا صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ شَيْئًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ لَا تُجَاوِزُ صَلَاتُهُمْ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ..

“Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Al Qur’an, bacaan kamu dibandingkan dengan bacaan mereka tidak ada apa-apanya, demikian pula shalat dan puasa kamu dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka tidak ada apa-apanya. Mereka mengira bahwa Al Qur’an itu hujjah yang membela mereka, padahal ia adalah hujah yang menghancurkan alasan mereka. Shalat mereka tidak sampai ke tenggorokan, mereka lepas dari islam sebagaimana melesatnya anak panah dari buruannya”. (HR Abu Dawud).

Bahkan merekapun membawakan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun difahami dengan pemahaman yang tidak benar, sabda Nabi:

يَأْتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ..

“Akan ada di akhir zaman suatu kaum yang usianya muda, dan pemahamannya dangkal, mereka mengucapkan perkataan manusia yang paling baik (Rasulullah), mereka lepas dari islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya, iman mereka tidak sampai ke tenggorokan..”. (HR Bukhari).

Continue reading ‘Yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menimpa umatnya (Ustadz Abu Yahya Badrusalam)- Bagian 3’

Yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menimpa umatnya (Ustadz Abu Yahya Badrusalam)- Bagian 2

•August 7, 2010 • Leave a Comment

Yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

untuk menimpa umatnya

(bagian 2)

1. Para pemimpin yang menyesatkan.

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الْأَئِمَّةُ الْمُضِلُّونَ.

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah para imam yang menyesatkan”. (HR Ahmad).[1]

Para imam yang menyesatkan yang menyeru manusia kepada pintu-pintu neraka, sebagaimana yang diisyaratkan dalam hadits Hudzaifah:

قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا فَقَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا

” Aku berkata: “Apakah setelah kebaikan itu akan ada lagi keburukan ?”

Beliau menjawab: “Iya, yaitu akan ada para penyeru kepada pintu-pintu Jahannam, siapa yang mengikutinya akan dilemparkan ke dalamnya”.

Aku berkata: “Wahai Rasulullah, sifatkan mereka kepada kami ?”

Beliau menjawab: “Mereka dari kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita (umat islam.pen)”. (HR Bukhari dan Muslim).[2]

Terlebih di zaman ini, para imam yang menyesatkan amat banyak, terutama kaum Liberal dan antek-anteknya, yang berusaha merusak aqidah islam dan melontarkan syubhat-syubhat yang dahsyat dengan berbagai macam cara, semoga Allah menghancurkan mereka dan memberikan sanksi yang setimpal dengan kejahatan mereka.

Cara jitu menyesatkan manusia.

Saudaraku, sesungguhnya para imam kesesatan itu mempunyai banyak cara dalam menyesatkan manusia, diantara caranya adalah yang dituturkan oleh imam Asy Syathibi beliau berkata: “Setiap orang yang mengikuti mutasyabihat atau merubah-rubah manath[3] atau menafsirkan ayat-ayat dengan penafsiran yang tidak pernah difahami oleh salafusshalih atau berpegang dengan hadits-hadits yang lemah atau memahami dalil dengan pemahaman yang dangkal untuk membenarkan perbuatan atau perkataan atau keyakinan yang sesuai dengan seleranya maka ia tidak akan pernah beruntung.. barang siapa yang ingin menyelamatkan dirinya hendaklah ia tatsabbut (memeriksa dengan teliti) sampai menjadi jelas kepadanya jalan (kebenaran), namun barang siapa yang meremehkan masalah ini, ia akan dilemparkan oleh hawa nafsu dalam jurang yang tidak ada tempat keselamatan kecuali dengan apa yang Allah kehendaki”.[4]

Perkataan Imam Asy Syathibi di atas menyebutkan beberapa cara yang digunakan para imam yang menyesatkan dalam mengelabui manusia, yaitu:

Pertama: Mengikuti mutasyabihat.

Mutasyabihat adalah ayat-ayat yang tidak ada yang mengetahui maknanya kecuali Allah sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“.. Adapun orang-orang yang hatinya condong (kepada kesesatan) mereka mengikuti yang mutasyabih karena menginginkan fitnah dan mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya kecuali Allah..”. (Ali Imran : 7).

Contohnya adalah ayat-ayat yang menyebutkan tentang sifat-sifat Allah Ta’ala, dimana dari sisi maknanya telah diketahui dalam bahasa arab namun dari sisi hakikat dan tata caranya tidak ada yang mengetahuinya selain Allah, seperti sifat yad yang artinya tangan dari sisi sini maknanya jelas namun hakikat bentuknya tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, dan ahlussunnah menetapkan sifat tangan bagi Allah dan mengatakan bahwa tangan Allah tidak serupa dengan tangan makhluk-Nya.

Akan tetapi kelompok jahmiyah dan Mu’tazilah mengikuti mutasyabihat, mereka tidak dapat menerima ayat-ayat seperti ini karena mereka memikirkan hakikat dan bentuk tangan Allah dengan akal mereka yang lemah, lalu menyerupakan Allah dengan makhluknya dengan mengatakan: “Bila Allah mempunyai tangan berarti Allah berupa jasad renik yang membutuhkan satu sama lainnya”. Hasilnya mereka menolak sifat ini dan menta’wil maknanya dengan mengatakan bahwa maksud tangan adalah ni’mat dan sebagainya. Maha suci Allah dari apa yang mereka katakan.

Sebagian ulama menafsirkan makna mutasyabihat bahwa ia adalah ayat yang mengandung beberapa makna dan tidak mungkin menentukan salah satu maknanya kecuali dengan merujuk ayat yang muhkam.[5] Dan makna inipun benar dan tidak bertentangan dengan ayat di atas, karena hanya Allah yang mengetahui maknanya dan makna yang benar telah Allah jelaskan dalam ayat-ayat yang muhkam, oleh karena itu sikap yang benar terhadap ayat-ayat mutsyabihat adalah dengan mengembalikannya kepada ayat-ayat yang muhkam bila ada, dan bila tidak ada maka tetap mengimaninya tanpa bertanya tata caranya. Wallahu a’lam.

ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Adapun tata cara para shahabat, tabi’in dan para ulama hadits seperti Asy Syafi’I, Ahmad, Malik, Abu Hanifah, Abu Yusuf, Al bukhari dan lainnya adalah mereka mengembalikan dalil yang mutsyabih kepada dalil yang muhkam, dan mereka mengambil dalil yang muhkam untuk menjelaskan dalil yang mutasyabih, sehingga dalil yang mutasyabih tersebut sepakat dengan yang muhkam, dan nash pun saling berpadu; membenarkan satu sama lainnya, karena semuanya berasal dari Allah, dan yang berasal dari Allah tidak mungkin terjadi padanya kontradiksi.”[6]

Contohnya adalah kata yad, dalam bahasa arab ia mempunyai beberapa makna yaitu tangan, ni’mat dan lainnya sehingga kaum Asy ‘Ariyah menolat sifat tangan dengan alasan bahwa makna yad dalam bahasa arab mempunyai beberapa makna, padahal bila kita melihat redaksi ayat yang muhkam tampak dengan jelas bahwa yang dimaksud adalah tangan, Allah berfirman:

“Bahkan kedua tangan Allah terbuka, Dia berinfak sesuai dengan apa yang Dia kehendaki”. (Al Maidah : 64).

Dalam ayat ini disebutkan kata yad dengan bentuk mutsanna (dua), sedangkan ni’mat Allah amatlah banyak tidak hanya dua, sebagaimana dalam ayat:

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, kamu tidak akan dapat menghitungnya”. (Ibrahim : 34).

Continue reading ‘Yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menimpa umatnya (Ustadz Abu Yahya Badrusalam)- Bagian 2’

Yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menimpa umatnya (Ustadz Abu Yahya Badrusalam)- Bagian 1

•August 7, 2010 • Leave a Comment

Yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

untuk menimpa umatnya

(bagian 1)

1. Dibukanya pintu kesenangan dunia.

إِنِّ مِمَّا أَخَافُ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِي مَا يُفْتَحُ عَلَيْكُمْ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا وَزِينَتِهَا

“Sesungguhnya diantara perkara yang aku khawatirkan atas kalian setelahku adalah dibukakan kepadamu kesenangan dunia dan perhiasannya”. (HR Bukhari dan Muslim).

Dunia telah disifati oleh Allah sebagai kesenangan yang menipu, berbangga-bangga dengan harta dan anak-anak. Allah Ta’ala berfirman:

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga diantara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridlaannya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (Al Hadiid : 20).

Kesenangan dunia dan perhiasannya telah menjadikan banyak manusia lupa dan lalai, oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mengkhawatirkan umatnya dilalaikan dengan mengejar dunia dan melupakan kehidupan akhirat, karena yang demikian itu menyebabkan kaum muslimin mendapatkan hal yang tidak diinginkan yaitu:

a. Menjadi terhina di hadapan kaum kuffar.

Sebagaimana sabda Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam :

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Apabila kamu berjual beli dengan cara riba, mengambil ekor sapi, rela dengan tanaman dan meninggalkan jihad (membela agama), Allah akan kuasakan kehinaan kepadamu dan Dia tidak akan mencabutnya sampai kamu kembali kepada agamamu (yang benar)”. (HR Abu Dawud dan lainnya).[1]

Ini artinya kaum muslimin lebih mencintai dunia dan tidak mau membela agama Allah karena lebih disibukkan dengan mengejar dunia dan perhiasannya walaupun dengan cara yang diharamkan oleh Allah ‘Azza wajalla, sehingga kewibawaan kaum musliminpun hilang dan Allah jadikan mereka terhina bagaikan buih yang bawa oleh banjir. Rosulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Hampir-hampir umat-umat kafir saling memanggil untuk melahap kalian sebagaimana orang-orang lapar saling memanggil untuk melahap hidangan“. Lalu seorang shahabat berkata: ”Apakah jumlah kita sedikit waktu itu ? beliau bersabda: ”Justru jumlah kalian banyak pada waktu itu, akan tetapi seperti buih yang dibawa oleh banjir, dan Allah benar-benar akan mencabut rasa takut kepada kalian dari dada-dada mereka, dan melemparkan kepada hati kalian al wahan“. Seorang sahabat berkata: ”Apakah al wahan itu ? beliau bersabda: ”cinta dunia dan takut mati“. (HR Abu Dawud no 4297 dan dishohihkan oleh Syeikh Al Bani dalam shohih Sunan Abi Dawud).

b. Saling menumpahkan darah.

Cinta dunia menjadikan manusia gelap mata dan kikir, sehingga mereka berlomba mencarinya dengan berbagai macam cara walaupun harus dengan menumpahkan darah saudaranya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ.

“Jauhilah berbuat zalim karena kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat, Jauhilah syuhh (sangat kikir) karena sangat kikir itu telah membinasakan orang-orang sebelum kamu, dan membawa mereka untuk menumpahkan darah dan menganggap halal wanita-wanita mereka”. (HR Muslim).

Sifat syuhh muncul akibat cinta dunia yang amat sangat, Ath Thibi rahimahullah berkata: “Bakhil adalah kikir dan syuhh adalah bakhil yang disertai berbuat zalim, (dalam hadits ini) disebutkan syuhh setelah menyebutkan zalim untuk menunjukkan bahwa syuhh adalah macam zalim yang paling berat akibat dari cinta dunia dan kelezatannya”.[2]

Sejarahpun telah mencatat bagaimana kaum muslimin saling menumpahkan darah untuk merebut tahta, sebagaimana disebutkan bahwa ketika banu umayah telah ditumbangkan oleh banu Abasiyah, setiap harinya algojo-algojo banu Abasiyah membunuh delapan puluh orang dari banu umayah lalu mereka menggelar tikar dan makan minum di atas mayat-mayatnya. Dunia islam tak pernah sepi dari perang saudara sebagaimana yang kita baca dalam kitab-kitab sejarah akibat cinta dunia dan kelezatannya. Allahul musta’an.

c. Tidak peduli halal dan haram.

Cinta dunia menjadikan manusia membabi buta tak peduli kepada halal dan haram, tidak ada lagi rasa takut kepada siksa Allah Ta’ala, ia mencari rizki tanpa mempedulikan hukum-hukum Allah sebagaimana disebutkan dalam hadits:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

“Sesungguhnya akan datang kepada manusia suatu zaman dimana seseorang tidak memperdulikan dengan apa ia mengambil harta, apakah dari yang halal ataukah dari yang haram”. (HR Bukhari).

Perkara-perkara ini yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atas umatnya apabila kesenangan dunia dibukakan kepada mereka, oleh karena itu beliau menganggap bahwa orang yang rakus dengan dunia dan tamak kepada harta lebih berbahaya dari serigala lapar, beliau bersabda:

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

“Tidaklah dua serigala lapar yang dilepaskan kepada seekor kambing lebih berbahaya untuk agama seseorang dari orang yang rakus terhadap harta dan kedudukan”. (HR At Tirmidzi dan lainnya).

Ibnu Rajab rahimahullah berkata: “Ini adalah permisalan yang agung yang diumpamakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bagi kerusakan agama seorang muslim akibat rakus terhadap harta dan kedudukan dunia dan bahwa kerusakannya tidak lebih berat dari rusaknya kambing yang dimangsa oleh dua ekor serigala lapar..”.[3]

Continue reading ‘Yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menimpa umatnya (Ustadz Abu Yahya Badrusalam)- Bagian 1’

Pandangan MUI

•July 13, 2010 • Leave a Comment

(Sumber: http://salafitobat.wordpress.com)

Buat ikhwan yang juga mengalami tekanan di lingkungan atau keluarganya, semoga ini dapat bermanfaat. Karena terkadang sebagian kaum muslimin yang belum mengenal manhaj salaf (seperti kaum tradisional yang biasanya mengandalkan hawanafsu bukan ilmu), selalu bertindak anarkis dan tidak bisa diajak dialog. Sehingga dibutuhkan sekali Pandangan MUI seperti ini

Buat Bloger Salafyyin supaya dimuat Pandangan MUI ini di Blog antum, agar dapat menyebar luas.

Jazzakallah khairan,…

Klik Fatwa MUI (File PDF)

MAJELIS ULAMA INDONESIA

Kotamadya Jakarta Utara

Jl. Yos Sudarso No. 27-29 Telp. (021) 4357422, 4301124 Ext. 5375,

Fax. 4357422 Jakarta

================================================

Pandangan Majelis Ulama Indonesia

Kota Administrasi Jakarta Utara

Tentang

SALAF/SALAFI

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Administrasi Jakarta Utara,

MENIMBANG : a. bahwa pada akhir-akhir ini berkembang kajian-kajian salaf di beberapa daerah yang banyak masyarakat belum memahami makna salaf itu;

b. bahwa terjadi kesalah pahaman dalam memahami salaf;

c. bahwa muncul vonis sesat kepada keberadaan kajian-kajian salaf;

d. bahwa oleh karena itu, MUI Kota Administrasi Jakarta Utara perlu memberikan penjelasan tentang salaf/salafi, agar masyarakat tidak mudah terprovokasi.

MENGINGAT :

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. Al-Hujuraat : 6)

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (QS. Al-Ahzaab [33] : 36)

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. An-Nisaa [4] : 59)

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”. (QS. Al-An’am [6] : 116)

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu”. (QS. Al-Mu’minuun [23] : 71)

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. At-Taubah [9] : 100)

Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « كُلُّ أُمَّتِى يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ ، إِلاَّ مَنْ أَبَى » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ « مَنْ أَطَاعَنِى دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِى فَقَدْ أَبَى »

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seluruh ummatku masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya: wahai Rasulullah siapakah yang enggan?. Beliau menjawab: “Siapa yang ta’at kepadaku masuk surga dan yang ma’shiyat kepadaku maka ia enggan (masuk surga).” (H.R. Al-Bukhari)

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( تركت فيكم شيئين لن تضلوا بعدهم ( ما تمسكتم بهما ) كتاب الله وسنتي ولن يتفرقا حتى يردا على الحوض ) . أخرجه مالك مرسلا والحاكم مسندا وصححه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku tinggalkan pada kalian dua hal kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang dengan keduanya, (yaitu) Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnahku. Keduanya tidak akan berpisah sehingga masuk ke telaga (Al-Kautsar). (H.R. Malik secara mursal dan Al-Hakim dengan sanad yang bersambung dan ia mensahihkannya)

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مِينَاءَ حَدَّثَنَا أَوْ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ جَاءَتْ مَلاَئِكَةٌ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَهْوَ نَائِمٌ فَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّهُ نَائِمٌ . وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ الْعَيْنَ نَائِمَةٌ وَالْقَلْبَ يَقْظَانُ . فَقَالُوا إِنَّ لِصَاحِبِكُمْ هَذَا مَثَلاً فَاضْرِبُوا لَهُ مَثَلاً . فَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّهُ نَائِمٌ . وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ الْعَيْنَ نَائِمَةٌ وَالْقَلْبَ يَقْظَانُ . فَقَالُوا مَثَلُهُ كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى دَارًا ، وَجَعَلَ فِيهَا مَأْدُبَةً وَبَعَثَ دَاعِيًا ، فَمَنْ أَجَابَ الدَّاعِىَ دَخَلَ الدَّارَ وَأَكَلَ مِنَ الْمَأْدُبَةِ ، وَمَنْ لَمْ يُجِبِ الدَّاعِىَ لَمْ يَدْخُلِ الدَّارَ وَلَمْ يَأْكُلْ مِنَ الْمَأْدُبَةِ . فَقَالُوا أَوِّلُوهَا لَهُ يَفْقَهْهَا فَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّهُ نَائِمٌ . وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ الْعَيْنَ نَائِمَةٌ وَالْقَلْبَ يَقْظَانُ . فَقَالُوا فَالدَّارُ الْجَنَّةُ ، وَالدَّاعِى مُحَمَّدٌ – صلى الله عليه وسلم – فَمَنْ أَطَاعَ مُحَمَّدًا – صلى الله عليه وسلم – فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ، وَمَنْ عَصَى مُحَمَّدًا – صلى الله عليه وسلم – فَقَدْ عَصَى اللَّهَ ، وَمُحَمَّدٌ – صلى الله عليه وسلم – فَرْقٌ بَيْنَ النَّاسِ .

Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, berkata: (suatu ketika) datang para malaikat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala beliau tidur. Sebagian mereka berkata ia sedang tidur, sebagian lain menjawab, matanya tertidur tetapi hatinya terjaga. Mereka berkata: sesungguhnya teman kalian ini (Nabi Muhammad-penj) memiliki perumpamaan, maka jadikanlah untuknya perumpamaan. Sebagian mereka berkata ia sedang tidur, sebagian lain menjawab, matanya tertidur tetapi hatinya terjaga. Mereka berkata, perumpamaannya seperti orang yang membangun rumah, menyediakan hidangan dan mengundang orang untuk datang. Siapa orang yang menjawab undangan, maka ia akan masuk rumah dan menyantap hidangan. Yang tidak menjawab undangan maka tidak masuk ke dalam rumah dan tidak menyantap hidangan. Mereka berkata, jelaskan ma’na perumpamaan itu kepadanya agar ia memahaminya. Sebagian mereka berkata ia sedang tidur, sebagian lain menjawab, matanya tertidur tetapi hatinya terjaga. Mereka berkata rumah adalah (perumpamaan) surga, orang yang mengundang adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka siapa orang yang ta’at kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia ta’at kepada Allah. Siapa orang yang menentang Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia telah menentang Allah. Muhammad adalah pembela diantara manusia (antara yang ta’at dan yang menentang). (H.R. Al-Bukhari)

MEMPERHATIKAN :

Keterangan dan penjelasan dari beberapa da’i salafi yang telah dikonfirmasi oleh pihak MUI Kota Administrasi Jakarta Utara.

Dengan bertawakkal kepada Allah subhanahu wa ta’ala,

MEMUTUSKAN

MENETAPKAN : PANDANGAN MUI KOTA ADMINISTRASI JAKARTA UTARA TENTANG SALAFI

Pertama : Penjelasan tentang apa itu SALAF/SALAFI

1. Salaf/salafi tidak termasuk ke dalam 10 kriteria sesat yang telah ditetapkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), sehingga Salaf/salafi bukanlah merupakan sekte atau aliran sesat sebagaimana yang berkembang belakangan ini.

2. Salaf/salafi adalah nama yang diambilkan dari kata salaf yang secara bahasa berarti orang-orang terdahulu, dalam istilah adalah orang-orang terdahulu yang mendahului kaum muslimin dalam Iman, Islam dst. mereka adalah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka.

3. Penamaan salafi ini bukanlah penamaan yang baru saja muncul, namun telah sejak dahulu ada.

4. Dakwah salaf adalah ajakan untuk memurnikan agama Islam dengan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan menggunakan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Kedua : Nasehat dan Tausiyah kepada masyarakat

1. Hendaknya masyarakat tidak mudah melontarkan kata sesat kepada suatu dakwah tanpa diklarifikasi terlebih dahulu.

2. Hendaknya masyarakat tidak terprovokasi dengan pernyataan-pernyataan yang tidak bertanggung jawab.

3. Kepada para da’i, ustadz, tokoh agama serta tokoh masyarakat hendaknya dapat menenangkan serta memberikan penjelasan yang obyektif tentang masalah ini kepada masyarakat.

4. Hendaknya masyarakat tidak bertindak anarkis dan main hakim sendiri, sebagaimana terjadi di beberapa daerah di Indonesia.

Ditetapkan di : Jakarta

Pada tanggal : 12 Rabi’ul Akhir 1430 H.

08 April 2009

DEWAN PIMPINAN

MAJELIS ULAMA INDONESIA

KOTA ADMINISTRASI JAKARTA UTARA

Ketua Umum, Sekretaris Umum,
TtdQOIMUDDIEN THAMSY

cap ttd Drs. ARIF MUZAKKIR MANNAN, HI

Salafytobat (Pengadu domba Sesama Muslim)

•July 13, 2010 • Leave a Comment

Bismillah,

Sementara beliau-beliau yang lebih berilmu, membantah tulisan-tulisan tulisan-tulisan salafytobat dengan ilmu, dasar, bukti serta dalil-dalil yang kuat, maka pemilik blog ini, hendak menyimpulkan secara garis besar dengan pendekatan yang sangat sederhana yang bersifat logis, bahwa pemilik blog salafytobat hendak mengkaburkan opini pembaca tentang kebenaran. Dengan memohon perlindungan dan pertolongan dari Alloh Azza wa Jalla penulis hendak mengemukakan sedikit unek-uneknya yang menjadi ganjalan-ganjalan dihatinya karena sepak terjang yang dibuat oleh pemilik blog salafytobat.

Tentang Nama Pemilik Blog Salafytobat


Sudah menjadi maklum bahwa, setiap tulisan yang ilmiah haruslah dicantumkan dengan jelas siapa yang menulis tulisan tersebut. Begitu juga dengan blog, pembuat blog yang baik dan mempunyai maksud yang baik dalam pembuatan blog tentunya akan menyertakan identitas diri, yang biasanya akan secara khusus dibuat satu halaman atau minimal namanya.
Akan teapi bagaimana dengan pembuat atau pemilik blog salafytobat? Sudahkah dia mencantumkan identitasnya atau minimal namanya dalam blognya tersebut? Jika tidak, saya akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada para pembaca pengunjung blog salafytobat yang mungkin mengira bahwa apa-apa yang disampaikan dalam blog tersebut benar.
Jika datang kepada anda orang yang tidak anda kenal, kemudian memberitahukan sesuatu hal penting dalam hidup anda, apakah anda serta merta akan mempercayainya tanpa meneliti lebih dulu, padahal jika anda salah dalam hal tersebut maka bukan hanya dunia anda jaminannya tapi akhirat juga? Pertanyaan saya selanjutnya, apakah anda juga akan mempercayai apa-apa yang disampaikan oleh pemilik blog salafytobat padahal anda belum mengenalnya, belum mengetahui kapasitas keilmuannya?

Seorang Penyampai Kebenaran Tidak Akan Melakukan Cara Yang Memalukan Untuk Menyampaikan “Kebenaran”

Kebenaran adalah sesuatu yang baik dan mulia, tentu dia harus disampaikan dengan cara yang baik pula. Lantas bagaimana menurut anda jika ada pihak yang mengatakan sebuah “kebenaran” (itu adalah anggapan dari pemilik blog salafytobat) dengan menggunakan nama pihak lain, yang mana apa yang disampaikan itu bertolak belakang dengan apa yang diyakini oleh pihak yang namanya digunakan tersebut? Itulah yang dilakukan oleh pemilik blog salafytobat.
Berapa waktu yang lalu melalui email yang saya terima dari milis Assunnah, ada beberapa teman yang membagi pengalamannya, bahwa mereka telah mendapat email dari admin Assunnah dan Darussalaf akan tetapi isinya sangat berkebalikan dengan apa yang selama ini disampaikan oleh kedua situs tersebut, pada akhirnya diketahui bahwa email tersebut bukan berasal dari Assunnah dan Darussalaf akan tetapi dari pemilik blog salafytobat yang mana dia telah membuat alamat email palsu yang disamakan atau dibuat mirip dengan email admin Assunah dan Darussalaf.
Pertanyaan saya selanjutnya, metode penyampaian kebenaran macam apa yang digunakan oleh pemilik blog salafytobat ini? Apakah hal ini tidak memalukan? Jika kenyataanya sudah seperti ini, apakah kita akan masih mau mendengar omongannya, membaca tulisannya atau menyempatkan diri membuka blognya? Rasanya semua itu hanya membuang waktu saja.
Sekiranya hanya itu uneg-uneg dari saya, saya hanya manusia biasa banyak kekurangan, tapi bukan berarti saya tidak berhak berpendapatkan? Diatas adalah pendapat saya, silahkan kritik pendapat saya, saya akan berlapang dada menerimanya.
Jika ada yang benar dari tulisan saya diatas, maka itu datangnya adalah dari Alloh Azza wa Jalla, jika terdapat kesalahan itu datangnya.

(Oleh Pemilik Blog / Abu Salman)

http://thesystemseeker.wordpress.com

Murottal Al-Qur’an (Sheikh Mishary Al afasy)

•June 7, 2010 • Leave a Comment

Sheikh Mishary  Al Afasy TV commercial

Sheikh Mshary  Al Afasy, Surat Al Mulk from studio

Sheikh Mishary  Al Afasy, Surat Al Baqarah

Sheikh Mishary  Al Afasy, Surat Ar-Rahman

Sheikh Mishary Al-Afasy–Surat Ghafir

Sheikh Mishary Rashid Alafasy – Surah Al-Mutaffifin

Sheikh Mishary Alafasy, surat Al Qiyamah

Sheikh Mishary Alafasy, Dua after prayer